Perspektif.today_Di Kediri, Jawa Timur, berdiri salah satu raksasa industri rokok yang selama puluhan tahun dikenal tangguh. PT Gudang Garam Tbk, perusahaan keluarga yang mewarisi kejayaan kretek sejak 1956, kini menghadapi kenyataan pahit: laba merosot, saham anjlok, dan kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantui.
Data keuangan terbaru menunjukkan betapa dalam jurang yang tengah dihadapi perusahaan ini. Pada 2023, Gudang Garam masih mampu membukukan keuntungan Rp 5,32 triliun. Setahun kemudian, angka itu terjun bebas menjadi Rp 980,8 miliar—merosot 81,57 persen. Pukulan lebih telak datang pada semester I 2025, saat laba hanya tercatat Rp 117 miliar. Padahal, belasan tahun lamanya Gudang Garam konsisten meraup untung di atas Rp 5 triliun per tahun, menjadikannya salah satu perusahaan paling disegani di Bursa Efek Indonesia.
Tren penurunan itu tergambar jelas dari laporan keuangan satu dekade terakhir. Pada 2019, laba mencapai puncaknya, Rp 10,8 triliun. Namun sejak itu grafik terus menurun: Rp 7,64 triliun pada 2020, Rp 5,6 triliun pada 2021, hingga Rp 2,78 triliun pada 2022. Kini, angka yang tersisa tak lebih dari seujung kuku dibanding masa kejayaannya.
Bukan hanya kinerja keuangan yang tertekan, harga saham Gudang Garam pun ikut terjerembab. Pada penutupan perdagangan 5 September 2025, saham GGRM diperdagangkan di level Rp 8.800 per lembar. Angka ini kontras dengan situasi enam tahun silam. Pada awal 2019, harga saham Gudang Garam sempat menembus Rp 83.650, menjadikannya salah satu saham termahal di lantai bursa. Kini, nilainya tak sampai sepersepuluh dari harga saat itu.
Bursa mencatat, sepanjang 2024 harga saham terus merosot hingga ditutup Rp 13.275 pada 30 Desember. Rekor terendah terjadi pada 8 April 2025, ketika saham hanya dihargai Rp 8.675. Padahal, persis setahun sebelumnya, GGRM masih bertengger di Rp 18.550.
Sejumlah faktor membentuk tekanan berlapis pada industri rokok. Kenaikan tarif cukai yang hampir rutin tiap tahun membuat harga rokok merangkak naik, sementara daya beli konsumen melemah. Persaingan kian sengit dengan produsen rokok menengah dan kecil, sementara peredaran rokok ilegal menambah luka.
Gudang Garam, sejatinya, lahir dari mimpi. Surya Wonowidjojo, pendirinya, pada 1956 memulai usaha rokok rumahan dengan merek Inghwie. Produknya laris, lalu usaha itu berganti nama menjadi Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam. Resmi berdiri sebagai perseroan pada 1958, perusahaan ini memproduksi sigaret kretek klobot, linting tangan, hingga linting mesin.
Tiga dekade kemudian, Gudang Garam menjelma konglomerasi besar. Pabrik seluas 240 hektare beroperasi di Kediri, memproduksi jutaan batang rokok setiap hari. Setoran cukainya ke negara mencapai angka fantastis. Pada 1990, perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Meski begitu, kendali tetap di tangan keluarga lewat PT Suryaduta Investama.
Krisis moneter 1998 tidak menggoyahkan Gudang Garam. Minimnya utang luar negeri membuat bisnis tetap berdiri kokoh. Produk rokok bahkan dianggap kebal krisis. Di bawah kepemimpinan generasi kedua, Susilo Wonowidjojo, perusahaan tidak hanya bertahan, tapi juga melebarkan sayap ke bisnis jalan tol melalui PT Surya Kerta Agung. Belakangan, anak usahanya yang lain, PT Surya Dhoho Investama, membangun Bandara Dhoho di Kediri—meski hingga kini bandara itu masih sepi penerbangan.
Salah satu produk ikonik Gudang Garam adalah rokok Surya, yang namanya diambil dari sang pendiri. Hingga kini, Surya tetap menjadi merek legendaris, meski tidak mampu menahan gempuran perubahan zaman.
Masa keemasan itu kini tinggal kenangan. Di tengah kinerja yang terus melemah, kabar pemutusan hubungan kerja ikut menyeruak. Sebuah video pendek dari pabrik Tuban beredar luas di media sosial. Puluhan pekerja tampak berjabatan tangan, menandai perpisahan. Suasana haru itu menggambarkan beratnya dampak PHK massal.
“Sedih juga melihat PHK massal pegawai PT Gudang Garam. Dunia kerja sedang tidak baik-baik saja,” tulis seorang warganet di platform X, disertai rekaman video. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap pekerja yang kehilangan pekerjaan ada keluarga yang ikut menanggung dampak.
Kabar PHK itu cepat memicu diskusi publik. Buruh, pemasok, hingga pemilik kontrakan disebut bakal terkena imbas berantai. Janji pemerintah soal penciptaan lapangan kerja pun kembali dipertanyakan.
Kini, Gudang Garam berada di persimpangan jalan. Perusahaan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai “mesin uang” harus mencari cara keluar dari tekanan. Persaingan ketat, regulasi yang makin menekan, serta perubahan perilaku konsumen menuntut adaptasi besar.
Pertanyaannya: apakah perusahaan warisan ini mampu bertransformasi dan menemukan napas baru, atau perlahan akan menjadi cerita klasik tentang kejayaan yang tak abadi?.(***)
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
