Cermin Retak Karena Tangan Sendiri

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta

Perspektif.today_Dalam jagat sosial-politik yang kian gaduh, kita menyaksikan satu fenomena yang terus berulang: seseorang mengkritik dengan lantang, namun akhirnya tersandung oleh ucapannya sendiri. Dalam bahasa lama yang begitu dalam maknanya, kita mengenalnya sebagai “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.” Ungkapan ini barangkali terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa memalukan dan mengguncang reputasi.

Kritik yang dilemparkan tanpa kehati-hatian seringkali berbalik arah seperti bumerang. Ia tak hanya melukai orang lain, tetapi juga menyayat diri sendiri. Dalam ruang publik, khususnya politik dan media sosial, kita berkali-kali melihat betapa kritik berubah menjadi jebakan yang diciptakan oleh pengkritik itu sendiri.

Ketika Lidah Menggugat, Tapi Tangan Belum Bersih
Di dunia politik, fenomena ini begitu lazim. Seorang pejabat menyerang praktik korupsi lawan, padahal lembaganya sendiri sedang dalam sorotan. Seorang tokoh mempermasalahkan ketidakefisienan birokrasi, padahal ia bagian dari sistem yang sama.

Contoh yang mencuat adalah pernyataan Amien Rais pada Juli 2020. Saat Presiden Joko Widodo menunjukkan kemarahannya kepada para menteri dalam rapat kabinet yang kemudian dipublikasikan ke publik, Amien Rais menyindir dengan mengatakan, “ini seperti menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.” Sindiran tersebut tepat sasaran. Presiden yang ingin terlihat tegas justru dinilai sedang mengumbar kelemahan internal. Ketegasan berubah menjadi pertunjukan frustrasi. Masyarakat pun membaca, menafsir, dan mengambil jarak.

Ini bukan semata tentang Presiden, melainkan cerminan dari dinamika komunikasi politik yang tidak utuh. Di balik kritik, publik kini menuntut satu hal yang lebih sulit: konsistensi.

Media Sosial dan Terbukanya Aib Sendiri
Dunia maya kini adalah cermin terbesar. Ia tidak pernah lupa. Rekam jejak digital menyimpan segalanya: pernyataan masa lalu, gaya hidup, komentar impulsif, hingga sikap-sikap inkonsisten. Kita telah melihat berkali-kali—selebritas, pejabat, influencer—yang menghakimi gaya hidup orang lain, hanya untuk kemudian terbongkar menjalani gaya hidup yang sama.

Kita hidup di era cancel culture—sebuah sistem sosial informal di mana ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan dibalas dengan pemboikotan, penghinaan, atau pengucilan. Mungkin terlihat kejam, tapi fenomena ini menunjukkan satu hal: publik sudah jenuh pada moral palsu. Masyarakat ingin keteladanan, bukan sekadar kata-kata.

Refleksi dan Etika yang Semakin Terpinggirkan
Peribahasa lama ini sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar: introspeksi. Sebelum menyuarakan kritik, apakah kita sudah memeriksa diri sendiri? Apakah kita benar-benar berdiri di atas pijakan yang bersih?

Etika publik hari ini mengalami disonansi. Banyak orang bicara tentang integritas, namun takut membuka catatan pribadinya. Banyak yang menyerukan perubahan, tapi diam saat diminta mempertanggungjawabkan posisinya.

Dalam kerangka nilai, menepuk air di dulang bukan soal kesalahan teknis atau retorika semata. Ini adalah pengingat moral bahwa setiap kritik membawa risiko, terutama bila tidak diiringi keteladanan. Dan publik kini semakin cerdas membaca itu semua.

Menghindari Luka yang Diciptakan Sendiri
Setiap kata yang kita ucapkan, apalagi di ruang publik, menyimpan bobot moral. Kritik boleh, bahkan perlu. Tapi ia harus lahir dari kesadaran, bukan ego. Ia harus dibangun di atas kejujuran, bukan manipulasi.

Cermin publik tidak bisa kita kendalikan. Tapi kita bisa mengontrol tangan kita agar tidak memecahkannya. Sebab saat cermin itu retak, wajah yang terlihat bukan lagi wajah orang lain—melainkan bayangan retak kita sendiri.

Karena itu, siapa pun kita—politisi, akademisi, tokoh agama, aktivis, atau warga biasa—sudah saatnya menahan diri. Dunia tidak kekurangan suara, tapi dunia butuh lebih banyak kejujuran dalam diam. Sebelum menepuk air dan menciprati muka sendiri, mari belajar duduk sejenak, dan bercermin.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *