Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Perspektiftoday_Di sebuah toko material di pinggiran Bekasi, seorang pemilik warung bangunan menolak membeli cat tembok dalam jumlah besar. “Saya tunggu dulu, Mas. Harga belum tentu besok masih sama. Suasananya belum enak,” katanya.
Dalam kalimat sederhana itu, tersirat satu kenyataan yang diam-diam menjadi fondasi ekonomi sehari-hari di Indonesia: keputusan bisnis dan konsumsi tak selalu dibuat di atas kertas Excel, melainkan di bawah bayang-bayang suasana ekonomi—yang kerap ditandai ketidakpastian.
Ketidakpastian, bukan sekadar fluktuasi angka atau variabel statistik. Ia adalah atmosfer. Sesuatu yang merayap dari obrolan warung kopi, tayangan berita, hingga feed media sosial. Suasana yang membuat orang menunda membeli motor baru, memperlambat ekspansi toko, atau mengurungkan niat investasi kecil-kecilan.
Bagi pelaku usaha mikro dan kecil, ketidakpastian ekonomi menjadi variabel paling sulit dikalkulasi. Tidak ada model prediksi yang benar-benar bisa memastikan apakah harga cabai pekan depan akan naik, apakah pelanggan akan tetap datang setelah gaji THR habis, atau apakah kenaikan suku bunga akan berdampak ke pelunasan utang koperasi mereka.
“Pengusaha kecil itu sangat sensitif terhadap suasana,” kata Bhima Yudhistira dari CELIOS. “Ketika ada berita soal krisis, defisit, atau devaluasi, langsung panik. Bukan karena mereka paham detailnya, tapi karena mereka tahu risikonya: sepi pembeli.”
Ketidakpastian ekonomi menciptakan fenomena yang disebut para ekonom sebagai wait and see economy—ekonomi yang menunda. Produsen menahan produksi. Distributor menunggu kepastian harga. Konsumen menunda konsumsi.
Fenomena ini terlihat jelas saat menjelang momen-momen besar, seperti pemilu, revisi undang-undang ekonomi, atau pengumuman kebijakan fiskal. Ketika pemerintah memberi sinyal akan menaikkan pajak atau mengubah skema subsidi, para pelaku usaha menahan diri. Bahkan dalam skala rumah tangga, pembelian kebutuhan sekunder seperti elektronik atau kendaraan pribadi ikut tertunda.
Di sisi lain, ketidakpastian juga menciptakan pasar baru: pasar spekulasi. Di tengah suasana yang tak pasti, pelaku ekonomi mencari celah—memborong emas, menyimpan dolar, atau menimbun barang. Suasana ini menimbulkan dinamika baru dalam jual-beli: bukan lagi soal kebutuhan, tapi soal peluang dan proteksi.
“Waktu Covid-19 dulu, saya belanja sembako bukan buat dipakai semua. Tapi siapa tahu harga naik atau stok langka,” ujar Rita, ibu rumah tangga di Depok. Keputusan seperti ini, meskipun tampak rasional secara individual, bisa memperkuat efek domino ketidakpastian secara kolektif.
Dalam suasana seperti ini, jual-beli pengaruh menjadi keniscayaan. Pengaruh dari figur publik, elite politik, bahkan influencer media sosial, bisa menentukan mood pasar. Pernyataan seorang menteri di televisi soal pertumbuhan ekonomi bisa membuat pedagang pasar tradisional menahan stok, atau sebaliknya, buru-buru jual murah sebelum harga jatuh.
Tak jarang, aktor ekonomi memainkan suasana itu untuk kepentingan mereka. Produsen besar bisa menaikkan harga dengan dalih “situasi global”, bahkan ketika biaya produksi tak berubah. Para spekulan bisa memompa narasi krisis untuk menciptakan panic buying. Dalam kondisi ini, suasana bukan hanya dipengaruhi pasar, tapi dikonstruksi pasar itu sendiri.
Media memainkan peran ganda. Di satu sisi, mereka menjadi corong informasi ekonomi. Tapi di sisi lain, cara mereka membingkai berita bisa memperkuat atau meredam suasana ketidakpastian. Headline tentang “resesi mengancam” bisa langsung memukul kepercayaan konsumen dan menciptakan perlambatan konsumsi.
Namun, tidak semua pelaku usaha terjebak dalam arus ketidakpastian. Beberapa UMKM mencoba memanfaatkan suasana itu dengan strategi mitigasi. Ada yang membuat skema belanja cicilan tanpa bunga, ada yang menyasar pasar loyal lokal, ada juga yang menyesuaikan stok berdasarkan pola konsumsi harian, bukan proyeksi makro.
“Daripada memikirkan resesi, saya fokus saja ke pembeli tetap saya. Kalau mereka aman, saya aman,” kata Pak Sukirman, pemilik warung sembako di Bojonegoro.
Keputusan seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi di situlah letak resiliennya. Pelaku usaha kecil belajar membaca suasana, bukan dari indikator ekonomi global, tapi dari suasana obrolan pelanggan, lalu lintas kendaraan, atau denyut pasar harian.
Dalam suasana ekonomi yang penuh ketidakpastian, kekuatan bertahan sering datang bukan dari data, melainkan dari insting sosial. Dan itulah yang membuat ekonomi Indonesia—terutama di sektor informal dan UMKM—terus bergerak: ia hidup, bukan karena pasti, tapi karena mampu menavigasi suasana yang tak pasti.*
