“Woman in Love”: Lagu Cinta yang Tak Pernah Usai

Perspektif.today_Tatkala Barbra Streisand melantunkan lirik, “I am a woman in love, and I’d do anything…”, dunia seperti berhenti sejenak. Lagu itu bukan sekadar pengakuan cinta, melainkan deklarasi emosional tentang keberanian, kerentanan, dan hak untuk mencintai sepenuh jiwa. “Woman in Love”, dirilis pada 1980, adalah karya yang mengubah lanskap musik pop-ballad saat itu. Di tangan Streisand, lagu yang ditulis oleh Barry dan Robin Gibb dari Bee Gees ini menjadi anthem global tentang cinta yang kuat sekaligus lembut.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Komposisi lagu ini bukanlah sembarangan. Dengan intro piano yang lembut, aransemen string yang membubung, dan ritme drum halus dari loop “Night Fever”, lagu ini menciptakan suasana dramatis yang dalam. Ini adalah kisah cinta yang tidak sekadar indah, tetapi juga penuh pergulatan. Streisand menyanyikannya dengan intensitas teaterikal khas dirinya, membuat setiap bait terasa seperti fragmen dari monolog panggung Broadway.

Meski awalnya Streisand merasa tidak sepenuhnya cocok dengan lirik “It’s a right I defend,” lagu ini justru menegaskan posisinya sebagai seorang perempuan yang memegang kendali atas emosinya. Bukan tanpa alasan lagu ini menduduki puncak tangga lagu Billboard Hot 100 selama tiga minggu, menjadi nomor satu di lebih dari sepuluh negara termasuk Inggris, Australia, dan Finlandia. Lagu ini juga membawanya meraih Ivor Novello Award untuk kategori “Best Song Musically and Lyrically” pada 1981.

“Woman in Love” menjadi bagian penting dalam album Guilty, hasil kolaborasi ikonik antara Streisand dan Barry Gibb. Di album itu, Bee Gees meninggalkan ciri khas falsetto mereka dan bertransformasi menjadi produser yang mampu meramu keanggunan orkestra dengan kekuatan vokal seorang diva pop klasik. Gaya musikal yang mereka ciptakan—perpaduan pop klasik, disko lembut, dan balada romantis—menjadi fondasi kuat bagi banyak penyanyi wanita di dekade-dekade berikutnya.

Namun keabadian lagu ini tidak berhenti pada kesuksesan komersial. Sejumlah penyanyi papan atas seperti Liz McClarnon, Mireille Mathieu, Shirley Bassey, dan Carol Kenyon ikut membawakan ulang lagu ini dalam berbagai gaya dan ritme. Masing-masing memberikan sentuhan unik—ada yang menggarapnya dalam versi orkestra dramatis, versi pop modern, hingga adaptasi jazz lembut. Lagu ini bahkan digunakan sebagai theme song film Knight Moves yang dirilis pada awal 1990-an, dengan versi vokal Carol Kenyon yang lebih gelap dan melankolis.

Di berbagai forum musik, “Woman in Love” sering dianggap sebagai salah satu lagu cinta paling menyentuh dan kompleks. Ia menggabungkan rasa percaya diri dengan ketakutan akan kehilangan, memperlihatkan bahwa cinta bukan sekadar pelukan manis, tetapi juga medan konflik emosional. Ini menjelaskan mengapa lagu ini bertahan lintas zaman. Di era digital yang serba instan, ketika lagu-lagu viral mendominasi dengan durasi dua menit dan beat repetitif, “Woman in Love” menawarkan kedalaman yang hampir hilang dari lanskap musik hari ini.

Dalam konteks Indonesia, lagu ini menemukan resonansinya sendiri. Banyak perempuan urban Indonesia kini berada di persimpangan modernitas dan tradisi—mereka berdaya secara ekonomi, berpendidikan tinggi, namun dalam hal cinta dan relasi, masih bergulat antara ekspektasi budaya dan suara hati. Lagu ini bisa menjadi semacam cermin batin, atau bahkan soundtrack diam-diam, bagi perempuan-perempuan yang mempertahankan haknya untuk mencintai dan diperlakukan setara.

Lebih jauh lagi, jika industri film Indonesia ingin membangkitkan kembali emosi klasik dalam narasi cinta, “Woman in Love” layak dipertimbangkan untuk hadir di latar film. Bayangkan sebuah film tentang perempuan karier di Jakarta, yang harus memilih antara impian dan cinta jarak jauh—dan di salah satu adegan paling hening, lagu ini diputar dengan versi akustik. Efeknya bisa sedalam karya Wong Kar-Wai.

Sebagai produk seni, “Woman in Love” bukan hanya lagu, melainkan pernyataan. Ia menunjukkan bahwa perempuan bukan objek dalam cerita cinta, tapi subjek utama yang memilih, mencintai, dan bahkan rela berjuang. Lagu ini juga membuktikan pentingnya kolaborasi lintas genre dan generasi. Barry Gibb dengan latar disko-popnya, menyatu dengan vokal Streisand yang penuh soul dan teatrikalitas.

Pada akhirnya, “Woman in Love” adalah mahakarya yang menegaskan: dalam urusan cinta, suara seorang perempuan tidak perlu ditenangkan atau ditundukkan. Ia boleh mendebur, boleh gamang, dan tetap berhak menjadi kuat. Seperti yang dideklarasikan Streisand empat dekade lalu, cinta itu bukan kelemahan. Ia justru adalah kekuatan, terutama ketika dinyatakan oleh seorang perempuan yang tahu siapa dirinya.***

Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *