IELTS dan TOEFL: Dua Jembatan Menuju Dunia yang Sama

Perspektif.today_Dalam dunia akademik internasional, cerdas saja tak cukup. Fasih berbahasa Inggris sering kali menjadi syarat pertama sebelum seseorang boleh memasuki ruang kelas kampus-kampus bergengsi di luar negeri. Maka muncullah dua nama yang menjadi penjaga gerbang dunia akademik global: IELTS dan TOEFL. Keduanya mengukur kemampuan berbahasa Inggris, tapi dengan pendekatan, budaya, dan cara pandang yang berbeda.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)
Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

IELTS lahir dari kolaborasi tiga lembaga besar: British Council, IDP Australia, dan Cambridge English. Ia membawa napas Inggris Raya, dengan aksen, konteks, dan gaya komunikasi yang khas. TOEFL, di sisi lain, adalah produk Amerika. Dikelola oleh Educational Testing Service (ETS), TOEFL sejak lama menjadi standar masuk universitas-universitas di Negeri Paman Sam, dan perlahan menyebar ke seluruh dunia. Keduanya bukan tes bahasa biasa. Mereka adalah alat ukur kesiapan untuk hidup dan berpikir dalam lingkungan akademik berbahasa Inggris.

Struktur keduanya mirip: sama-sama menguji keterampilan listening, reading, writing, dan speaking. Tapi cara mereka mengujinya memperlihatkan perbedaan yang mencerminkan karakter dua bangsa besar. Dalam IELTS, peserta berbicara langsung dengan penguji dalam sesi wawancara yang terasa seperti percakapan sehari-hari. Suasana bisa cair, ekspresif, dan sangat bergantung pada interaksi antarmanusia. TOEFL, sebaliknya, membuat peserta berbicara ke dalam mikrofon, tanpa tatap muka. Prosesnya terstruktur, lebih steril, dan terasa seperti berbicara dengan mesin yang menilai berdasarkan pola suara dan struktur kalimat.

Dalam soal membaca, IELTS menyodorkan teks dari berbagai sumber: artikel populer, opini media, hingga riset ilmiah ringan. TOEFL lebih akademik: teks panjang, berbasis kuliah, penuh istilah teknis dan struktur yang meniru buku ajar universitas. Soal-soalnya terasa lebih kaku, tapi juga lebih fokus pada pemahaman konsep mendalam. Soal menulis dalam IELTS sering dimulai dari grafik, tabel, atau tren visual yang harus dijelaskan, lalu diikuti esai argumentatif. TOEFL, sementara itu, meminta peserta merespons teks dan audio, menyarikan informasi, lalu menulis esai dengan logika deduktif khas esai kampus Amerika.

Namun perbedaan paling mencolok terasa dalam atmosfer keseluruhan. IELTS terasa lebih manusiawi: ada interaksi, ada ruang improvisasi, dan lebih dekat pada situasi kehidupan nyata. TOEFL memberi kesan sistematis, akademik, dan netral, cocok bagi mereka yang menyukai format ujian yang rapi dan ketat. Bahkan aksen pun ikut berperan. IELTS lebih kaya aksen—dari Britania, Australia, hingga Selandia Baru—sementara TOEFL nyaris seluruhnya menggunakan aksen Amerika, sesuatu yang bisa jadi kenyamanan bagi sebagian, tapi menjadi tantangan bagi yang lain.

Dari sisi skoring, IELTS menggunakan skala 1 hingga 9, baik untuk tiap komponen maupun skor rata-rata keseluruhan. Skor 6.5 atau 7 sudah dianggap layak untuk program pascasarjana. TOEFL menggunakan angka absolut, dengan total maksimum 120 poin, dan skor 80 hingga 100 dianggap cukup untuk melamar ke banyak kampus ternama. Keduanya memiliki masa berlaku dua tahun, biaya ujian yang relatif setara, dan kini tersedia dalam format berbasis komputer.

Di tingkat global, IELTS banyak digunakan di Inggris, Australia, Selandia Baru, dan juga Eropa. TOEFL mendominasi di Amerika Serikat dan Kanada. Namun seiring globalisasi pendidikan, hampir semua universitas kini menerima keduanya. Bahkan LPDP, program beasiswa unggulan dalam negeri, pun telah membuka ruang bagi peserta untuk memilih salah satu.

Maka pada akhirnya, memilih antara IELTS dan TOEFL bukan soal mana yang lebih baik, tapi mana yang lebih sesuai dengan karakter Anda. Jika Anda lebih nyaman berbicara dengan orang langsung, terbiasa dengan gaya bahasa Inggris Britania, dan senang menjelaskan tren visual secara spontan, IELTS mungkin pilihan terbaik. Tapi jika Anda suka sistem ujian yang formal, senang membaca teks akademik, dan lebih nyaman menjawab soal dengan pola tetap, TOEFL bisa jadi jembatan Anda menuju kampus impian.

Dua tes ini, bagaimanapun, adalah wajah dari dunia yang makin terkoneksi. Mereka bukan hanya soal bahasa, tapi tentang kesiapan mental, konsistensi berpikir, dan kemampuan menavigasi lingkungan akademik lintas budaya. Di ruang-ruang ujian itu, Anda tak hanya diuji tentang kata kerja dan preposisi, tapi tentang daya tahan, ketenangan, dan cara menyampaikan gagasan secara terstruktur.

Dan di ujung hari, baik IELTS maupun TOEFL adalah pengingat: bahwa belajar bukan hanya soal apa yang Anda tahu, tapi bagaimana Anda menyampaikan pengetahuan itu kepada dunia.


Bahasa adalah jembatan. Dan dalam dunia yang makin terhubung, memilih cara menyeberang adalah langkah pertama yang menentukan seberapa jauh Anda akan melangkah.
*
Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *