Cantik yang Katanya dari Dalam

“Beauty fades, character remains.”
“Inner beauty never needs makeup.”

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Perspektif.today_Di zaman ini, inner beauty sudah jadi semacam mantra wajib perempuan urban. Tapi seperti kebanyakan mantra, ia lebih sering diucapkan daripada benar-benar diyakini. Ia dipajang dalam bentuk kutipan motivasi, dijadikan caption setelah selfie, atau dilontarkan sebagai tameng saat merasa kalah bersaing di ranah visual. Namun kenyataan sehari-hari menunjukkan hal lain: krim pemutih tetap laku, klinik estetik tak pernah sepi, dan filter makin canggih menyesuaikan bentuk wajah ideal versi algoritma.

Kita hidup dalam zaman ketika perempuan didorong mencintai diri sendiri, tapi hanya jika diri itu sudah melalui tahap “perbaikan minor”—dagu lebih runcing, pipi lebih tirus, kulit lebih cerah. Katanya merayakan keberagaman, tapi yang tampil di iklan dan media sosial tetap saja: glowing, langsing, simetris.

Industri kecantikan tahu betul bahwa “inner beauty” adalah pintu masuk yang manis untuk menjual produk luar. Tak perlu lagi iklan dengan model bule dan slogan agresif. Sekarang narasinya lebih lembut: self-care, self-love, be the best version of yourself. Tapi versi terbaik yang ditawarkan tetap satu paket: skincare 10 langkah, treatment laser, suplemen kolagen, dan kalau bisa, suntik sana-sini.

Pasarnya pun makin luas. Laporan dari Statista mencatat bahwa pasar kosmetik dan perawatan kulit Indonesia menyentuh angka USD 7,5 miliar pada 2024. Pertumbuhannya stabil, bahkan selama masa pandemi. Ibu kota dan kota-kota besar dipenuhi klinik estetika, salon modern, hingga warung kecil yang menjual masker wajah rumahan. Bahkan di e-commerce, produk pemutih tanpa izin edar tetap mudah didapat. Label “herbal” atau “alami” cukup untuk meyakinkan pembeli, meskipun isi sebenarnya bisa bikin kulit rusak permanen.

Lucunya, semua dilakukan atas nama “merawat diri”. Bahkan risiko kesehatan pun tak jadi soal, asal tampil “sehat” di kamera.

Sebenarnya, kita tak sedang menertawakan mereka yang ingin tampil menarik. Siapa pun berhak merasa cantik. Tapi ada perbedaan besar antara merawat diri karena menghargai tubuh sendiri, dengan merawat diri karena takut tak diterima publik. Dan sayangnya, yang kedua jauh lebih dominan.

Sosial media memperparahnya. Aplikasi seperti Instagram dan TikTok tak hanya menampilkan wajah cantik, tapi menciptakan standar baru tentang bagaimana cantik itu seharusnya. Kulit halus seperti porselen, bibir simetris, hidung mancung, dagu lancip. Lalu muncullah konten “get ready with me” yang lebih mirip sesi dandan seleb K-Pop. Perempuan muda yang belum genap 20 tahun sudah tahu istilah seperti “double cleansing“, “ceramide barrier“, atau “nasolabial fold“.

Ketika filter wajah menjadi default, wajah asli mulai terasa asing. Bahkan anak-anak usia SD kini mulai bertanya: “Mama, aku kapan bisa facial?”

Kita mungkin berpikir ini hanya soal pilihan pribadi. Tapi dalam skala besar, ini soal sosial, ekonomi, bahkan kebijakan publik. Pemerintah gembar-gembor soal kesehatan mental, tapi tak pernah mengatur serius industri kecantikan yang menjual ilusi lewat promosi masif. Produk pemutih kulit masih bebas berseliweran di marketplace tanpa pengawasan yang ketat. Klinik ilegal bermunculan dengan tenaga medis abal-abal. Kasus wajah rusak karena suntik ilegal sudah berulang kali terjadi—dan hampir selalu disikapi dengan nada pasrah: “Itu risiko, kan?”

Lembaga seperti BPOM dan Kemenkes punya pekerjaan rumah besar. Bukan hanya mengatur izin edar, tapi juga memantau tren manipulatif dalam promosi produk. Edukasi tentang keamanan bahan, efek jangka panjang, dan standar etika promosi harus masuk ke ruang-ruang publik—terutama di media sosial. Tapi sayangnya, anggaran kampanye edukasi sering kalah oleh bujet endorse brand kecantikan.

Yang ironis, banyak dari perempuan yang terjebak dalam siklus ini sebenarnya tahu. Mereka sadar tubuhnya sehat-sehat saja tanpa krim pemutih. Mereka tahu dagu lancip tak menjamin bahagia. Tapi sistem sosial dan tekanan visual terlalu kuat. Akhirnya, sembari menyeru “yang penting hati”, mereka tetap menyicil paket perawatan “glow up” setiap bulan.

Dan karena semua orang melakukannya, kegilaan ini jadi normal.

Apa jalan keluarnya?

Pertama, kita harus mulai bicara jujur. Akui bahwa kita semua, dalam berbagai kadar, terpengaruh oleh standar kecantikan yang tak masuk akal. Jangan pura-pura netral dengan kalimat “itu kan pilihan masing-masing”, karena banyak pilihan itu lahir dari tekanan sosial, bukan kebebasan sejati.

Kedua, beri ruang bagi perempuan untuk tampil apa adanya, tanpa komentar, tanpa olok-olok, dan tanpa embel-embel “tapi akan lebih bagus kalau…”. Representasi perempuan dalam media harus melampaui wajah simetris dan kulit mulus. Perempuan usia 40-an, perempuan dengan tubuh besar, perempuan dengan kulit gelap, semua harus punya tempat.

Ketiga, dan ini yang paling sulit: mulailah percaya bahwa inner beauty memang cukup. Bukan sebagai slogan. Bukan sebagai taktik pemasaran. Tapi sebagai prinsip hidup. Bahwa karakter, empati, dan isi kepala masih bisa membuat seseorang menarik, bahkan ketika wajahnya tak masuk kamera TikTok.

Kecantikan sejati memang datang dari dalam. Tapi dalam masyarakat yang lebih peduli penampilan luar, sering kali yang dari dalam tak sempat terlihat. Sebab, sebelum sempat berbicara, perempuan sudah lebih dulu dinilai dari kilap wajahnya.

Dan begitulah, kita terus memburu kecantikan luar, sambil mengucapkan bahwa yang paling penting adalah yang tak terlihat. Ironi yang kita rawat, sambil memoles wajah di cermin setiap pagi.

***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *