
Perspektidftoday _China rupanya sangat bernafsu merebut Natuna Utara dari tangan Indonesia.
Apalagi China mengklaim Natuna Utara miliknya dari faktor sejarah sebelum Indonesia merdeka.
Ya, China mengaku sudah 200 tahun mengendalikan Natuna Utara dan akhirnya direbut Belanda hingga saat ini jadi milik Indonesia.
Memang bila dilihat dari faktor sejarah, China mungkin memiliki Natuna sebagai koloninya dahulu.
Tapi itu sudah terjadi ratusan tahun lalu dimana armada Zheng He dari Dinasti Ming menyulap Natuna (Zhanghai Qitou) yang dinamai Anbuna sebagai pangkalan angkatan laut kekaisaran.
Zheng He sengaja mengganti nama Qitou menjadi Anbuna untuk menhilangkan subjek Dinasti Han yang pertama kali menjadikannya sebagai koloni.
“Sebelum Dinasti Han, orang dahulu menyebut tempat ini Zhanghai, yang disebut Kepulauan Natuna sebagai Zhanghai Qitou dan menyebut Pulau Natuna sebagai Qitou Besar.
Karena lokasi lalu lintasnya, Dajiqitou digunakan oleh armada Zheng He sebagai pos pos pertama di laut, yang mengawali sejarah pengelolaan Kepulauan Natuna oleh Tiongkok,” ujar 163.com pada 16 Maret 2022.
Apalagi saat Zhang Jiexu sebagai pewaris tahta Dinasti Ming membawa pendukungnya yang kabur dari Dinasti Qing ke Natuna untuk mendirikan kerajaan di sana.
Hal itu berhasil dimana Zhang mengubah Natuna jadi pulau dengan nilai perdagangan tinggi.
Contoh aja para nelayan yang tak punya tempat mengawetkan ikan.
Zhang membuka pulau Natuna untuk para nelayan tersebut mengawetkan ikan tentu dengan menyewanya.
Saat itu, tidak ada lingkungan penyimpanan berpendingin, sehingga banyak perusahaan perikanan besar di Laut Cina Selatan harus memilih beberapa pulau untuk dikeringkan sebelum berdagang.
Karena lokasinya yang penting, pulau ini merupakan tempat yang sangat baik bagi banyak perusahaan perikanan barat untuk mengeringkan ikan mereka,” jelas 163.com pada 26 Mei 2021.
Tapi Natuna akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 1724 saat bangsa Eropa itu menjajah Nusantara.
Ketika zaman modern saat ini, Indonesia menjadi pemilik sah Natuna.
Hal itu tertuang dalam UNCLOS yang resmi diinisiasi oleh PBB.
Pemerintah China saat ini lantas menelurkan klaim Nine Dash Line yang mencaplok 80 persen kawasan perairan Indo Pasifik.
ZEE Natuna Utara Indonesia juga ikut disikat oleh klaim tersebut.
“Dalam hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang berkomentar bahwa tidak peduli apakah pihak Indonesia menerimanya atau tidak, itu tidak dapat mengubah fakta objektif bahwa China memiliki hak dan kepentingan di perairan yang bersangkutan,” kata 163.com pada 26 Mei 2021.
Untuk menegakkan klaimnya ini, China memperkuat militernya.
Juga membuat pangkalan militer di Fiery Cross Reef sejak 2014 lalu.
Jaraknya cuma 700 km saja dari Natuna Indonesia.
Di sana China menempatkan bermacam satuan militernya terutama dari AL dan AU.
Di Fiery Cross Reef ada hanggar untuk menyimpan pesawat tempur.
Paling berbahaya China menempatkan pembom nuklir Xian H-6 di Fiery Cross.
Radius jelajah H-6 mencapai 1.800 – 6.000 km, cukup sekali buat mondar mandir di Natuna.
Senjata yang dibawa Xian H-6 pun tak main-main yakni Rudal Balistik Dongfeng -21D atau rudal supersonic CJ-100 dengan radius tembak 1.500 km.
Sangat cukup sekali bagi H-6 menjangkau Indonesia yang bahkan pulau Kalimantan masuk dalam radius tempurnya.
Indonesia sebetulnya juga tak mau kalah.
Indonesia lantas membangun pangkalan militer di Natuna sebagai jawaban penegakan NKRI kepada China.
Jakarta akan keras melawan China bila nekat mengganggu Natuna Utara.
Apalagi Amerika Serikat (AS) menjelaskan mereka akan membantu Indonesia mempertahankan Natuna Utara dari agresi maritim China.
“Kami mendukung upaya kuat Indonesia untuk menjaga hak maritimnya dan melawan agresi RRT di Laut Cina Selatan, termasuk di zona ekonomi eksklusifnya di sekitar Kepulauan Natuna,” tegas state.gov.
Melihat Natuna Utara sulit direbut, China mengalihkan pandangan.
Rupanya pada 2018 lalu China mulai mencari-cari tempat untuk ditempati pangkalan militernya.
Pasalnya pembangunan pangkalan militer di luar negeri untuk melindungi kepentingan China.
“Pangkalan militer luar negeri didirikan untuk melindungi kepentingan luar negeri,” ujar media China sohu.com pada 9 Oktober 2018 lalu.
Mereka menyasar daerah Samudera Pasifik Barat wilayah Mikronesia untuk menempatkan pangkalan militernya.
Namun dari sisi geografis bila China membangun pangkalan di sana maka suplai logistik bakal kesulitan.
“Mikronesia terletak di rantai pulau kedua dan jauh dari daratan China, yang rentan terhadap kesulitan dalam pengerahan kekuatan militer dan dukungan logistik.
Dari sudut pandang politik, hubungan antara Mikronesia dekat dengan Amerika Serikat.
Mendirikan pangkalan militer di Mikronesia bukanlah pilihan yang masuk akal,” ujar sohu.com.
China kemudian berpikir keras lagi tempat mana yang cocok dijadikan pangkalan militernya.
Teropong mereka lantas mengarah ke satu tempat bekas wilayah Indonesia.
Ia adalah Timor Leste.
Seperti diketahui bila Timor Leste dulunya wilayah Indonesia.
China memilih Timor Leste karena negara itu condong kepadanya usai dicampakkan Australia.
Kebetulan China juga perlu menangani Australia sehingga cocok sekali Timor Leste dijadikan pangkalan militernya.
“Dalam lingkup rantai pulau pertama, ada negara kecil yang sangat mencolok yang mungkin menjadi pilihan lokasi pangkalan militer China di luar negeri.
Negara ini adalah Timor Timur.
Secara geografis, Timor Leste terletak di zona transisi antara Asia dan Oseania, antara Pasifik dan Samudra Hindia, dan antara rantai pulau pertama dan Pasifik Barat,” beber sohu.com.
Sohu.com menjelaskan bila sejak 2018 lalu China sudah menempatkan polisi penjaga perdamaian miliknya di Timor Leste.
“Saat ini, ada polisi penjaga perdamaian China yang ditempatkan di Timor Timur,” ujarnya.
Dengan kata lain saat ini China sudah menghadirkan kekuatan tempurnya di Timor Leste.
“Dapat dianggap bahwa China telah memiliki kehadiran militer tertentu di Timor Timur,” jelasnya.
Yang panas dingin atas hadirnya China di Timor Leste bukan Indonesia melainkan Australia.
“Timor Lorosae seharusnya tidak keberatan dengan pengerahan kekuatan militer China.
Namun, Timor Lorosa’e tentu harus memperhitungkan reaksi Amerika Serikat dan Australia,” bebernya.
Sementara itu dengan pangkalan militer China berada di sana maka Timor Leste mendapat payung keamanan dari Beijing.
“Pendirian pangkalan militer di Timor Timur akan memberikan keamanan bagi China dan Timor Timur untuk bekerja sama dalam pengembangan sumber daya.
Dari segala sisi, Timor Leste sangat cocok untuk penempatan militer di luar negeri, dan bukan tidak mungkin negara itu menjadi lokasi pangkalan militer luar negeri China selanjutnya,” jelas sohu.com.
Tapi saat ini China masih menuntut haknya di Natuna Utara milik Indonesia sembari menggodok pendirian pangkalan militer di Timor Leste.*
