Perspektif.today_Di balik percakapan santai, sering kali kita tak sadar sedang menjadi saksi lahirnya keangkuhan dalam rupa paling halusnya. Bukan dalam bentuk suara lantang atau sikap meremehkan secara vulgar, melainkan terselip rapi di antara kata-kata sehari-hari yang kita anggap biasa. Seolah tak berbahaya. Namun, seperti racun kecil yang menetes pelan, ia menyusup lewat frasa sederhana, lalu menanamkan benih superioritas.

Baru-baru ini, sebuah artikel ringan dari JawaPos.com mengungkap daftar tujuh ungkapan yang, tanpa sadar, sering menjadi ciri khas orang angkuh saat berbicara dalam obrolan kasual. Ungkapan-ungkapan ini begitu akrab di telinga kita, barangkali bahkan keluar dari mulut kita sendiri. Namun, siapa sangka, di baliknya tersembunyi sikap ingin tampil lebih tahu, lebih berpengalaman, lebih benar. Lebih dari orang lain.
Yang pertama, dan barangkali paling sering kita dengar: “Sejujurnya…”
Sekilas, kata ini tampak seperti pintu masuk yang baik untuk memulai kejujuran. Padahal, dalam banyak kasus, ini hanyalah selubung bagi pernyataan yang ingin diberi bobot lebih, seolah yang lain belum cukup jujur. Orang yang mengawali kalimatnya dengan ‘sejujurnya’, tanpa sadar sedang menempatkan dirinya pada posisi superior: saya lebih tahu yang benar, saya lebih jujur daripada kalian. Padahal, kejujuran tak butuh diberi label di awal.
Psikolog dari University of British Columbia, Dr. Elizabeth Dunn, dalam studinya tentang pola komunikasi interpersonal menyebut, “Frasa semacam ini sering dipakai untuk menciptakan kesan otoritas moral, bukan kejujuran. Ia berfungsi menegaskan hierarki psikologis yang tak selalu disadari oleh pembicara maupun pendengarnya.”
Ungkapan kedua: “Saat saya dulu di…”
Kalimat pembuka ini sering dipakai untuk menegaskan status sosial, pengalaman kerja, atau masa lalu yang dianggap lebih hebat daripada lawan bicara. Sering muncul di obrolan reuni, saat seseorang ingin menonjolkan identitas atau koneksi masa lalunya yang prestisius. Tidak ada yang salah menceritakan pengalaman, tetapi ketika dipakai berulang, ia lebih sering terdengar seperti pamer ketimbang berbagi.
Lalu ada frasa “Sebenarnya…” yang kerap menyelinap dalam percakapan santai. Biasanya muncul saat seseorang ingin mengoreksi pendapat orang lain, sekaligus menegaskan bahwa dialah yang memegang kebenaran. “Sebenarnya, tidak begitu.” Dengan kata lain, ‘yang kamu tahu salah, dengarkan aku karena aku lebih paham.’ Sering kali, ini bukan sekadar perbaikan informasi, melainkan cara halus menyudutkan.
Ungkapan keempat lebih subtil, tapi efeknya serupa: “Saya biasanya tidak…”
Kalimat ini menciptakan jarak. Ia menegaskan perbedaan antara si pembicara dengan orang kebanyakan, seolah dirinya memiliki standar, selera, atau kebiasaan yang lebih tinggi. Misalnya: “Saya biasanya nggak makan di tempat ramai seperti ini.” Alih-alih menyampaikan preferensi, kata-kata ini justru menonjolkan perbedaan status sosial atau gaya hidup.
Tak kalah angkuh, meski kerap dikemas dalam canda: “Saya sudah tahu itu sebelum populer.”
Ungkapan ini menunjukkan superioritas dalam hal pengetahuan, selera, atau tren. Ia seolah ingin berkata: ‘Kamu baru tahu sekarang, aku sudah lebih dulu.’ Orang yang sering mengucapkan ini biasanya tak tahan melihat orang lain menikmati hal yang baru mereka ketahui. Ia merasa harus menegaskan bahwa dirinya lebih dulu ada di sana.
Ungkapan keenam: “Kalau kamu tanya saya…”
Padahal sering kali, tak ada yang benar-benar bertanya. Kalimat ini menyiratkan bahwa pendapatnya lebih valid, lebih layak didengar, lebih penting. Ini cara halus mencuri panggung dalam percakapan. Sering dipakai mereka yang gemar memosisikan diri sebagai ‘konsultan hidup’ bagi orang lain, meski tak diminta.
Dan terakhir, kembali pada kerabat dekat ‘sejujurnya’, yaitu: “Jujur saja ya…”
Ia tak kalah manipulatif. Sama seperti saudaranya, ungkapan ini memberi kesan bahwa setelahnya akan keluar kebenaran mutlak yang hanya diketahui si pembicara. Bahkan, kadang dipakai untuk melontarkan kritik yang menyakitkan, seolah kejujuran menjadi tameng.
Mengapa ungkapan-ungkapan ini sebaiknya diwaspadai? Karena komunikasi bukan sekadar soal apa yang diucapkan, tapi bagaimana ia membangun (atau meruntuhkan) hubungan. Dalam percakapan, terutama yang bersifat kasual, sikap merendahkan atau menonjolkan diri, meski samar, tetap menimbulkan jarak. Ia mengubah obrolan yang seharusnya setara menjadi panggung kecil pamer keunggulan. Lawan bicara bisa saja memilih diam, pura-pura setuju, tapi dalam hati mencatat: ini orang sok.
Tak hanya merusak suasana, kebiasaan menggunakan frasa-frasa angkuh ini juga mencerminkan pola pikir yang tak sehat. Orang yang merasa selalu perlu menegaskan bahwa dirinya lebih tahu, lebih dulu, lebih benar, sesungguhnya sedang bertarung dengan rasa tidak aman dalam dirinya sendiri. Kepercayaan diri sejati tak butuh pengakuan lewat kata-kata. Ia cukup terlihat dari sikap.
Pakar komunikasi interpersonal, Prof. Deborah Tannen dari Georgetown University, pernah menulis, “Banyak orang memakai bahasa bukan untuk mendekatkan diri, melainkan untuk memosisikan diri. Mereka ingin mengatur narasi: siapa lebih tahu, siapa lebih benar, siapa lebih dulu.” Menurut Tannen, jenis bahasa seperti ini lebih sering menciptakan konflik kecil yang mengendap di percakapan sehari-hari ketimbang memupuk kedekatan.
Sebaliknya, percakapan yang sehat justru lahir dari kerendahan hati. Alih-alih berkata “sejujurnya…”, kita bisa memulai dengan “menurut saya…” Alih-alih “saya sudah tahu sejak dulu…”, cukup katakan, “iya, saya juga suka itu.” Bahasa yang inklusif, merangkul, bukan memisahkan.
Di tengah dunia yang makin bising, keterampilan mendengarkan jauh lebih berharga daripada keterampilan bicara. Kadang, yang paling bijak bukanlah yang paling sering bicara, tapi yang tahu kapan mesti diam.
Dalam pergaulan sehari-hari, lebih baik hati-hati dengan kata-kata. Sebab, tak ada yang lebih menjengkelkan daripada orang yang tampak sederhana tapi selalu ingin dianggap lebih. Dan sering kali, orang seperti itu tak sadar, bahwa justru dari mulutnyalah keangkuhan kecil itu bocor tanpa ampun.
Seperti kata pepatah lama: yang kosong selalu berbunyi nyaring. Yang penuh tak perlu repot-repot memberi tahu.***
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
