Menakar Nalar

Perspektif.today_Tidak semua yang berilmu terbiasa berpikir sistematis. Dan tidak semua yang mengajar, mampu mengurai logika dengan presisi. Di sinilah TKDA dan TPA hadir—dua wajah dari instrumen seleksi intelektual yang kini menjadi pintu masuk nyaris semua jenjang seleksi akademik dan birokrasi. Dalam senyap ruang ujian, keduanya diam-diam menakar seberapa dalam seseorang mampu berpikir—bukan berdasarkan gelar atau pengalaman, tapi berdasar pola, nalar, dan kecepatan otak mencerna struktur informasi.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)
Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Tes Kemampuan Dasar Akademik (TKDA) kini menjadi syarat wajib bagi dosen yang ingin naik kelas menjadi profesional bersertifikat. Ia dikelola oleh PLTI (Pusat Layanan Tes Indonesia) dan menjadi bagian dari tahapan Sertifikasi Dosen (Serdos). Di tangan PLTI, TKDA bukan sekadar tes kognitif, melainkan simbol seleksi meritokratik—bahwa dosen yang berhak atas tunjangan profesional adalah mereka yang tak hanya hadir di kelas, tapi juga mampu bernalar dengan kokoh.

Struktur TKDA nyaris tidak berbeda dari TPA (Tes Potensi Akademik) yang lebih dahulu dikenal luas. Keduanya terdiri dari tiga bagian utama: Verbal, Numerik, dan Logika. Formatnya sama: pilihan ganda, waktu terbatas, dan tingkat kesulitan yang meningkat secara progresif.

Di bagian verbal, misalnya, TKDA bisa menyodorkan pertanyaan seperti:

“Manakah pasangan kata yang memiliki hubungan analogi serupa dengan ‘pisau : potong’?”
a. Penghapus : tulis
b. Alat : benda
c. Jarum : jahit
d. Roda : belok

Pertanyaan seperti ini bukan hanya soal hafalan, tapi pengenalan hubungan fungsi. Dalam hal ini, ‘pisau’ digunakan untuk ‘memotong’, maka jawaban yang paling tepat adalah c. Jarum : jahit—karena menggambarkan hubungan alat dan kegunaannya.

Sementara dalam bagian logika, contoh yang sering muncul berbunyi:

Semua dosen adalah pengajar. Sebagian pengajar adalah peneliti. Maka…
a. Semua dosen adalah peneliti
b. Sebagian dosen adalah peneliti
c. Semua peneliti adalah dosen
d. Tidak dapat disimpulkan

Jawaban yang benar tentu adalah d. Tidak dapat disimpulkan, sebab premis yang tersedia tidak cukup untuk menghubungkan dosen dan peneliti secara langsung. Ini menguji ketelitian peserta memilah jenis silogisme dan mengenali validitas kesimpulan.

Jika TKDA disusun untuk kebutuhan formal—seperti sertifikasi dosen, CPNS, atau seleksi birokrasi—maka TPA menjelajah lebih luas. Ia digunakan dalam proses masuk program magister dan doktoral, seleksi beasiswa seperti LPDP, hingga rekrutmen profesional di sektor swasta. Banyak perguruan tinggi negeri seperti UGM, UI, atau ITB yang memasukkan skor TPA sebagai prasyarat masuk pascasarjana.

Format TPA, seperti versi yang dikembangkan Bappenas atau OTO Bappenas, sering kali menyodorkan soal numerik yang memutar otak:

Temukan angka berikutnya dalam deret: 2, 6, 12, 20, 30, …
a. 36
b. 42
c. 45
d. 56

Melihat pola, setiap bilangan merupakan hasil dari n(n+1), dengan n = 1, 2, 3, 4, 5, … sehingga angka selanjutnya adalah 6×7 = 42. Soal seperti ini menuntut bukan hanya kecepatan berhitung, tapi juga kejelian menangkap pola tersembunyi.

TPA juga kerap menyisipkan soal figural—pola gambar yang berputar, berubah, atau menyilang. Misalnya, satu kotak menunjukkan segitiga menghadap ke kanan, kotak berikutnya ke atas, lalu ke kiri, dan seterusnya. Di sinilah peserta diuji kemampuan spasialnya, sebuah jenis kecerdasan yang jarang disentuh dalam kurikulum sekolah, tapi sangat relevan untuk mengukur daya pikir abstrak.

Baik TKDA maupun TPA sebenarnya lahir dari akar ide yang sama: bahwa kecerdasan tidak bisa diukur dari indeks prestasi kumulatif semata. Dalam ruang ujian ini, gelar profesor dan diploma bisa duduk sejajar. Yang membedakan hanya kecepatan menangkap logika, ketenangan dalam menyusun jawaban, dan kesanggupan melawan waktu.

Namun perbedaan tetap ada. TKDA lebih formal, seragam, dan terstandar—skornya harus melewati batas minimal, misalnya 475 poin, dan sertifikatnya dikeluarkan resmi oleh PLTI. TPA lebih fleksibel. Skornya bisa disesuaikan dengan standar lembaga pengguna, dan bentuk tesnya bisa bervariasi tergantung penyelenggara. Bahkan beberapa versi TPA berbasis CAT (computer assisted test) memungkinkan penilaian adaptif yang berubah sesuai jawaban peserta.

Dalam praktiknya, banyak peserta yang menganggap TKDA lebih “serius”, karena langsung terhubung dengan tunjangan profesi. Tapi justru karena itu, banyak juga yang meremehkan TPA dan menyesal ketika gagal di tahap seleksi pascasarjana. Padahal, keduanya menuntut latihan yang sama: melatih logika, bermain dengan kata, mengasah intuisi angka, dan memahami soal-soal tak biasa dalam waktu yang terbatas.

TKDA dan TPA mungkin hanya alat. Tapi alat ini mengungkap satu hal mendasar: bahwa berpikir adalah keterampilan. Ia bisa diasah, dilatih, dan diukur. Dan dalam zaman di mana gelar mudah dipoles, sertifikat bisa dibeli, dan jabatan bisa diwariskan, TKDA dan TPA tetap menjadi ruang di mana kepala diuji secara adil. Tanpa embel-embel. Tanpa basa-basi.


Dalam ruang ujian yang senyap, TKDA dan TPA menempatkan semua orang di garis yang sama. Dan di sana, hanya logika yang bersuara.

***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *