Dermaga, Sumbu Maritim yang Sering Dilupakan

Perspektif.today_Setiap tanggal 17 Juni, ada peringatan nasional yang nyaris tak terdengar: Hari Dermaga Nasional. Di tengah riuh rendah perayaan politik, olahraga, hingga hari besar keagamaan, dermaga agaknya tak cukup seksi untuk dijadikan tajuk utama. Padahal, bagi negeri kepulauan seperti Indonesia, dermaga bukan sekadar lansekap beton dan besi di tepi laut. Ia adalah simpul kehidupan, penjaga gerbang maritim yang senyap tapi vital, penghubung antar pulau dan penyambung logistik dari barat ke timur.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)
Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Tak berlebihan jika menyebut dermaga sebagai denyut nadi negara kepulauan. Dari ekspor sawit Sumatera hingga nikel Sulawesi, dari ikan segar Maluku sampai pasokan logistik pariwisata Bali, semuanya bermuara di satu titik yang sering terlupakan: dermaga. Di sanalah segala urusan perut, energi, hingga perdagangan nasional berputar. Tanpa dermaga yang layak, kapal tanker pengangkut BBM tak bisa bersandar di Papua. Dan tanpa itu, warga di sana tak bisa memasak atau bergerak. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal hidup sehari-hari.

Di pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, atau Belawan, nilai transaksi ekonomi yang berlangsung setiap hari mencapai miliaran dolar. Menurut data Kementerian Perhubungan, sepanjang 2023, arus kargo terus menanjak, dengan jutaan TEUs kontainer dibongkar muat. Sementara alat berat dan sistem digital bekerja nyaris tanpa henti, dermaga menjadi saksi bisu betapa pentingnya rantai logistik nasional.

Ambil contoh Batam. Terletak di jalur pelayaran strategis Selat Malaka, Batam menjadi titik kunci dalam perdagangan dan manufaktur. Pelabuhan Batu Ampar dan Kabil bukan cuma tempat lalu-lalang kapal, tetapi pusat aktivitas industri berat, perakitan barang elektronik, dan pengiriman kargo ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Ribuan ton barang keluar-masuk setiap hari, menjadikan dermaga di Batam sebagai penggerak ekonomi kawasan sekaligus simbol daya saing industri nasional.

Namun, dermaga bukan hanya milik kota besar. Di Pulau Buru, Kepulauan Mentawai, atau daerah-daerah terpencil lainnya, dermaga berperan sebagai urat nadi kehidupan. Di sanalah kapal kayu membawa sembako, bahan bangunan, atau hasil panen. Para nelayan di pesisir seperti Lamalera dan Pacitan menggantungkan nasib pada dermaga untuk menyalurkan ikan hasil tangkapan. Ia adalah jembatan konkret antara pulau dan dunia luar, antara budaya lokal dan peta ekonomi nasional.

Lebih jauh, dermaga juga menyimpan nilai strategis pertahanan. Di pulau-pulau terluar seperti Sebatik dan Natuna, dermaga menjadi pangkalan logistik militer, pos jaga perbatasan, sekaligus pernyataan kehadiran negara. Tanpa dermaga, batas maritim Indonesia hanya akan menjadi titik-titik koordinat di peta, tak berdaya menandingi kepentingan geopolitik di sekitarnya.

Sayangnya, peran penting ini belum selalu disambut perhatian yang setara. Meski jargon “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia” pernah menggema, pembangunan dermaga belum seragam. Program Tol Laut yang diluncurkan Presiden Joko Widodo menjadi langkah awal penting. Tujuannya mulia: mempercepat konektivitas, memangkas disparitas harga, dan mengefisienkan logistik antarwilayah. Tapi kapal besar tak akan banyak berguna jika dermaga tempatnya bersandar belum memadai. Banyak kapal akhirnya antre berhari-hari, biaya pun melonjak, dan harga barang di kawasan timur tetap tak terjangkau.

Masalah lain adalah infrastruktur yang timpang. Di satu sisi, ada pelabuhan modern dengan teknologi crane otomatis dan sistem digital canggih, seperti JICT di Jakarta. Di sisi lain, masih banyak dermaga reyot, tak tahan pasang-surut, tanpa alat bongkar modern, bahkan tanpa penerangan yang memadai. Efisiensi operasional juga belum optimal. Waktu tunggu kapal dan proses bongkar muat masih jadi momok. Padahal sistem digital seperti Inaportnet sudah tersedia, tinggal kemauan untuk menyinkronkan antarinstansi yang kerap jalan sendiri-sendiri.

Batam, misalnya, sebagai kawasan ekonomi khusus sekaligus daerah perbatasan, membutuhkan koordinasi antara BP Batam, Pelindo, dan Kementerian Perhubungan. Jika tidak sinkron, potensi kawasan itu hanya akan jadi rencana di atas kertas. Padahal Batam adalah etalase Indonesia di mata investor global.

Momentum Hari Dermaga Nasional semestinya bukan hanya jadi seremoni tahunan. Ia harus menjadi refleksi sejauh mana kita memperlakukan dermaga sebagai simpul strategis. Apakah perhatian negara sudah cukup? Apakah investasi di sektor ini sepadan dengan impian menjadi kekuatan maritim dunia?

Kesejahteraan daratan, pada akhirnya, bertumpu pada lancarnya logistik laut. Dan logistik laut hanya sebaik dermaga tempat kapal bersandar. Ketika 17 Juni datang, mari kita menengok ke arah lautan, ke dermaga-dermaga yang berdiri dalam diam, memikul beban Nusantara. Jangan biarkan ia terus jadi infrastruktur yang disanjung di pidato, tapi dilupakan dalam kebijakan. Sebab dari sanalah Indonesia menyatu.
*
Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *