Perspektif.today_Ada kalanya hidup menghadirkan tembok tinggi di hadapan kita, seolah ingin menguji seberapa dalam keyakinan yang kita genggam. Mimpi-mimpi besar terasa musnah, dan harapan seolah menguap ditelan realita. Namun, di antara keputusasaan itu, selalu ada suara bisikan kearifan yang melintasi zaman dan batas budaya. Dua di antaranya, dari khazanah peribahasa Inggris, menjejakkan makna yang amat dalam: “Where there’s a will, there’s a way,” dan “Practice makes perfect.” Dua kutub kekuatan yang, jika bersinergi, mampu membelah lautan tantangan dan menempa keunggulan.

Mari kita bertolak ke sebuah sudut Padang, di mana aroma rempah dan cerita lama berbaur dalam setiap embusan angin. Di sana, hiduplah Aisha, seorang sarjana muda lulusan jurusan sastra yang tiba-tiba merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali seni tenun songket Minangkabau yang nyaris redup. Bukan sekadar menenun, Aisha bermimpi mendirikan sentra industri songket modern yang tidak hanya melestarikan motif kuno, tetapi juga menembus pasar global dengan desain kontemporer. Sebuah ambisi yang terasa muluk, mengingat ia tak punya modal, tak punya pengalaman bisnis, apalagi jaringan pengrajin.
Tembok pertama yang Aisha hadapi adalah modal. Bank menolak proposalnya. Investor yang ia temui hanya menatapnya dengan skeptis. “Bagaimana mungkin lulusan sastra bisa menggerakkan industri?” Kira-kira begitulah tatapan yang ia tangkap. Namun, di dalam diri Aisha, menyala sebuah tekad yang tak tergoyahkan. Ia percaya pada potensi songket, pada nilai budaya yang terkandung di dalamnya, dan pada kemampuan tangan-tangan pengrajin lokal yang kini tak banyak dilirik. Inilah inti dari “Where there’s a will, there’s a way.“
Tekadnya itu mendorongnya untuk mencari jalan tak lazim. Aisha mulai mengunjungi desa-desa di pinggiran Padang, berbicara dengan para indak (ibu-ibu) pengrajin songket yang tersisa. Ia menawarkan diri menjadi sukarelawan, membantu memasarkan hasil tenunan mereka secara kecil-kecilan melalui media sosial pribadinya. Dari situ, ia bertemu dengan Pak Jamal, seorang pensiunan pengusaha tekstil yang tergerak melihat semangatnya. Pak Jamal bukan hanya memberikan modal awal, tetapi juga memperkenalkan Aisha pada jejaring perajin di daerah Pandai Sikek, Tanah Datar, dan memberikan bimbingan tentang manajemen produksi yang ia peroleh dari puluhan tahun berkecimpah di industri tekstil. Jalan itu mulai terkuak, bukan dengan palu godam, melainkan dengan ketuk-ketuk kecil yang gigih. Ia menunjukkan bahwa jika kemauan itu sungguh kuat, pikiran akan mencari dan menemukan celah, bahkan di antara bebatuan yang paling keras sekalipun.
Namun, menemukan “jalan” hanyalah permulaan. Jalan itu penuh kerikil, liku, dan jurang yang tak terduga. Aisha, dengan bantuan Pak Jamal, kini punya modal dan mentor. Tapi bagaimana dengan kualitas produksi yang konsisten? Bagaimana dengan desain yang mampu bersaing di pasar global? Di sinilah peribahasa kedua, “Practice makes perfect,” menjadi mantra yang tak terpisahkan.
Aisha menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk belajar menenun sendiri, memahami seluk-beluk benang, warna, dan motif. Ia duduk berjam-jam di samping para indak pengrajin, mengamati setiap gerakan tangan mereka yang begitu lihai, mengulang setiap langkah, dari menyusun benang lusi hingga menyelipkan benang pakan emas dan perak. Banyak tenunannya yang awalnya cacat, benang putus, atau motifnya tidak simetris. Namun, setiap kegagalan itu adalah guru. Ia terus “berlatih,” mengidentifikasi kesalahan, meminta masukan dari pengrajin senior, dan memperbaiki diri.
Lihat pula pada Niniak Sutan, seorang koki legendaris di sebuah rumah makan Nasi Kapau di Bukittinggi. Ia dikenal karena kari ayam-nya yang rasanya tak pernah berubah, selalu sempurna dalam setiap hidangan. Rahasianya? Bukan hanya resep turun-temurun, melainkan ribuan kali pengulangan. Niniak Sutan “berlatih” setiap hari: menumis bumbu hingga harumnya pas, mengukur santan dengan presisi yang hanya ia ketahui, dan mengaduk masakan hingga bumbu meresap sempurna. Baginya, “perfect” bukan berarti tidak pernah membuat kesalahan, tetapi mencapai tingkat kemahiran di mana kualitas prima menjadi standar yang konsisten, sebuah hasil dari akumulasi latihan yang tak pernah berhenti.
Di salah satu bangku Universitas Andalas, seorang mahasiswa bernama Fajar berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Bahasa Inggris-nya pas-pasan, kemampuan presentasinya biasa saja. Namun, tekadnya bulat. Setiap pagi sebelum kuliah, ia menghafal kosakata. Setiap sore, ia berlatih berbicara di depan cermin. Setiap malam, ia menulis esai dan meminta temannya mengoreksi. Ia tidak langsung menjadi sempurna, tetapi setiap sesi “latihan” membawanya selangkah lebih dekat. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan beasiswa impiannya. Fajar adalah bukti nyata bahwa “practice makes perfect” adalah janji yang ditepati oleh ketekunan.
Kedua peribahasa ini, “Where there’s a will, there’s a way” dan “Practice makes perfect,” tak bisa dipisahkan. Kemauan keras (the will) adalah percikan api pertama yang menyulut semangat, membuka mata kita pada berbagai kemungkinan dan jalan keluar yang tak terlihat. Ia adalah kekuatan pendorong yang membuat kita berani melangkah saat pintu lama tertutup. Namun, setelah jalan itu ditemukan, keunggulan dan keberhasilan di dalamnya hanya bisa diraih melalui latihan yang tiada henti (the practice). Tanpa ketekunan dan pengulangan, jalan yang terbuka itu mungkin tetap buntu, atau hanya akan membawa kita pada hasil yang medioker.
Kisah Aisha, Niniak Sutan, dan Fajar, adalah cerminan dari semangat yang sama. Mereka adalah bukti bahwa di tengah setiap kesulitan, manusia selalu punya kemampuan untuk menemukan jalannya. Dan ketika jalan itu terkuak, mereka punya daya untuk mengasah diri, menempa kemampuan, hingga mencapai tingkatan yang optimal. Ini adalah optimisme yang realistik: bahwa takdir tidak sepenuhnya berada di luar kendali kita, ia juga dibentuk oleh tekad dan setiap tetes keringat yang kita curahkan. Di mana ada kemauan untuk mencari, di situ ada jalan yang ditemukan. Dan di mana ada latihan yang tak terputus, di situ lah kesempurnaan perlahan-lahan ditempa.
***
