Digital Setengah Jalan

UMKM bisa tampil di layar, tapi tanpa data, mereka seperti halaman kosong tak tertaut—404 dalam peta digital. Dan perekonomian masa depan tak butuh subjek, melainkan sistem yang bergerak.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)
Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Perspektif.today_Di era digital yang menuntut kecepatan dan keterbukaan data, kehadiran akun bisnis di Instagram, Tokopedia, atau WhatsApp Business belum cukup menjamin eksistensi asli sebuah usaha. Banyak pelaku UMKM—yang terlihat aktif di ranah online—ternyata hanya mengisi ruang semu: tidak memiliki sistem informasi bisnis yang memadai, tidak mencatat stok secara otomatis, dan tidak menjalin data histori transaksi. Singkat kata, mereka bukan sekadar go digital di permukaan, melainkan hukumnya persis seperti laman web yang menampilkan pesan “404 Not Found”. Ada, tapi tak terbaca. Terhubung secara visual, tapi tidak berfungsi secara sistemik.

Pentingnya sistem informasi dalam UMKM didasari oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki sekitar 65 juta pelaku usaha kecil hingga menengah di tahun 2024. Digitalisasi sendiri sedang dipacu pemerintah: Kominfo menargetkan 30 juta UMKM terkoneksi dengan teknologi digital pada tahun 2025, dan hingga Juli 2024, sudah tercapai 25,5 juta. Meski angka ini menggembirakan, realitanya hanya 39,7 persen yang benar-benar terintegrasi ke dalam ekosistem digital yang fungsional. Selebihnya, hanya “tampil”, bukan “berfungsi”.

Fenomena ini menjadi semakin kritis ketika mayoritas pelaku masih skeptis menerapkan sistem informasi karena berbagai kendala praktik: keterbatasan anggaran, rendahnya literasi digital, kekurangan sumber daya manusia, belum meratanya infrastruktur internet, dan kekhawatiran atas keamanan data. Akhirnya, banyak yang beraktivitas secara serpihan—katakanlah, mencatat stok secara manual, membalas pesanan lewat chat, tanpa memanfaatkan sistem KASIR digital, pelacakan penjualan, atau integrasi informasi keuangan.

Padahal, kualitas sistem informasi bisa menjadi pembeda yang nyata. Data dari platform iSeller menunjukkan bahwa mitra UMKM yang menggunakan sistem terintegrasi—website toko, point of sale (POS), manajemen inventori, dan pelacakan pembayaran berbasis cloud—mampu meningkatkan omzet hingga 163 persen sejak 2022. Salah satu penggunanya, Lakoo, merek fesyen lokal, berhasil melipatgandakan pelanggan setia dan menekan kehilangan data penjualan setelah sistem terpasang .

Mirip cerita sukses muncul dari Qasir, platform POS berbasis aplikasi. Dengan lebih dari 1 juta pengguna UMKM di 514 kota, Qasir mencatat total transaksi harian mencapai Rp30 triliun. Co-founder mereka, Rachmat Anggara, menyatakan bahwa pencatatan transaksi yang rapi mampu membuka akses permodalan, mencegah kehilangan stok, dan membuka peluang ekspansi usaha . Data keuangan yang bisa dipertanggungjawabkan menjadi pintu masuk bagi pengajuan kredit usaha ke lembaga formal.

Kontrasnya, akun di marketplace seperti Shopee atau Tokopedia mungkin tampak ramai. Namun jika sistem informasi tidak diperbarui—stok tak sinkron, harga tidak seragam, dan pelacakan transaksi minim—rata-rata pembeli akan segera berpindah ke toko yang lebih fungsional. Mereka tidak hanya menilai tampilan, tapi juga menguji keandalan digital. Sebuah sistem yang mati fungsi dapat berarti kerugian nyata, baik dari sisi reputasi maupun keuntungan.

Peta jalan digital UMKM sejauh ini sudah merentang. Pemerintah pun memetakan sembilan klaster usaha strategis—seperti kuliner, kerajinan, dan pariwisata—sebagai basis transformasi digital yang lebih terstruktur. Selain itu, aplikasi SAPA UMKM diluncurkan sebagai super app berbasis data real-time, menggantikan kebutuhan laporan tahunan yang kerap telat.

Namun langkah-langkah ini harus diimbuhi kesadaran akan esensi digitalisasi—bukan soal eksistensi online, melainkan soal aliran data yang solid. Sistem informasi membuat UMKM bisa memantau tren penjualan, menata stok otomatis, memproyeksi far future stock, hingga menghitung margin yang sesungguhnya. Data yang dihasilkan menjelma modal intelektual: bahan untuk riset produk, evaluasi strategi pemasaran, dan pencarian peluang ekspor.

Tanpa sistem informasi, UMKM hanya menguap ke permukaan, menjadi subjek data yang bias. Mereka menghadirkan produk, harga, dan layanan, tetapi tidak menyisakan rekam-jejak digital. Merek hadir, tapi tak ada jejak. Data muncul, tetapi tidak tersimpan.

Era digital bukan sekadar soal bergaya, tapi soal bertahan dan tumbuh. UMKM 404 adalah peringatan: akunnya ada, tapi tidak berfungsi; listingnya muncul, tapi tidak terbukti; online presence-nya viral, tapi tidak terukur. Jika digitalisasi hanya dipandang sebagai tahap awal pendaftaran akun, maka transformasi sejatinya belum terjadi.

Maka penting bagi pelaku usaha, pemerintah, dan penyedia platform untuk bertindak lebih dari hibah akun digital. Pelatihan harus diiringi adopsi sistem—POS, laporan digital, integrasi platform. Bisnis yang ingin beranjak ke kelas menengah (scaling-up) harus memulai dari leveling-up data dan sistem. Tanpa itu, siapapun bisa jadi akan terkikis oleh generasi pelaku yang sistemnya terekam, teranalisis, dan terus diperbaiki oleh data.

Era digital menuntut kehadiran bukan sekadar tampilan, tetapi integrasi. Dan di tengah gelombang akun digital UMKM di layar ponsel, hanya mereka yang datanya bersambung, yang sistemnya berbicara, dan yang ekosistemnya lengkap—yang akan dikenang, dibeli, tumbuh, dan selamat. Sisanya hanyalah error dalam peta ekonomi digital masa depan.


***

Penulis Adalah Dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *