Kurban dan Ketimpangan

Pelaksanaan Iduladha dan kurban 2025 memang menunjukkan kemajuan: jumlah hewan naik, pengawasan kualitas hewan lebih baik, dan kurban digital semakin populer. Namun, saat ini masih ada ketimpangan dalam distribusi sosial dan pengelolaan limbah yang belum merata.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)1
Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Ledakan Kurban, Tapi Untuk Siapa?

Gema takbir membelah langit dari ibu kota hingga pelosok desa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, umat Islam di seluruh Indonesia kembali merayakan Iduladha dengan menyembelih ribuan hewan kurban. Namun di balik semaraknya prosesi dan dokumentasi media sosial, Iduladha 2025 masih menyisakan catatan kritis. Meski volume kurban meningkat dan prosedur teknis membaik, problem mendasar seperti ketimpangan distribusi, pengelolaan limbah, serta kecenderungan formalisasi ibadah belum benar-benar terurai.

Di DKI Jakarta, tercatat peningkatan moderat jumlah hewan kurban. Jika pada 2024, misalnya, Jakarta Barat menyembelih 8.508 ekor hewan, maka pada 2025 beberapa wilayah seperti Jakarta Pusat mencatatkan peningkatan 3–5 persen dengan pengawasan lebih ketat. Di wilayah tersebut, 103 petugas medis hewan diterjunkan untuk memeriksa sekitar 6.280 ekor sebelum penyembelihan. Prosedur ini menandakan adanya perbaikan dalam aspek teknis dan kesehatan hewan kurban dibandingkan tahun sebelumnya, yang masih menyisakan keluhan soal tidak adanya pemeriksaan layak di sejumlah titik.

Di Balik Layar Kurban Digital

Fenomena kurban digital juga mengalami lonjakan. Tahun 2024, BAZNAS melaporkan bahwa setara 900 ribu ekor kambing telah disalurkan melalui program “Kurban Berkah.” Tahun 2025, angka partisipasi kurban daring ini meningkat sekitar 18 persen menurut laporan lembaga-lembaga seperti Rumah Zakat dan Baznas. Di satu sisi, kemajuan ini memperluas jangkauan distribusi hingga ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Namun di sisi lain, praktik kurban digital cenderung memisahkan nilai sosial dari ibadah itu sendiri. Orang hanya menyetor uang dan menerima video penyembelihan. Interaksi sosial langsung, sapaan tetangga, atau kebersamaan di halaman masjid perlahan hilang digantikan notifikasi digital dan sertifikat daring.

Daging Tak Sampai ke Lorong-Lorong Kota

Namun, angka yang naik tidak serta-merta menjawab tantangan lama: distribusi daging yang belum sepenuhnya adil. Tahun ini, distribusi daging kurban di wilayah perkotaan masih didominasi oleh warga sekitar masjid dan mereka yang secara sosial lebih dekat dengan panitia. Kelompok marjinal seperti pekerja informal, lansia tanpa dokumen, dan pengungsi perkotaan nyaris tidak terjangkau. Laporan serupa juga muncul pada tahun 2024. Yayasan Dompet Dhuafa bahkan mencatat ketimpangan distribusi di wilayah padat penduduk yang disertai lemahnya pemetaan sosial. Maka tidak heran, meski jumlah hewan kurban naik, perasaan keadilan sosial justru terasa stagnan.

Pisau Tajam, Limbah Berceceran

Hal serupa terjadi pada pengelolaan lingkungan. Kesadaran ekologis dalam pelaksanaan kurban tahun ini masih bersifat sporadis. Beberapa masjid di kota besar seperti Masjid Salman ITB di Bandung atau Jogokariyan di Yogyakarta sudah menjalankan program pengelolaan limbah organik, bahkan mengolah kulit dan tulang menjadi bahan pupuk atau kerajinan. Namun praktik ini belum meluas secara nasional. Sebagian besar tempat pemotongan masih membuang limbah organik secara sembarangan, bahkan di sekitar saluran air. Dibandingkan 2024, perubahan di aspek ini belum signifikan.

Antara Syiar dan Pertunjukan

Lalu bagaimana pemerintah menyikapi ini semua? Secara administratif, pengawasan dari dinas peternakan daerah dan Kementerian Pertanian tampak membaik. Sejumlah daerah mengerahkan lebih banyak dokter hewan dan penyuluh untuk memeriksa kelayakan ternak. Namun untuk distribusi dan tata kelola sosial, tidak banyak regulasi yang mengikat. Kurban tetap didelegasikan penuh kepada panitia lokal, tanpa ada indikator keberhasilan sosial yang harus dipenuhi.

Melihat perbandingan pelaksanaan Iduladha antara 2024 dan 2025, tren peningkatan kuantitatif memang nyata. Jumlah hewan bertambah, partisipasi masyarakat meningkat, dan kurban daring menjangkau lebih luas. Namun secara kualitatif—terutama dari aspek keadilan sosial, nilai interaksi, dan tanggung jawab ekologis—kemajuan masih berjalan tertatih.

Menuju Kurban yang Adil dan Ramah Bumi

Iduladha mestinya menjadi momentum sosial, bukan sekadar seremoni religius. Kurban adalah ibadah yang pada hakikatnya bertujuan mengasah empati, memperkuat solidaritas, dan menyembelih ego, bukan hanya menyembelih hewan. Ketika ibadah ini lebih banyak ditentukan oleh seberapa besar nama kita tercetak di kantong plastik daging atau seberapa mewah dokumentasi video yang dibagikan, kita sedang kehilangan jiwanya.

Kurban 2025 menunjukkan kita sudah cukup baik dalam menyembelih, tapi belum cukup adil dalam membagi. Kita sudah mampu mengumpulkan ribuan hewan, tapi masih gamang dalam memetakan siapa yang berhak menerima. Kita sudah sanggup menayangkan khutbah di layar LED, tapi belum fasih menyapa mereka yang berada di lorong-lorong sempit kota yang tak dijangkau panitia.

Di tengah semua itu, barangkali sudah saatnya pemerintah, ormas Islam, dan masyarakat sipil duduk satu meja untuk menyusun indikator keberhasilan kurban yang baru. Bukan hanya jumlah hewan, tapi juga siapa yang menerima, bagaimana distribusinya, dan bagaimana ibadah ini menjaga bumi.

Karena sejatinya, nilai kurban tak hanya diukur dari jumlah pisau yang diasah, tapi juga dari keberanian menyentuh yang tersisih dan mengajak yang terpinggirkan ikut merayakan.

***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *