Perspektif.today_Setiap tahun, gema takbir membelah langit pagi. Di lapangan-lapangan luas, masjid, dan gang-gang sempit, umat Islam berkumpul dalam suasana khidmat merayakan Iduladha. Tangan-tangan terangkat, menyambut datangnya hari agung yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Tapi di balik hiruk-pikuk itu, ada satu yang sering luput: ego manusia, yang tetap berdiri tegak, tak tersentuh sembelih.

Di antara sapi-sapi gemuk dan kambing bertanduk yang ditumbangkan di tanah lapang, kita mungkin lupa bahwa kurban sesungguhnya bukan soal darah dan daging. Tuhan, seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, “tidak menerima daging dan darahnya, melainkan ketakwaan kalian.” Maka pertanyaannya: kepada siapa sebenarnya hewan itu dikurbankan? Kepada Tuhan, atau kepada nafsu pencitraan sosial?
Ibrahim, Ismail, dan Pelajaran tentang Keikhlasan
Kisah kurban bermula dari panggilan yang sangat manusiawi namun mengguncang: Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail. Sebuah perintah yang nyaris tak masuk akal jika dilihat dari kacamata modern. Tapi bukan logika yang sedang diuji, melainkan ketundukan, pengorbanan, dan keberanian menaklukkan ego: ego seorang ayah terhadap anaknya, ego seorang manusia terhadap rasa memiliki.
Itulah kurban yang sejati: bukan pada sapi seharga puluhan juta rupiah, tetapi pada rasa memiliki yang mutlak terhadap sesuatu—harta, status, bahkan orang yang paling dicintai. Namun realitas hari ini justru memperlihatkan bahwa yang terus dipelihara adalah ego kita sendiri. Semakin besar sapi yang dikurbankan, semakin besar pula rasa ingin dilihat dan dipuji. Kesalehan berubah bentuk menjadi performa.
Kurban sebagai Konsumsi Simbolik
Tak bisa dimungkiri, Iduladha telah menjadi ajang pertunjukan sosial. Di media sosial, parade foto sapi dengan pita merah dan narasi penuh rasa syukur membanjiri linimasa. Sebuah ironi di tengah peringatan tentang keikhlasan. Ritual yang seharusnya sunyi dan personal berubah menjadi festival digital. Daging-daging kurban bukan hanya dikemas untuk dibagikan, tapi juga dibungkus dalam egoisme sosial yang tak kasat mata.
Fenomena ini sejalan dengan apa yang dikritik oleh sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, mengenai “modal simbolik”—bagaimana praktik keagamaan bisa menjadi alat untuk mendapatkan pengakuan, status, bahkan kuasa. Dalam logika ini, kurban tak lagi menjadi alat spiritual, melainkan alat legitimasi sosial: siapa paling dermawan, siapa paling layak disebut “pemimpin umat”.
Lebih jauh lagi, dalam sistem masyarakat kapitalistik, kurban menjadi bagian dari konsumsi musiman. Sama seperti Natal atau Lebaran, Iduladha tak luput dari komodifikasi. Harga hewan kurban naik drastis menjelang hari raya, jasa layanan kurban online bersaing menawarkan paket “syariah”, bahkan muncul kurban kolektif berbasis NFT di dunia virtual. Di balik modernitas itu, substansi spiritual justru menyusut. Kurban menjadi efisien, tapi juga semakin jauh dari esensi pengorbanan diri.
Distribusi Daging dan Struktur Ketimpangan
Salah satu argumen populer tentang kurban adalah bahwa ia memberi akses daging kepada masyarakat miskin. Namun seberapa dalam logika ini benar? Apakah kurban memang memperbaiki gizi masyarakat, atau hanya menjadi ilusi distribusi yang menutupi struktur ketimpangan yang lebih dalam?
Setahun sekali, masyarakat miskin dapat makan daging. Tapi sisanya? Mereka tetap hidup dalam kemiskinan struktural, harga bahan pokok tetap tak terjangkau, akses layanan kesehatan tetap timpang. Kurban menjadi semacam anestesi sosial—pereda rasa bersalah bagi yang mampu, penenang temporer bagi yang menerima. Kita memberi sepotong daging untuk menenangkan nurani, bukan untuk mengubah sistem.
Kita perlu bertanya lebih jauh: apakah sistem distribusi kurban benar-benar adil? Apakah mereka yang menerima memang yang paling membutuhkan? Atau distribusi itu mengikuti pola relasi kuasa: yang dekat dengan masjid, yang kenal dengan panitia, yang “layak secara moral” menurut penilaian elit lokal. Lagi-lagi, ego manusia—dalam bentuk kuasa sosial—menentukan siapa yang layak mendapat manfaat dari kurban.
Ego Kolektif dalam Lembaga dan Pemerintahan
Lebih ironis lagi ketika institusi kekuasaan ikut menunggangi momentum kurban. Pejabat publik tampil di televisi atau media sosial dengan potret diri menyerahkan daging kurban kepada rakyat kecil, lengkap dengan narasi bahwa negara hadir di tengah masyarakat. Padahal, jika negara benar-benar hadir, rakyat tak perlu menunggu Iduladha untuk bisa mencicipi daging.
Kurban menjadi ajang relasi kuasa simbolik: pemerintah seolah “turun ke bawah” dalam bentuk seremonial, bukan kebijakan substansial. Mereka menyumbang sapi, tetapi gagal mengendalikan harga pangan. Mereka membagikan daging, tapi menutup mata terhadap ketimpangan gizi anak-anak di pelosok negeri.
Ego lembaga juga terlihat dalam cara pengelolaan kurban yang sering kali berorientasi pada reputasi, bukan transformasi. Bahkan lembaga keagamaan pun tak luput dari kecenderungan ini. Dalam beberapa kasus, kompetisi antarorganisasi dalam mempublikasikan jumlah hewan kurban yang terkumpul lebih menonjol dibanding dampak sosialnya. Kita menyembelih hewan dalam jumlah ribuan, tapi gagal menyembelih ego sektoral dan kepentingan institusional.
Kurban dan Kesalehan Ekologis yang Terabaikan
Di tengah krisis iklim dan krisis pangan, seharusnya perayaan kurban juga menjadi momentum refleksi ekologis. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Limbah penyembelihan mengotori lingkungan, sisa darah dan kotoran menggenangi jalan, plastik-plastik pembungkus daging mencemari tanah. Kita menyebutnya ibadah, tapi sering lupa bahwa bumi pun punya hak untuk dihormati.
Kurban seharusnya mengajarkan kesalehan ekologis: bagaimana kita memperlakukan hewan dengan kasih sayang, tidak menyiksa, tidak berlebihan. Tapi praktik di lapangan kadang jauh dari itu. Penyembelihan yang brutal, hewan yang diperlakukan seperti objek produksi massal, dan distribusi yang mubazir menunjukkan bahwa kurban telah kehilangan dimensi etikanya.
Bahkan dalam pemilihan hewan pun, ego manusia ikut campur. Sapi besar dianggap lebih mulia, kambing biasa dianggap kurang bernilai. Padahal nilai kurban tidak diukur dari bobot hewan, melainkan dari keikhlasan dan keadilan distribusi. Tapi siapa peduli? Yang penting difoto bersama sapi seberat satu ton, bukan merenungi makna pengorbanan.
Menyembelih Ego, Membangun Kesalehan Sosial
Sudah saatnya kita menempatkan kembali kurban dalam rel yang tepat. Kurban bukan hanya soal ritual keagamaan, tetapi juga panggilan etis untuk menyembelih keangkuhan, pamrih, dan kerakusan. Kurban yang sejati tidak cukup berhenti pada kandang hewan, tapi harus masuk ke ruang batin dan struktur sosial yang lebih luas.
Kita bisa mulai dari hal sederhana: tidak memamerkan kurban di media sosial, tidak menjadikan ritual sebagai panggung pencitraan, serta memastikan bahwa daging yang disalurkan benar-benar sampai kepada yang paling membutuhkan—bukan yang paling terlihat. Organisasi keagamaan juga perlu mendorong narasi baru: bahwa kurban adalah aksi transformasi sosial, bukan perlombaan kedermawanan.
Kita juga perlu menyuarakan tafsir baru tentang kurban dalam konteks hari ini. Di tengah krisis kemanusiaan global, perubahan iklim, dan konflik sosial, kurban bisa dimaknai sebagai aksi nyata dalam membantu sesama: memberi kepada pengungsi, mendukung petani kecil, atau mendanai gerakan kemanusiaan. Kurban tak harus selalu berwujud daging—ia bisa berupa waktu, tenaga, atau harta yang digunakan untuk menolong yang tertindas.
Penutup: Kurban yang Tertunda
Selama ego belum juga disembelih, selama kita masih terjebak dalam simbol dan tidak menyentuh esensi, maka Iduladha hanya akan jadi seremoni tahunan yang kering makna. Kita mungkin menumbangkan ribuan hewan, tapi membiarkan ego, kesombongan, dan ketidakadilan tetap berdiri. Kita mencucurkan darah di bumi, tapi lupa membersihkan batin dari keserakahan.
Maka pertanyaan besar yang mesti kita ajukan: sudahkah kita benar-benar berkurban? Ataukah kita hanya menebus dosa dengan daging, sambil terus mempertahankan kuasa dan keangkuhan?
Iduladha mestinya menjadi momen radikal untuk membongkar ego, baik secara pribadi maupun kolektif. Menyembelih bukan hanya soal pisau dan leher hewan, tapi tentang keberanian untuk melepaskan keterikatan terhadap dunia yang fana—jabatan, status, kekuasaan, bahkan citra kesalehan. Dan selama ego masih kita rawat, kurban hanyalah ritual yang kehilangan ruhnya.
Penulis adalah dosen universitas Bung Hatta
