Miris, Jadi Monyet Putih Usai Mencari Pesugihan di Sendang Asih Klaten

Perspektiftoday_Angin berhembus menggugurkan daun-daun bambu kering yang tumbuh di sekitar Sendang Asih.

Jajaran rumpun pohon bambu berbagai jenis memang mengelilingi lokasi sendang yang berada di Desa Sekaran, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini. Hal ini membuat suasana di sekitar sendang terasa begitu mistis.

Karena rimbunnya rumpun bambu yang tumbuh, hampir menutupi cahaya matahari yang masuk, sehingga suasana terlihat cukup gelap.

Namun kondisi seperti ini agaknya justru diharapkan oleh orang-orang yang datang ke sendang ini.

Sebab selain dimanfaatkan penduduk di sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan air minum, banyak warga dari luar desa yang datang untuk melakukan ritual di sendang ini. Apalagi tempat ini sudah banyak dikenal, sebagai salah satu tempat ritual pesugihan yang ampuh.

Pesugihan ketek (monyet) putih atau ada pula yang menyebut pesugihan raja kera, memang banyak disebut bisa didapatkan di tempat ini.

Karena itulah pada hari-hari tertentu, akan terlihat beberapa orang yang melakukan ritual khusus di tepi sendang itu.

Bagi yang belum tahu atau baru pertama kali datang ke tempat ini, mungkin akan dibuat heran dengan kondisi di sekitar sendnag.

Bagaimana mungkin di tempat tersebut ada jenis pesugihan raja kera, padahal di sekitarnya hampir tidak terlihat seekorpun monyet bergelantungan.

Melobi Raja Kera

Agus Sugiyono, spiritualis yang kerap mengantarkan para pelaku ritual datang ke sendang ini mengatakan bahwa pada dasarnya hutan bambu di sekitar Sendang Asih didiami ribuan ekor monyet gaib, yang dipimpin oleh seekor kera putih yang menjadi rajanya.

Dan sang raja kera inilah yang kemudian menjadi buruan para pencari pesugihan, untuk dimintai bantuan agar bisa mendatangkan kekayaan berlimpah.

“Monyet-monyet itu hanya akan muncul saat ada pencari pesugihan yang lelakunya diterima. Sehingga hal itu bisa dijadikan patokan tentang keberhasilan ritual seseorang. Sebab bila dia berhasil, maka sang raja kera yang berwarna putih akan ikut dengan pencari pesugihan itu,” jelas Agus seperti dikutip dari Majalah LIBERTY edisi Februari 2015.

Ribuan monyet akan muncul secara misterius bergelantungan di pohon-pohon yang ada di sekitar sendnag. Bahkan banyak pula di anatara mereka yang sampai masuk ke perkampungan dan merayap di atap-atap rumah warga.

Agus yang rumahnya tidak jauh dari lokasi sendang menyebut bahwa warga Desa Sekaran sudah terbiasa dengan kemunculan ribuan monyet yang secara misterius tersebut.

Dan mereka tidak merasa terganggu, karena monyet-monyet itu memang tidak mengganggu.

Menurut Agus, kemunculan monyet-monyet itu biasanya tidak akan lama. Biasanya mereka hanya akan menampakkan diri selama beberapa jam saja. Selanjutnya sedikit demi sedikit jumlah mereka berkurang dan akhirnya habis total.

Entah ke mana perginya monyet-monyet itu. Namun banyak yang meyakini kalau mereka sebenarnya tidak pergi, melainkan masuk kembali ke dunianya di alam gaib.

Sehingga tidak bisa terlihat dengan pandangan mata biasa. Dan hanya orang-orang tertentu, termasuk pencari pesugihan yang berhasil saja yang bisa melihatnya.

“Kemunculan monyet-monyet itu kan sebenarnya hanya wujud dari upaya mereka menunjukkan eksistensinya. Hal ini juga bisa menjadi peringatan bagi orang-orang di sekitar sendang untuk tidak bertindak macam-macam, yang bisa merusak lingkungan di sekitar sendang itu. Sebab bukan tidak mungkin monyet-monyet itu akan membalasnya,” ungkap Agus.

Syarat Khusus

Salah seorang pelaku pesugihan yang pernah berhasil sebut saja namanya Wati, seorang distributor beras asal Delanggu, Klaten. Yang sebelumnya hanya seorang pedagang beras rumahan. Kini setelah berhasil mendapatkan pesugihan raja kera, usaha Wati berkembang dengan pesat.

Bahkan dia juga memiliki sebuah toko beras di Jakarta. Yang membuat kondisi perekonomiannya berubah dengan cepat.

Agus menceritakan bahwa Wati adalah sosok pencari pesugihan yang benar-benar serius. Sebab demi mendapatkan apa yang diharapkannya, dia rela menginap di rumah Agus selama tiga hari. Tujuannya supaya dia bisa lebih mudah saat akan menjalankan ritual.

“Saat itu dia menjalankan puasa mutih tiga hari berturut-turut. Supaya ritualnya bisa sempurna, dia minta ijin menginap di rumah saya. Dan tepat pada hari ketiga, tepatnya tengah malam, dia datang ke sendang lalu mandi. Usai mandi, dia melakukan meditasi,” kenang Agus.

Saat meditasi itulah menurut Agus tiba-tiba terdengar seperti ada suara hembusan angin kencang. Lalu disusul dengan suara monyet yang saling bersahutan, berisik sekali.

“Saya sempat kaget. Dan karena khawatir terjadi sesuatu, sayapun langsung datang untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata begitu sampai di dekat sendang, terlihat orang itu sudah berjalan meninggalkan sendang sambil memanggul seekor monyet putih di atas punggungnya,” ungkap pria yang gemar menjalankan ritual di berbagai tempat keramat ini.

Keberhasilan menaklukkan si raja kera inilah yang kemudian membuat Wati menjadi orang yang kaya raya.

Sebab konon raja kera ini bisa memerintahkan seluruh pengikutnya untuk membantu Wati pendapatkan kekayaan, baik itu dengan cara mencuri atau yang lainnya.

Apalagi dengan sifat gaib yang dimilikinya, akan sangat mudah bagi monyet-monyet pengikut kera putih itu, untuk mendapatkan apa yang diperintah tuannya.

Agus sendiri tidak tahu perjanjian apa yang dibuat antara Wati dengan si raja kera. Sebab biasanya antara satu orang dengan yang lainnya akan memiliki syarat yang berbeda, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.

Tapi khusus untuk Wati, sejauh ini yang terlihat, pada tiap malam Jumat dia selalu menyediakan secangkir kopi pahit, bunga, hioswa dan secuil intip atau nasi kering yang digoreng.

Sesaji itu biasanya diletakkan Wati di atas sebuah meja yang berada di bagian depan toko miliknya.

Konon, sesaji itulah yang diminta si raja kera sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepadanya. Sehingga bisa membuat toko miliknya laris, dan bisnis pengiriman berasnya maju pesat.

Namun demikian, menurut Agus tetap ada syarat utama yang harus dipenuhi Wati, sebagai konsekuensi dari keputusannya mencari pesugihan.

Yang biasanya adalah kesediaannya dan anak turunnya untuk dijadikan tumbal. Dan dalam hal ini menjadi monyet gaib pengikut raja kera putih.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *