Empat Sifat Iblis Yang Perlu Kita Ketahui Agar Kita Tidak Terperangkap Dalam Perangainya

PerspektifReligi

Lebong – Jika engkau bertanya tentang Al-Qur’an kepada iblis, maka iblis akan bisa menerangkan dengan sangat jelas, karena iblis tahu persis kapan ayat itu turun dari langit.

Jika engkau bertanya tentang ilmu hadist kepada iblis, maka iblis akan sangat pandai menjelaskannya, karena iblis tahu asbabul wurud dari hadist tersebut.

Jika engkau bertanya tentang kisah para nabi, iblis akan dengan tepat menceritakannya karena iblis sudah ada sejak nabi adam masih berada dalam surga.

Iblis ahli Alqur’an…Iblis ahli Hadist…Iblis ahli riwayat…Iblis alim/pandai dalam segala ilmu…

Tapi iblis tidak menjadi kekasih Allah, karena dalam diri iblis ada kalimat

“AKU LEBIH BAIK DARI KAMU”

Semoga sedikit ilmu yang dititipkan Allah Subhana Wa Ta’alla dihati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan…Juga paham bahwa ilmu tak menjamin orang pasti ta’at dan sholeh.

Yang aku takut… Hatiku kian mengeras dan sulit menerima nasehat, namun sangat pandai menasehati

Yang aku takut… Aku merasa paling benar, sehingga merendahkan yang lain.Yang aku takut… Egoku terlalu tinggi, hingga merasa paling baik di antara yang lain.

Yang aku takut… Aku lupa bercermin, namun sibuk berprasangka buruk kepada yang lain.Yang aku takut… Ilmuku akan membuatku menjadi sombong, memandang yang lain berbeda denganku.

Yang aku takut… Lidahku makin lincah membicarakan aib orang lain, namun lupa dengan aibku yang menggunung dan tak sanggup kubenahi. Yang aku takut… Aku hanya hebat dalam berkata namun buruk dalam berbuat.

Yang aku takut… Aku hanya cerdas dalam mengkritik, namun lemah dalam mengkoreksi diri sendiri. Yang aku takut… Aku membenci dosa orang lain, namun saat aku sendiri buat dosa aku enggan membencinya.

Yang berhak mempunyai rasa sombong merasa lebih diatas segalanya baik dalam ilmu, kekuasaan, kesempurnaan hanya pantas disandang oleh Tuhan yaitu Allah Dzat yang Maha Sempurna. Makhluk tak pantas menyandang sifat itu karena semua kelebihan dalam dirinya, semuanya atas anugerah yang diberikan Allah kepada-Nya.
Syeh Muhammad bin Abdul Karim dalam Mausuah al-Kisanzan mengutip perkataan Syeh Muhammad bin Ali al-Ilmi:

أُمَّهَاتُ اْلكِبْرِ أَرْبَعٌ : أَنَا، َلِيْ، عِنْدِيْ، نَحْنُ

Sumber kesombongan berawal dari empat hal ini: Saya (أَنَا), aku memiliki (لِيْ), saya mempunyai (عِنْدِيْ), kami (نَحْنُ).
Maksud penjelasan Syeh Muhammad bin Ali al-Ilmi adalah kesombongan berawal dari empat kata diatas yang intinya merasa dirinya lebih hebat, sifat keakuannya masih sangat melekat dalam badannya.
Pertama, Iblis merupakan orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata aku atau saya (أَنَا). Hal ini seperti dalam al-Qur’an Surat al-A’raf: 12 yang berbunyi:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ (12

Artinya: “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”
Kedua, Fir’aun merupakan raja Mesir atau yang dikenal dengan Ramses ke 2 yang bernama Walid bin Mus’ab. Ia dikenal sebagai orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata kepunyaanku atau aku memiliki (لِيْ). Hal ini seperti dalam al-Qur’an Surat al-Zukhruf: 51 yang berbunyi:

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (51

Artinya: “Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?”
Ketiga, Qarun merupakan orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata ada padaku atau saya mempunyai (عِنْدِيْ). Hal ini seperti dalam al-Qur’an Surat al-Qashas: 78 yang berbunyi:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (78

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.
Keempat, Kaumnya ratu Bilqis merupakan orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata kami (نَحْنُ). Hal ini seperti dalam al-Qur’an Surat al-Naml: 33 yang berbunyi:

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ
إِلَيْكِ فَانظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (33

Artinya:”Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.(rls-Veni M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *