Dari Preloved ke Passion: Ekonomi, Gaya Hidup, dan Daya Tarik Thrifting

Perspektif.today_Di sebuah sudut pasar tradisional hingga laman-laman Instagram, pemandangan toko thrift kian menjamur. Rak-rak baju menggantung penuh, disusun rapi, memajang berbagai jaket denim, rok vintage, hingga blus motif floral dari era yang sudah lama berlalu. Tak sedikit anak muda berkerumun, menyisir tiap rak demi menemukan “harta karun” fashion yang tak bisa mereka temukan di mal atau butik ternama. Inilah wajah baru perniagaan gaya hidup: thrifting, sebuah aktivitas membeli barang bekas pakai yang tengah menjadi tren sosial dan ekonomi di berbagai kota di Indonesia.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Kegiatan thrifting bukanlah fenomena asing. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, istilah ini telah lama berseliweran di kalangan pencinta fesyen alternatif dan konsumen cermat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya meningkat pesat. Bukan hanya karena alasan ekonomi, tapi juga karena perubahan selera pasar, kesadaran lingkungan, dan semangat untuk tampil beda dari arus utama mode.

Secara sederhana, thrifting merujuk pada kebiasaan berbelanja barang bekas dengan harga miring. Barang-barang yang diperjualbelikan biasanya berlabel preloved—istilah yang memberikan kesan bahwa barang tersebut pernah disayang dan dirawat oleh pemilik sebelumnya. Meski bekas, banyak produk yang dijajakan tetap berkualitas, bahkan berasal dari merek terkenal yang jika baru bisa berharga jutaan rupiah. Itulah yang membuat toko-toko thrift atau lapak daring preloved jadi buruan banyak kalangan, dari mahasiswa hingga pekerja muda.

Namun, lebih dari sekadar hemat, thrifting kini menjelma menjadi gaya hidup. “Saya suka sensasi berburu. Nggak semua orang bisa punya barang yang sama,” kata Fitriani (22), mahasiswa di Yogyakarta yang mengoleksi dress dan aksesori vintage dari toko-toko thrift lokal. Baginya, thrifting bukan soal kekurangan dana, melainkan tentang orisinalitas dan keberlanjutan.

Aspek keberlanjutan inilah yang makin memperkuat daya tarik thrifting. Dalam era ketika industri fesyen cepat (fast fashion) dikritik karena mencemari lingkungan dan mengeksploitasi buruh di negara berkembang, thrifting tampil sebagai pilihan etis. Dengan membeli barang bekas, konsumen mengurangi limbah tekstil dan memperpanjang siklus hidup produk. Beberapa komunitas bahkan menjadikan thrifting bagian dari kampanye lingkungan. “Kalau bisa tampil keren tanpa merusak bumi, kenapa tidak?” ujar Naufal, relawan kampanye Zero Waste di Bandung.

Menurut laporan Fashion Revolution Indonesia, industri fesyen global menyumbang sekitar 10% emisi karbon dunia dan menjadi penyumbang limbah air terbesar kedua setelah pertanian. Di tengah krisis iklim dan isu etika produksi, pilihan untuk membeli barang yang sudah ada alih-alih baru dianggap sebagai bentuk konsumerisme sadar.

Tak hanya individu, pelaku usaha juga melihat peluang besar dari tren ini. Di berbagai kota, toko-toko thrift bermunculan dalam berbagai skala: dari lapak kaki lima, toko offline, hingga akun khusus di media sosial dan marketplace. Banyak di antaranya mengimpor baju bekas dari luar negeri, terutama Korea, Jepang, dan Eropa. Walau sempat menuai kontroversi karena potensi melanggar regulasi perdagangan, bisnis impor baju bekas tetap hidup karena tingginya permintaan.

Pemerintah sempat mengeluarkan peringatan keras terhadap praktik impor ilegal baju bekas karena alasan kesehatan dan perlindungan industri tekstil dalam negeri. Namun, di sisi lain, pertumbuhan usaha thrift lokal yang mengandalkan sumber dalam negeri juga berkembang. Beberapa pelaku thrift bahkan memilih kurasi barang dari sumbangan atau barang rumah tangga masyarakat urban yang kelebihan konsumsi.

Yang menarik, thrifting juga melahirkan ekosistem ekonomi baru. Selain toko, muncul jasa kurasi, fotografi katalog barang preloved, hingga reseller yang memasarkan kembali produk thrift secara daring. Di tengah gempuran digitalisasi, sebagian pelaku bahkan menyelenggarakan “thrift market day” di kafe atau ruang kreatif, menciptakan pengalaman belanja yang tak sekadar transaksi tapi juga interaksi sosial.

Seorang sosiolog yang tak bersedia disebutkan namanya, menyatakan bahwa fenomena thrifting mencerminkan pergeseran nilai konsumen muda. “Konsumen Gen Z dan milenial cenderung lebih kritis, lebih individualis, dan sangat peka terhadap isu keberlanjutan. Thrifting memberi ruang ekspresi dan identitas mereka,” ujarnya lagi. Dalam istilahnya, thrifting bukan lagi simbol keterbatasan ekonomi, melainkan bentuk resistensi terhadap budaya konsumsi berlebih.

Namun, di balik geliatnya, tantangan tetap mengintai. Tidak semua barang bekas layak pakai atau higienis. Proses penyortiran yang lemah bisa menimbulkan kekecewaan atau bahkan risiko kesehatan bagi pembeli. Karenanya, edukasi dan transparansi dari penjual menjadi penting. Beberapa toko mulai menyertakan label kondisi barang, metode pencucian, hingga kisah di balik produk tersebut—menciptakan narasi yang lebih personal dan informatif.

Thrifting juga menantang konsep kepemilikan dalam budaya konsumen. Bila dahulu membeli berarti memiliki sesuatu yang baru dan utuh, kini membeli bisa berarti memberi kesempatan kedua bagi barang lama. Di era ketika kecepatan konsumsi makin dikritik, kehadiran pasar barang bekas menjadi semacam rem yang memberi ruang untuk berpikir ulang: apakah kita membeli karena butuh, atau karena terbiasa?

Thrifting telah menjelma dari sekadar aktivitas menjadi bagian dari percakapan sosial yang lebih luas—tentang identitas, keberlanjutan, ekonomi, dan bahkan politik konsumsi. Di rak-rak penuh pakaian itu, tersimpan narasi perlawanan halus terhadap arus mode yang cepat dan seragam. Bagi sebagian orang, barang bekas bukan berarti murahan. Ia justru menyimpan cerita, sejarah, dan pilihan etis yang tak lekang oleh tren.

***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *