
Perspektiftiftoday_Pembakar Al Quran di Swedia, Rasmus Paludan berisiko bernasib sama dengan Salman Rushdie yang diburu banyak negara Islam setelah menghina Al Quran sebagai ‘ayat-ayat setan’ dalam buku The Satanic Verses.
Paludan dikenal sebagai pendiri partai garis keras Swedia, Starm Kurs pada 2017, dan seorang warga Denmark yang dibuang dari negaranya karena dikenal sebagai rasis dan pembenci Islam.
Bahkan, dilansir Kalbar-Terkini.com dari Arab News dan The Local, Paludan menyerukan kepada semua kader partainya untuk menggelar aksi demo lebih besar untuk membakar Al Quran.
Pada Jumat, 15 April 2022, ketika Paludan berbagi foto dengan 4.700 pengikut Instagram-nya yang memegang sebuah buku yang tampak dibakar di sudut-sudutnya. Judulnya berbunyi: ‘Al-Qur’an Terbakar di Rinkeby’.
Karena perbuatan sekaligus rencana biadab itu, kota-kota yang dihuni umat Muslim di Swedia, hingga Selasa, 19 April 2022 malam, masih diamuk massa yang diduga umat minoritas itu.
Hanya saja, pihak kepolisian Swedia menuding bahwa sebagian besar pelaku kerusuhanadalah para penjahat yang mencari ‘kesempatan dalam kesempitan’.
Adapun Paludan kemungkinan akan bernasib sama dengan Rushdie, bisa saja terjadi. Penulis buku asal Inggris berdarah India, kelahiran 19 Juni 1947 ini, telah wafat, tapi kelakuannya telah menginspirasi Paludan.
Rushdie, yang diberi gelar bangsawan ‘Sir’ dari Kerajaan Inggris, melewati hari-hari terakhir kehidupannya hingga wafat dengan penuh ketakutan.
Penulis kelahiran India ini, menrutu Wikipedia, adalah seorang pengarang penting di akhir abad ke-20, yang tulisnanya sarat akan campuran unik antara sejarah dan realisme magis.
Sebanyak 13 buku karangannya telah memenangi sejumlah penghargaan, termasuk Booker Prize untuk Midnight’s Children pada 1981, dan Booker of Bookers untuk novelnya pada 1993.
Rushide kemudian bersembunyi setelah pemimpin Iran, Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa pada 1989, yang memerintahkan kaum Muslim untuk membunuhnya karena menghina Islam dalam buku The Satanic Verses.
Dalam bukunya, Rushdie menciptakan Allah sebagai tokoh yang memiliki hubungan dengan tiga dewi berhala, Lātta, Manat dan Uzza.
Banyak negara melarang impor buku ini, seperti India, Afrika Selatan dan Indonesia. Negara Venezuela, Jepang, Bulgaria, dan Polandia, membatasi serta mengkriminalisasi penjualan buku ini.
Pemimpin Agung Iran saat itu berpidato di radio tentang Rushdie, dan menyatakan bahwa Rushdie telah keluar dari Islam (murtadin), dan diberi fatwa mati.
Pada 1989, Pemerintah Inggris mulai melindungi Rushdie. Pada 7 Maret 1989, Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris karena masalah ini.
Pada 1990, Rushdie menulis esai, mencoba membuktikan bahwa dia masih beriman pada Islam.
Istri pertamanya adalah Clarissa Luard, dengan masa pernikahan 1976-1987, yang melahirkan seorang anak bernama Zafar Rushdie.
Istri keduanya adalah seorang novelis AS bernama Marianne Wiggins, yang menikah pada 1988, dan cerai pada 1993.
Istri ketiganya adalah Elizabeth West (1997-2004) dengan seorang anak bernama Milan Rushdie.
Sejak 2004, Rushdie menikahi aktris dan model India Padma Lakshmi, kemudian bercerai pada pertengahan 2007.
Pada 16 Juni 2007, Salman Rushdie memperoleh anugerah gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II. Agen ganda KGB, Rushdie menerima gelar ksatria yang menandai perayaan ulang tahun Ratu Elizabeth II.
Iran mengecam keputusan Inggris untuk menganugerahi gelar ksatria kepadanya, dan menyatakan bahwa penganugerahan itu menghina dunia Islam.
Penganugerahan gelar keksatriaan (Knighthhood) telah memicu pertengkaran diplomatik dengan sejumlah negara.
Menurut kantor berita IRNA, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil Duta Besar Geoffrey Adams dan menyatakan bahwa keputusan pemberian gelar merupakan ‘langkah provokatif’, yang membuat berang kaum Muslim.
Pakistan juga memanggil Komisioner Tinggi Inggris Robert Brinkley. Sekitar 20 aktivis Partai Aliansi Islam Malaysia (PAS) berdemonstrasi di depan Gedung Komisi Tinggi Inggris di Kuala Lumpur.
Karya-karya Rushdie bertema fiksi sejarah, terutama berkaitan dengan banyak koneksi, gangguan, dan migrasi antara peradaban Timur dan Barat, dengan banyak fiksinya berlatar belakang kisah dari anak benua, India.
Novel keduanya, Midnight’s Children (1981), memenangkan Booker Prize pada 1981, dan dianggap sebagai ‘novel terbaik dari semua pemenang’ pada dua kesempatan, skelaigus menandai ulang tahun ke-25 dan ke-40 dari hadiah tersebut.
Novel keempatnya, The Satanic Verses (1988), menjadi subyek kontroversi besar, memicu protes dari umat Islam di beberapa negara.
Ancaman pembunuhan dibuat terhadap Rushdie, termasuk fatwa mati dari Imam Khomeini, Pemimpin Tertinggi Iran pada 14 Februari 1989.
Pemerintah Inggris menempatkan Rushdie di bawah perlindungan polisi. Pada 1983, Rushdie terpilih sebagai anggota Royal Society of Literature, organisasi sastra senior Inggris.
Rushdie diangkat menjadi Commandeur de l’Ordre des Arts et des Lettres dari Prancis pada Januari 1999.
Pada Juni 2007, Ratu Elizabeth II memberinya gelar kebangsawanan atas jasanya pada sastra.
Pada 2008, Majalah The Times menempatkannya di urutan ketiga belas dalam daftar 50 penulis Inggris terbesar sejak 1945.
Penerbitan The Satanic Verses pada September 1988 menyebabkan kontroversi langsung di dunia Islam karena apa yang dilihat oleh beberapa orang sebagai penggambaran Nabi Muhammad SAW yang tidak sopan.
Dilansir dari Wikipedia, judulnya mengacu pada tradisi Muslim yang disengketakan yang terkait dalam buku tersebut.
Menurut tradisi ini, Muhammad (Mahound dalam kitab tersebut) menambahkan ayat-ayat (Ayah) ke dalam Al-Qur’an dengan menerima tiga dewi pagan Arab yang biasa disembah di Mekah sebagai makhluk ilahi.
Menurut legenda yang ditulis dalam buku Rushdie itu, Muhammad kemudian mencabut ayat-ayat itu, dengan mengatakan bahwa iblis menggodanya untuk mengucapkan kalimat-kalimat ini, untuk menenangkan orang-orang Mekah (karenanya ayat-ayat ‘Setan’).
Namun, masih dari Wikipedia, narator mengungkapkan kepada pembaca bahwa ayat-ayat yang diperdebatkan ini sebenarnya dari mulut Malaikat Jibril.
Buku itu dilarang di banyak negara dengan komunitas Muslim yang besar (total 13 negara: Iran, India, Bangladesh, Sudan, Afrika Selatan, Sri Lanka, Kenya, Thailand, Tanzania, Indonesia, Singapura, Venezuela, dan Pakistan).
Menanggapi protes tersebut, Rushdie menerbitkan sebuah kolom di The Observer pada 22 Januari 1989, yang menyebut Muhammad sebagai ‘salah satu jenius besar dalam sejarah dunia’.
Tetapi Rushdie mencatat bahwa doktrin Islam menganggap Muhammad sebagai manusia, dan sama sekali tidak sempurna.
Menurutnya, novel itu bukan ‘novel anti-agama’, namun sebagai upaya untuk menulis tentang migrasi, tekanan dan transformasinya.
Pada 14 Februari 1989—Hari Valentine, dan juga hari pemakaman teman dekatnya Bruce Chatwin—fatwa yang memerintahkan eksekusi Rushdie diumumkan di Radio Tehran oleh Khomeini.
Khomeni menyebut buku itu menghujat Islam. Bab IV dari buku ini menggambarkan karakter seorang imam di pengasingan, yang kembali untuk menghasut pemberontakan dari orang-orang di negaranya, tanpa memperhatikan keselamatan mereka.
Sebuah hadiah ditawarkan untuk kematian Rushdie, dan dia terpaksa hidup di bawah perlindungan polisi selama beberapa tahun.
Penerbitan buku dan fatwa tersebut memicu kekerasan di seluruh dunia, dengan toko-toko buku dibom. Komunitas Muslim di beberapa negara di Barat mengadakan rapat umum, membakar salinan buku tersebut.
Maish dari Wikipedia, beberapa orang yang terkait dengan penerjemahan atau penerbitan buku, telah diserang, terluka parah, bahkan dibunuh.
Lebih banyak lagi orang tewas dalam kerusuhan di beberapa negara.
Terlepas dari bahaya yang ditimbulkan oleh fatwa tersebut, Rushdie tampil di depan umum di Stadion Wembley London pada 11 Agustus 1993 dalam sebuah konser oleh U2.
Pada 2010, bassis U2 Adam Clayton mengingat bahwa ‘vokalis Bono telah memanggil Salman Rushdie dari panggung setiap malam di tur Zoo TV.
“Ketika kami bermain di Wembley, Salman muncul secara langsung, dan stadion meledak. Anda [bisa] tahu dari Wajah [drummer] Larry Mullen Jr. yang tidak kami duga. Salman adalah pengunjung tetap setelah itu,” katanya.
“Dia memiliki kartu pas di belakang panggung dan dia menggunakannya sesering mungkin. Untuk pria yang seharusnya masuk bersembunyi, sangat mudah untuk melihatnya di sekitar tempat itu,” tambahnya.
Pada 24 September 1998, sebagai prasyarat untuk pemulihan hubungan diplomatik dengan Inggris, Pemerintah Iran, yang saat itu dipimpin oleh Mohammad Khatami, memberikan komitmen publik bahwa ‘tidak akan mendukung atau menghalangi operasi pembunuhan di Rushdie’.
Kelompok garis keras di Iran terus menegaskan kembali hukuman mati. Pada awal 2005, fatwa Khomeini ditegaskan kembali oleh pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ini disampaikan dalam sebuah pesan kepada para peziarah Muslim yang melakukan ziarah tahunan ke Mekah. Selain itu, Pengawal Revolusi menyatakan bahwa hukuman mati terhadapnya masih berlaku.
Rushdie balik meledek bahwa dia masih menerima ‘semacam kartu Valentine’ dari Iran setiap tahun pada 14 Februari untuk memberi tahu dia bahwa negara tersebut tidak melupakan sumpah untuk membunuhnya.
Seorang mantan pengawal Rushdie, Ron Evans, berencana untuk menerbitkan sebuah buku yang menceritakan perilaku penulis selama dia bersembunyi.
Masih dari Wikipedia, Evans mengklaim bahwa Rushdie mencoba untuk mendapatkan keuntungan finansial dari fatwa dan bunuh diri.
Tapi, Rushdie menolak buku dan menyebutnya sebagai ‘sekelompok kebohongan’, dan mengambil tindakan hukum terhadap Evans, rekan penulis dan penerbitnya.
Pada 26 Agustus 2008, Rushdie menerima permintaan maaf di Pengadilan Tinggi di London dari ketiga pihak. Sebuah memoar tahun-tahun persembunyiannya, ditulis oleh Joseph Anton, yang dirilis pada 18 September 2012. Joseph Anton adalah alias rahasia Rushdie.
Pada Februari 1997, Ayatollah Hasan Sane’i, pemimpin bonyad panzdah-e khordad (Yayasan Khordad Kelima Belas), melaporkan bahwa uang darah yang ditawarkan oleh yayasan untuk pembunuhan Rushdie akan ditingkatkan dari dua juta menjadi 2,5 juta dolar AS.
Kemudian, sebuah yayasan keagamaan semi-resmi di Iran meningkatkan hadiah yang ditawarkan untuk pembunuhan Rushdie dari 2,8 menjadi 3,3 juta dolar AS.
Pada November 2015, mantan menteri India P. Chidambaram mengakui bahwa pelarangan The Satanic Verses adalah salah.
Pada 1998, mantan presiden Iran Mohammad Khatami menyatakan fatwa itu ‘selesai’, namun tidak pernah dicabut secara resmi, bahkan telah ditegaskan kembali beberapa kali oleh Ali Khamenei dan pemuka agama lainnya.
Pada 3 Agustus 1989, ketika Mustafa Mahmoud Mazeh sedang mempersiapkan bom buku yang diisi dengan bahan peledak RDX di sebuah hotel di Paddington, London Pusat, bom itu meledak sebelum waktunya.
Bom menghancurkan dua lantai hotel dan membunuh Mazeh. Sebuah kelompok di Lebanon yang sebelumnya tidak dikenal, Organisasi Mujahidin Islam, menyatakan bahwa dia meninggal saat mempersiapkan serangan ‘terhadap Rushdie yang murtad’.
Ada sebuah kuil di pemakaman Behesht-e Zahra di Teheran untuk Mustafa Mahmoud Mazeh yang mengatakan bahwa dia adalah ‘Martir’ di London, 3 Agustus 1989.
Martir pertama yang mati dalam misi untuk membunuh Rushdie ini, diundang untuk pindah ke Iran.
Peringatan Gerakan Martir Dunia Islam membangun kuilnya di pemakaman yang menampung ribuan tentara Iran yang terbunuh dalam Perang Iran-Irak.
Pada 2006, pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah menyatakan bahwa ‘Jika ada seorang Muslim yang melaksanakan fatwa Imam Khomeini terhadap pengkhianat Salman Rushdie, maka orang-orang yang menghina Nabi Muhammad di Denmark, Norwegia dan Prancis ini tidak akan berani melakukannya.
“Saya yakin ada jutaan Muslim yang siap memberikan nyawanya untuk membela kehormatan nabi kita, dan kita harus siap melakukan apa pun untuk itu,” katanya.
Pada 1990, segera setelah penerbitan The Satanic Verses, sebuah film Pakistan berjudul International Gorillay (International Guerillas) dirilis.
Film ini menggambarkan Rushdie sebagai penjahat, yang merencanakan untuk menyebabkan kejatuhan Pakistan dengan membuka jaringan kasino dan diskotek di negara tersebut.
Rushdie akhirnya terbunuh di akhir film. Film tersebut populer di kalangan penonton Pakistan, dan ‘menghadirkan Rushdie sebagai sosok mirip Rambo yang dikejar oleh empat gerilyawan Pakistan’.
Pada 2010, Anwar al-Awlaki menerbitkan daftar sasaran Al-Qaeda di Majalah Inspire, termasuk Rushdie bersama dengan tokoh-tokoh lain yang diklaim telah menghina Islam, termasuk Ayaan Hirsi Ali, kartunis Lars Vilks, dan tiga anggota staf Jyllands-Posten: Kurt Westergaard, Carsten Juste, dan Flemming Rose.
Daftar tersebut kemudian diperluas untuk memasukkan Stéphane ‘Charb’ Charbonnier, yang dibunuh dalam serangan teror di Charlie Hebdo di Paris, bersama dengan 11 orang lainnya.
Setelah serangan itu, Al-Qaeda menyerukan lebih banyak pembunuhan.
Rushdie menyatakan dukungannya untuk Charlie Hebdo dengan pernyatan: “Saya mendukung Charlie Hebdo, seperti yang kita semua harus lakukan, untuk membela seni satir, yang selalu menjadi kekuatan untuk kebebasan dan melawan tirani, ketidakjujuran dan kebodohan … “
