6 Fakta Ramalan Presiden Jokowi Soal Demo Kenaikan Harga BBM Benar Terjadi

Perspektiftoday | Jakarta_Presiden Jokowi sudah memprediksi saat harga BBM naik, banyak aksi demo di mana. Prediksi ini berkaca pada pengalaman sebelum-sebelumnya.

Adapun harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertalite, Pertamax dan Solar subsidi resmi naik pada Sabtu (3/9/2022) pukul 14.30 WIB. Harga Pertalite naik jadi Rp10.000/liter.

Harga Solar Rp6.800/liter. Sedangkan harga Pertamax Rp14.500/liter, namun di beberapa provinsi luar Jawa ada yang harganya Rp14.850 dan Rp15.200.

Berikut fakta ramalan Presiden Jokowi soal demo harga BBM naik yang dirangkum, Minggu (11/9/2022):

1. Ramalan Demo di Mana-Mana

Ramalan Presiden Jokowi soal kenaikan harga BBM direspons demo ternyata benar. Usai pemerintah menaikan harga BBM Pertalite hingga Pertamax, serikat pekerja berencana melakukan aksi unjuk rasa pada 6 September 2022.

“Bayangkan kita naik kadang-kadang 10 persen saja, demonya 3 bulan. Ini (negara-negara lain) naik dua kali lipat artinya 100 persen naik” ujar Jokowi.

2. Demo Berhari-hari 

Polda Metro Jaya menutup sejumlah akses jalan di sekitar Istana kepresidenan RI, Jakarta Pusat, Jumat (9/9/2022). Hal itu dilakukan sebagai antisipasi unjuk rasa yang akan dilakukan sejumlah elemen mahasiswa tolak kenaikan harga BBM.

Rencananya, pada pengunjuk rasa akan menuju Istana. Dari informasi yang peroleh saat ini, massa yang akan menyampaikan aspirasinya berasal dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Diketahui, ini merupakan hari kelima elemen mahasiswa melakukan unjuk rasa. Mereka hendak unjuk rasa di depan Istana Kepresidenan RI, namun selalu gagal karena tak bisa melewati pertahanan polisi.

3. Respon Pengusaha

Pengusaha angkat suara soal kenaikan harga BBM Pertalite, Solar hingga Pertamax yang berlaku mulai hari ini. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, kenaikan BBM bersubsidi, telah diantisipasi kalangan pengusaha.

Menurut dia, kenaikan tarif BBM akan menyesuaikan dan bakal berpengaruh terhadap dunia usaha.

“Kita berharap agar Pemerintah mampu mengambil kebijakan yang tepat atas dampak kenaikan BBM misalnya seperti kenaikan tarif transportasi dan logistik harus seimbang, kemudian mengendalikan harga harga pokok pangan dan gas sehingga mampu mengendalikan dan menjaga inflasi dan konsumsi rumah tangga sehingga pertumbuhan ekonomi kita di kuartal III dan IV 2022 tetap diatas 5%,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (3/9/2022).

Dengan harapan terjaganya daya beli konsumsi rumah tangga, maka omzet pelaku usaha, ungkap Sarman, tidak turun secara drastis,sehingga tidak menurunkan produktivitas pelaku usaha.

“Kita apresiasi bahwa Pemerintah sudah menyiapkan dana bansos tambahan sebesar Rp24,17 triliun yang akan disalurkan kepada 20,65 juta kelompok keluarga penerima manfaat dalam bentuk tunai sebesar Rp150.000 dan diberikan selama empat kali,” ujarnya.

4. Ekonomi Akan Bergejolak

CEO PT Elkoranvidi Indonesia Investama Fendi Susiyanto mengatakan para investor pasar saham tengah mencermati hal yang bisa menjadi dampak dari kenaikan harga BBM.

Dampak yang pertama yaitu ekonomi, karena paling berhubungan dengan kenaikan harga BBM.

5. Kenaikan Harga Bahan Pokok

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan pemerintah perlu benar-benar mencermati dampak yang ketika memutuskan untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama yang subsidi.

Ketika pemerintah berencana menaikan harga BBM dalam waktu dekat, maka di saat bersamaan masyarakat juga harus melewati inflasi bahan pangan (volatile food) yang hampir sentuh 11% secara tahunan per Juli 2022.

“Masyarakat kelas menengah rentan juga akan terdampak, mungkin sebelumnya mereka kuat beli Pertamax, tapi sekarang mereka migrasi ke Pertalite dan kalau harga Pertalite juga ikut naik maka kelas menengah bisa saja korbankan belanja lain,” katanya.

6. Dampak ke Industri Jasa Keuangan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan, kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi merupakan respons pemerintah dalam menghadapi kondisi defisit anggaran, maupun fiskal yang berisiko karena adanya kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu belakang.

“Saat kondisi ketidakpastian global berlanjut, maka apabila tidak direspons dengan sesuai akan menimbulkan risiko yang dapat mempengaruhi kepercayaan terhadap kondisi ekonomi, maupun pengelolaan fiskal yang berkelanjutan,” kata Mahendra.

Mahendra menilai bahwa, keputusan menaikkan harga BBM turut memberikan kejelasan posisi pemerintah untuk tetap menjalankan kebijakan fiskal yang berkelanjutan.

Hal itu yang dapat memberikan sinyal kuat untuk langkah selanjutnya dalam menghadapi ketidakpastian harga minyak global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *