Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Perspektif.today_Pernahkah Anda merasa sebuah produk terus-menerus “menghantui” laman media sosial Anda hanya karena pernah mencarinya sekali? Atau melihat deretan testimoni positif muncul beruntun dalam kolom komentar sebuah merek tertentu? Boleh jadi, itu bukan kebetulan. Itu suasana. Suasana yang diproduksi oleh algoritma.
Di era digital, transaksi jual-beli tak lagi semata soal harga atau kebutuhan. Ia berlangsung di medan baru yang diatur oleh logika tak kasatmata: kecerdasan buatan, rekayasa interaksi, dan personalisasi konten. Dalam dunia ini, suasana dibentuk bukan oleh manusia semata, melainkan oleh mesin.
“Orang tidak belanja karena butuh, tapi karena suasananya mendukung untuk itu,” kata Wahyu Dhyatmika, CEO Tempo Digital. Ia menyebut suasana digital sebagai “emosi yang dimodelkan”—yakni kondisi psikologis yang dikurasi oleh sistem untuk mendorong tindakan tertentu, seperti klik, simpan, atau beli.
Di balik aplikasi belanja dan media sosial, algoritma bekerja dengan logika: semakin lama Anda terpaku pada satu produk atau merek, semakin tinggi peluang Anda melakukan transaksi. Maka suasana digital diciptakan untuk membuat Anda tinggal lebih lama—dengan warna, desain, suara notifikasi, bahkan dengan “fakta sosial” seperti jumlah pembeli atau rating bintang lima.

Algoritma, dalam hal ini, bukan sekadar teknologi. Ia adalah pengatur rasa. Ia membuat sebuah produk terlihat “laku”, walaupun penjualnya masih baru. Ia mengarahkan mata kita pada diskon yang sebenarnya hanya ilusi dari harga awal yang dinaikkan. Dan ia bisa menenggelamkan produk kompetitor hanya karena tidak membayar promosi.
“Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia tidak lagi sekadar pasar. Mereka adalah produser suasana,” kata Novi Kurnia, pengajar komunikasi digital di UGM. “Dengan sistem algoritmik, mereka bisa menciptakan perasaan butuh, panik, atau eksklusif, tanpa ada interaksi manusiawi sama sekali.”
Dalam konteks jual-beli pengaruh, suasana digital menjadi senjata dua sisi. Di satu sisi, ia memberi peluang bagi siapa saja untuk “naik kelas”. Seorang penjual hijab rumahan di Banjarnegara bisa bersaing dengan merek besar asal Jakarta jika algoritma memihak padanya. Di sisi lain, algoritma juga menciptakan ketimpangan. Penjual yang tidak paham cara “menyenangkan” sistem akan tenggelam di antara jutaan produk.
Tidak heran jika kini pelatihan UMKM tidak lagi hanya soal pembukuan atau produksi, tapi juga soal “mengakali algoritma”: kapan waktu unggah yang optimal, berapa lama video harus diputar, atau kata kunci apa yang harus dipakai agar tampil di pencarian teratas.
Namun suasana digital bukan hanya urusan mesin dan teknik. Ia juga membawa konsekuensi sosial. Dalam banyak kasus, testimoni dan rating bisa dibeli. Endorsement bisa direkayasa. Popularitas bisa dibentuk dalam semalam. Suasana yang seolah alami, sesungguhnya adalah hasil dari manipulasi sistematis.
Fenomena ini paling kentara saat momen-momen kampanye politik, peluncuran produk besar, atau Hari Belanja Nasional. Di balik euforia diskon dan tagar viral, ada strategi suasana yang dimainkan: membuat calon pembeli merasa tertinggal jika tidak ikut membeli. Fear of Missing Out—FOMO—adalah mesin utama dari suasana digital hari ini.
Sebagian pelaku usaha kecil mulai menyadari hal ini. Mereka tidak hanya menjual produk, tapi juga membentuk suasana: dari cara mereka membalas chat, memilih model dalam foto produk, hingga nada dalam deskripsi. “Kami bikin akun Instagram yang bisa ngajak ngobrol,” kata Irma, pelaku usaha makanan beku dari Tangerang. “Supaya pelanggan merasa nyaman, seolah berteman.”
Namun suasana yang diproduksi algoritma juga rentan. Ia bisa berubah cepat. Perubahan kebijakan di TikTok Shop, misalnya, sempat mengguncang ribuan penjual yang menggantungkan nasib pada fitur live shopping. Dalam semalam, algoritma tak lagi berpihak, dan suasana pun runtuh.
Di sinilah pentingnya kesadaran kritis digital—bagi pelaku usaha maupun konsumen. Algoritma bukan musuh, tapi juga bukan sekutu abadi. Ia bekerja atas dasar logika profit, bukan keadilan sosial. Maka belajar memahami cara kerjanya menjadi bentuk literasi baru: literasi suasana digital.
Karena pada akhirnya, dalam dunia yang serba terkoneksi ini, transaksi tak lagi dimulai di etalase. Ia dimulai di benak. Dan benak kita, perlahan tapi pasti, sedang dibentuk oleh suasana yang diatur oleh sistem yang tak kita kenal sepenuhnya.
Penulis adalah: Dosen Universitas Bung Hatta
