Perspektif.today_Panggung pariwisata Indonesia pasca-pandemi tak lagi sama. Lanskapnya berubah, menuntut para pelaku di dalamnya untuk lebih gesit, inovatif, dan sadar akan kelestarian. Di tengah pusaran perubahan ini, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali menjadi sorotan. Bukan lagi sekadar pelengkap, UMKM kini didapuk sebagai tulang punggung yang menopang sekaligus mewarnai ekosistem pariwisata cerdas (smart tourism) dan berkelanjutan. Namun, jalan terjal masih membentang di depan.

Pariwisata cerdas, sebuah konsep yang mengawinkan teknologi digital dengan pengalaman pelancong, menawarkan sejuta peluang. Bayangkan seorang turis mancanegara yang merencanakan liburan ke Danau Toba. Dengan beberapa ketukan di layar gawai, ia tak hanya memesan tiket pesawat dan penginapan, tetapi juga bisa menyewa perahu tradisional milik nelayan setempat, memesan makan siang di warung ikan bakar di tepi danau, hingga membeli ulos yang ditenun langsung oleh perajin di Desa Meat. Semua terintegrasi dalam satu ekosistem digital yang mulus. Inilah janji dari pariwisata cerdas, sebuah janji yang menempatkan UMKM sebagai aktor sentral, bukan penonton.
Pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), berulang kali menyuarakan pentingnya digitalisasi bagi UMKM. Program seperti AKSES (Akselerasi Keuangan, Inovasi Digital, dan Pendampingan) digulirkan untuk memberikan kemudahan bagi UMKM dalam memperoleh pembiayaan dan pendampingan bisnis. Namun, di lapangan, ceritanya tak selalu semanis di atas kertas. “Pelatihan memang sering ada, tapi setelah itu kami dibiarkan sendiri,” ujar Sumiati, seorang perajin batik di salah satu desa wisata di Jawa Tengah. Ia mengaku masih gagap dalam memasarkan produknya secara daring. Kisah Sumiati adalah potret buram dari banyak pelaku UMKM lainnya: antusiasme di awal, kebingungan di tengah jalan.
Tantangannya memang berlapis. Selain literasi digital yang masih timpang, akses terhadap permodalan kerap menjadi tembok penghalang. Lembaga keuangan formal seringkali memandang UMKM sektor pariwisata sebagai usaha yang berisiko tinggi dan tidak bankable. Akibatnya, banyak dari mereka yang terjerat pinjaman dari rentenir atau platform pinjaman daring ilegal dengan bunga yang mencekik. “Bagaimana mau berinovasi kalau untuk bertahan saja sudah sulit?” keluh I Wayan Suardika, pemilik homestay di Ubud, Bali, yang omzetnya sempat terjun bebas dihantam pandemi.
Simbiosis Mutualisme untuk Masa Depan
Di sisi lain, pariwisata berkelanjutan menuntut adanya keseimbangan antara keuntungan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Di sinilah peran UMKM menjadi krusial. Mereka adalah penjaga kearifan lokal, penyaji kuliner otentik, dan penyedia pengalaman yang tak bisa ditawarkan oleh hotel-hotel berjaringan internasional. Keberadaan UMKM yang kuat memastikan bahwa pundi-pundi yang dihasilkan dari sektor pariwisata tidak hanya lari ke kantong segelintir investor besar, tetapi juga menetes ke bawah, menggerakkan roda perekonomian desa.
Contoh sukses mulai bermunculan, menawarkan secercah harapan. Desa Wisata Pandanrejo di Purworejo, Jawa Tengah, misalnya, berhasil mengintegrasikan potensi agrowisata kambing etawa dengan berbagai produk UMKM turunan, mulai dari susu, keju, hingga kerajinan kulit. Melalui pengelolaan yang baik dan pemasaran digital yang aktif, desa ini menjelma menjadi destinasi yang mandiri dan berdaya. Mereka tak hanya menjual pemandangan alam, tetapi juga sebuah pengalaman utuh yang melibatkan komunitas lokal.
Keberhasilan seperti di Pandanrejo menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci. Model pentahelix, yang melibatkan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku bisnis (UMKM dan industri besar), komunitas, serta media, terbukti mampu menjadi motor penggerak. Pemerintah tak bisa lagi sekadar menjadi regulator, tetapi harus turun sebagai fasilitator dan akselerator. Akademisi dari perguruan tinggi dapat membantu dalam riset dan pengembangan produk, sementara industri besar bisa berperan sebagai bapak angkat bagi UMKM, membantu mereka dalam hal standardisasi produk dan akses pasar.
Penguatan UMKM dalam ekosistem pariwisata cerdas dan berkelanjutan bukanlah sebuah proyek jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang. Ini adalah tentang membangun sebuah fondasi ekonomi yang tidak hanya kokoh, tetapi juga berkeadilan dan menghargai kelestarian alam serta budaya. Mendorong UMKM untuk naik kelas berarti memberdayakan jutaan rakyat Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada denyut nadi pariwisata. Jika UMKM kuat, pariwisata Indonesia tidak hanya akan cerdas secara teknologi, tetapi juga arif dalam menjaga warisan untuk generasi mendatang. Langkah pemerintah yang mendorong belanja produk dalam negeri dan program Bangga Berwisata di Indonesia menjadi momentum yang tak boleh dilewatkan. Sudah saatnya kata “keberpihakan” tidak hanya berhenti sebagai slogan, tetapi mewujud dalam kebijakan nyata yang mengakar di bumi pertiwi.(***)
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
