Perspektif.today-Berapa nilai sebuah lukisan abstrak? Seberapa berharganya sebuah pertunjukan tari kontemporer yang hanya disaksikan segelintir orang? Di era di mana segala sesuatu cenderung diukur dengan angka, buku “Realizing the Values of Art: Making Space for Cultural Civil Society” hadir sebagai tamparan keras, sebuah argumen bahwa seni dan kebudayaan tak bisa semata direduksi menjadi deretan nominal di laporan keuangan. Ditulis oleh Erwin Dekker dan Valeria Morea, buku terbitan 2023 ini mengajak kita meninjau ulang cara pandang yang terlampau simplistis dalam mengukur denyut nadi kebudayaan.

Sejak lama, kebijakan kebudayaan dan diskusi seputar seni seringkali terjebak dalam perangkap taksonomi dan hierarki yang kaku. Mana seni “tinggi” dan mana seni “rendah”? Mana yang layak didanai dan mana yang tidak? Pertanyaan-pertanyaan ini, kata Dekker dan Morea, justru menyesatkan. Mereka menyerukan pendekatan yang lebih empiris, menelusuri nilai-nilai seni sebagaimana ia hidup dan berdenyut dalam praktik-praktik sosial yang nyata, bukan sekadar di menara gading.
Ilusi Nilai Moneter dan Esensi Ko-kreasi
Dekker dan Morea dengan tajam membongkar ilusi bahwa metrik moneter adalah satu-satunya filter sahih untuk menafsirkan nilai tindakan dan karya seni manusia. Mereka berargumen, nilai-nilai dalam ekonomi budaya jauh lebih beragam dan multidimensional daripada sekadar angka yang tercatat di pasar. Ada nilai yang terwujud dalam praktik non-pasar, dalam interaksi, dalam pengalaman bersama, bahkan dalam perlawanan.
Seni, dalam kacamata mereka, bukanlah entitas beku yang eksis secara mandiri. Ia terikat pada ruang dan waktu, sangat peka terhadap praktik sosial yang mengelilinginya. Interpretasi dan apresiasi seni, bagi mereka, memerlukan pendekatan yang tidak menghakimi, yang memungkinkan keragaman suara dan perspektif muncul ke permukaan.
Di sinilah konsep “ko-kreasi” menjadi vital. Seni bukan lagi hasil akhir yang statis dari seorang seniman, melainkan sebuah proses yang melibatkan audiens. Apakah melalui transaksi di pasar atau melalui praktik-praktik sosial—semisal diskusi, kritik, atau bahkan remixing—audiens turut membentuk dan menghidupkan karya seni. Ini adalah pergeseran dari paradigma seni sebagai produk tunggal menjadi seni sebagai sebuah dialog yang berkelanjutan.

Masyarakat Sipil Budaya: Suara yang Sering Terabaikan
Mengapa masyarakat sipil budaya sering terlewatkan dalam diskursus seni dan kebijakan? Buku ini menjawabnya dengan gamblang. Mereka adalah ruang di mana suara-suara beragam dapat berekspresi secara otentik, di mana praktik-praktik sosial di sekitar seni dapat berkembang tanpa dikontrol oleh kekuatan dominan.
Bayangkan kolektif-kolektif seni akar rumput di Venesia yang berjuang menjaga ruang kreativitas mereka dari serbuan turisme massal. Atau seniman hip hop yang menggunakan rima dan irama untuk menyuarakan ketidakadilan sosial. Ada pula festival tari dan musik lokal yang lahir dari inisiatif komunitas, jauh dari sorotan dan sokongan korporat besar. Dekker dan Morea membawa contoh-contoh ini, termasuk Queer Museum di Brazil, untuk menunjukkan bagaimana kreativitas seringkali muncul sebagai reaksi terhadap ekosistem yang hostile—lingkungan yang tidak ramah, cenderung menindas, atau terlalu didominasi oleh satu narasi.
Mereka adalah bukti nyata bahwa seni tidak hanya lahir dari institusi mapan atau galeri mewah, tetapi juga dari gejolak sosial, dari kebutuhan untuk berekspresi di tengah keterbatasan. Mereka adalah jantung dari masyarakat sipil budaya, tempat di mana keragaman praktik dan suara tidak hanya ditoleransi, tetapi juga dirayakan dan diperjuangkan.
Peran Negara: Menjamin Ruang, Bukan Mendikte Rasa
Jika nilai seni tak melulu soal uang, dan masyarakat sipil budaya adalah kuncinya, lantas apa peran negara dan kebijakan publik? Dekker dan Morea berpendapat, peran negara bukanlah untuk menentukan “seni yang baik” atau mendikte selera. Bukan pula untuk memihak pada satu bentuk seni tertentu. Sebaliknya, tugas negara adalah menciptakan kerangka hukum yang stabil. Sebuah kerangka yang menjamin ruang aman bagi praktik-praktik sosial di sekitar seni dapat hidup berdampingan. Ruang di mana suara-suara minoritas terlindungi dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Ini berarti kebijakan budaya harus bergeser dari patronase yang top-down ke fasilitasi yang inklusif. Pemerintah, menurut buku ini, seharusnya menjadi penjaga gerbang kebebasan berekspresi, bukan kurator tunggal yang menentukan apa yang boleh atau tidak boleh disebut seni.
Ekonomi Budaya dan Masa Depan Kreativitas
“Making Space for Cultural Civil Society” bukan hanya sebuah kritik, tetapi juga sebuah peta jalan. Ia menunjukkan bagaimana ekonomi budaya, dengan segala kerumitannya, dapat menjadi penunjuk arah bagi ekonomi kreatif yang lebih luas. Ia menegaskan kembali bahwa nilai-nilai kebudayaan – keyakinan, praktik, dan identitas – adalah penggerak ekonomi yang tak kalah kuat dari modal finansial.
Di tengah globalisasi dan dominasi digital, pemahaman ini menjadi semakin krusial. Bagaimana kita menjaga keragaman budaya di era algoritma? Bagaimana kita memastikan suara-suara kecil tetap terdengar di tengah raksasa industri? Buku ini tidak menawarkan jawaban tunggal, tetapi membuka ruang untuk perdebatan yang lebih dalam dan tindakan yang lebih inklusif. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap transaksi ekonomi, ada lapisan-lapisan makna, nilai, dan praktik budaya yang tak terlihat, namun esensial. Sebuah pengingat bahwa seni, pada akhirnya, adalah tentang manusia, bukan sekadar angka.
*
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
