Perspektif.today_Pekan terakhir Agustus 2025 akan tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai periode yang penuh gejolak. Di tengah riuhnya demonstrasi yang melanda Jakarta dan berbagai kota besar lainnya, rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut menjadi sasaran amuk massa. Namun, kejadian ini bukanlah sekadar luapan emosi dari kerumunan yang marah. Lebih dari itu, peristiwa ini terkesan terencana dengan matang, terkoordinasi secara sistematis, dan dieksekusi oleh individu-individu yang terlatih. Mereka melakukan penjarahan, meninggalkan kerusakan yang signifikan, serta merampas barang-barang pribadi milik salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di Indonesia.
Dalam sebuah unggahan panjang lebar di akun Facebook pribadinya pada hari Rabu, 3 September 2025, Sri Mulyani mengungkapkan perasaannya dengan nada getir, campuran antara kemarahan dan luka yang mendalam. Ia menyatakan bahwa kepastian hukum di Indonesia telah “lenyap” setelah rumahnya menjadi target penjarahan. Namun, yang paling membuatnya terpukul adalah hilangnya sebuah lukisan yang ia ciptakan sendiri. Lukisan sederhana berjudul “Bunga” tersebut, yang menurut Sri Mulyani memiliki makna yang sangat mendalam, raib bersama dengan rasa aman yang selama ini ia junjung tinggi.
“Lukisan Bunga itu telah raib lenyap seperti lenyapnya rasa aman, kepastian hukum, dan rasa perikemanusiaan yang adil dan beradab di bumi Indonesia,” tulisnya dengan nada penuh kekecewaan. Kalimat tersebut langsung memicu reaksi dari ribuan pengguna Facebook, yang memberikan tanda suka, komentar dukungan, serta ungkapan simpati.
Namun, Sri Mulyani tidak hanya terpaku pada luka pribadi yang ia alami. Ia menekankan bahwa kehilangan yang menimpanya tidak sebanding dengan tragedi yang dialami oleh warga sipil. Dalam kerusuhan yang terjadi pada akhir Agustus, sejumlah demonstran dan warga sipil kehilangan nyawa. Seorang pengemudi ojek daring tewas akibat terlindas kendaraan taktis milik Brimob. Selain itu, belasan orang meninggal dunia dalam kebakaran yang melanda Gedung DPRD Sulawesi Selatan di Makassar.
“Korban yang jauh lebih berharga dibanding sekadar lukisan saya adalah korban jiwa manusia yang tak akan tergantikan,” tulisnya dengan nada prihatin. Kemudian, ia menyebutkan satu per satu nama-nama mereka yang menjadi korban: Affan Kurniawan, Muhammad Akbar Basri, Sarinawati, Syaiful Akbar, Rheza Sendy Pratama, Rusdamdiansyah, Sumari. Nama-nama yang mungkin terdengar asing di telinga publik, namun masing-masing meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. “Tragedi kelam Indonesia,” imbuhnya dengan nada sedih.
Peristiwa penjarahan rumah seorang pejabat tinggi negara ini semakin menambah daftar panjang kegamangan publik terhadap arah perkembangan bangsa. Bagi Sri Mulyani, yang selama ini dikenal sebagai sosok yang rasional dan dingin dalam mengelola angka-angka keuangan negara, momen ini seolah membuka sisi lain dari dirinya: kerentanan sebagai seorang manusia. Ia, yang seringkali tampil kuat dan tegar dalam menghadapi kritik pedas terkait kebijakan fiskal, kali ini dengan terbuka mengungkapkan kesedihan personal yang ia rasakan.
Lukisan yang hilang mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi Sri Mulyani, “Bunga” bukanlah sekadar kanvas dengan goresan cat. Lukisan itu adalah hasil karya tangannya sendiri, sebuah refleksi dari batinnya, serta simbol dari ketekunan dan dedikasi. Kehilangan lukisan tersebut serupa dengan perasaan kosong yang menyergap siapa pun yang rumahnya menjadi sasaran penjarahan: kehilangan ruang aman, tempat di mana seseorang merasa terlindungi dan nyaman. Dalam narasi yang ia bangun, hilangnya lukisan itu menjelma menjadi sebuah metafora tentang lenyapnya rasa kepastian hukum yang seharusnya menjadi pilar utama dalam sebuah negara.
“Absurd,” tulisnya singkat, menggambarkan perasaannya bahwa hukum, akal sehat, dan kepantasan telah runtuh. Kata itu seakan menohok dan menyadarkan kita akan absurditas sebuah negara ketika kekerasan menjadi bahasa utama yang digunakan di jalanan.
Pada pekan itu, Jakarta dan beberapa kota besar lainnya memang dilanda demonstrasi besar-besaran. Gelombang protes yang awalnya bertujuan untuk menuntut transparansi dari pemerintah berubah menjadi kerusuhan yang merusak. Api berkobar di Makassar, gas air mata memenuhi jalanan di Jakarta, dan kabar tentang kematian warga sipil menyebar dengan cepat melalui media sosial.
Di balik layar, banyak pihak menduga bahwa kerusuhan tersebut bukanlah kejadian yang spontan. Narasi tentang aksi yang “terkoordinasi” beredar dengan kencang, baik dari pihak aparat keamanan maupun dari pengamat independen. Bagi warga biasa, yang tertinggal adalah rasa takut dan khawatir: bahwa rumah, toko, atau bahkan nyawa mereka bisa sewaktu-waktu menjadi taruhan dalam situasi yang tidak terkendali.
Dalam konteks tersebut, ungkapan Sri Mulyani terasa sangat relevan dan menyentuh hati. Ia tidak hanya berbicara sebagai seorang pejabat negara yang memiliki tanggung jawab besar, tetapi juga sebagai seorang ibu, seorang istri, dan seorang perempuan yang rumah pribadinya diterobos oleh para perusuh. Suara personal seperti ini jarang muncul dari seorang pejabat setingkat menteri, yang biasanya terbungkus dalam bahasa teknokratis yang kaku.
Namun, Sri Mulyani juga menolak untuk terus larut dalam kesedihan dan keputusasaan. Ia menutup tulisannya dengan sebuah ajakan yang bernada patriotik dan membangkitkan semangat nasionalisme. “Indonesia adalah rumah kita bersama. Jangan biarkan dan jangan menyerah pada kekuatan yang merusak itu. Jaga dan terus perbaiki Indonesia bersama, tanpa lelah, tanpa amarah, tanpa keluh kesah serta tanpa putus asa,” ujarnya dengan nada penuh harapan.
Ajakan tersebut mungkin terdengar klise bagi sebagian orang, tetapi di tengah situasi yang penuh dengan amarah dan kebencian, suara yang menyejukkan dan mengingatkan akan pentingnya persatuan justru terasa sangat penting. Ia mengingatkan kita bahwa dalam setiap kerusuhan, tidak ada pihak yang benar-benar menang. Semua pihak, mulai dari pengunjuk rasa hingga aparat keamanan, sama-sama mengalami kerugian: kehilangan rasa percaya, kehilangan harga diri, serta kehilangan saudara sebangsa yang seharusnya saling menjaga dan melindungi.
Bagi sebagian orang, unggahan Sri Mulyani mungkin hanya dianggap sebagai sekadar curahan hati seorang pejabat yang sedang mengalami musibah. Namun, di balik itu, ia menyodorkan sebuah cermin yang memantulkan kondisi bangsa yang sedang mengalami krisis. Ketika seorang pejabat tinggi pun tidak lagi merasa aman di rumahnya sendiri, bagaimana dengan rakyat kebanyakan yang hidup dalam kondisi yang lebih rentan? Ketika hukum dianggap telah hilang, siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa keadilan masih bisa ditegakkan di negeri ini?
Kisah tentang lukisan “Bunga” yang lenyap mungkin hanya akan tercatat sebagai detail kecil dari sebuah kerusuhan besar yang mengguncang bangsa. Namun, di dalamnya terkandung sebuah pelajaran yang sangat humanis: bahwa benda, betapapun bernilai harganya, tidak sebanding dengan nyawa manusia. Dan bahwa luka personal yang dialami oleh seseorang bisa menjadi pintu masuk untuk memahami luka kolektif yang dialami oleh seluruh bangsa.
Di akhir tulisannya, Sri Mulyani berusaha untuk merangkai kembali harapan yang sempat pupus. Harapan yang mungkin terasa rapuh dan sulit untuk diwujudkan, namun tetap perlu dijaga dan dipelihara. Sebab, seperti bunga yang mampu tumbuh di tanah yang gersang, selalu ada kemungkinan bagi negeri ini untuk mekar kembali dan mencapai kejayaannya, jika saja kita tidak pernah lelah untuk merawatnya dengan penuh cinta dan dedikasi.(*)
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
