Perspektif.today_Batulicin barangkali bukan nama yang sering muncul dalam peta pelabuhan utama Indonesia. Namun, kota kecil di pesisir tenggara Kalimantan Selatan ini menyimpan denyut ekonomi yang tak bisa diremehkan. Di balik garis pantainya yang tampak tenang, berderet pelabuhan yang menjadi nadi logistik, tambang, dan kehidupan sosial masyarakat Tanah Bumbu. Dari dermaga tua warisan kolonial, terminal feri yang sibuk, hingga pelabuhan ekspor yang menghubungkan Indonesia ke pasar Asia, Batulicin adalah simpul penting dalam jaringan pelayaran nusantara.

Pelabuhan Batulicin Lama adalah tempat kisah ini bermula. Terletak di muara Sungai Batulicin, pelabuhan ini tercatat sudah berfungsi sejak awal abad ke-20, saat Hindia Belanda membuka akses tambang batu bara dan kayu dari pegunungan Meratus ke pasar dunia. Sejak 1930-an, kapal-kapal kayu dan tongkang mulai lalu lalang, membawa hasil bumi dari Tanah Bumbu menuju Banjarmasin dan Surabaya.
“Dulu, kami hanya punya dermaga kecil dengan tiang kayu ulin. Tapi kapal selalu antre,” ujar H. Syahrani, 68 tahun, warga tua Desa Sejahtera, yang sejak muda bekerja sebagai buruh pelabuhan. Kini, dermaga tua itu lebih banyak digunakan untuk kapal nelayan dan perahu kecil. Aktivitasnya perlahan tergeser oleh dermaga-dermaga yang lebih modern, seiring pertumbuhan industri tambang dan perkebunan.
Lonjakan aktivitas itu membuat Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu pada awal 2000-an membangun Pelabuhan Batulicin Baru di Kampung Baru, Kecamatan Simpang Empat. Pelabuhan ini menjadi poros ekspor batu bara ke pasar internasional. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan menunjukkan, ekspor batu bara dari Tanah Bumbu pada 2023 mencapai 14,6 juta ton, dengan nilai lebih dari Rp 28 triliun, sebagian besar dikirim melalui pelabuhan ini.
Pelabuhan Batulicin Baru dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV sebagai operator regional, dan dilengkapi fasilitas dermaga curah kering, alat bongkar muat fixed crane, gudang penumpukan, serta layanan logistik terpadu. “Kami sedang mempersiapkan digitalisasi layanan pelabuhan, termasuk sistem antrean truk berbasis aplikasi,” kata Hendra Yusuf, Kepala UPT Pelabuhan Batulicin, saat ditemui awal Juli lalu. Menurut dia, volume harian kapal meningkat 8 persen sejak 2022, didorong oleh permintaan batu bara dari India dan Vietnam.
Namun Batulicin bukan semata-mata soal ekspor tambang. Pelabuhan Feri Batulicin yang melayani penyeberangan ke Pulau Laut di Kabupaten Kotabaru juga memainkan peran vital dalam mobilitas warga. Setiap hari, sedikitnya 10 trip feri bolak-balik mengangkut lebih dari 3.000 penumpang dan ratusan kendaraan. Ini menjadikannya salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Kalimantan Selatan.
“Kalau pagi, antrean bisa panjang sampai ke jalan utama. Tapi masyarakat tetap memilih jalur laut karena lebih cepat dan hemat,” ujar Yani Noor, petugas loket di pelabuhan. Sejak 2023, sistem ticketing diubah menjadi digital menggunakan aplikasi Ferizy milik PT ASDP Indonesia Ferry. Langkah ini meningkatkan efisiensi dan mengurangi penumpukan antrean di musim liburan.
Lebih jauh ke timur, di Pelabuhan Tanjung Pemancingan, suasana kontras terlihat. Tak ada crane atau kontainer. Yang ada hanya kapal kayu, jaring basah, dan aroma ikan segar. Di sinilah para nelayan Tanah Bumbu menggantungkan hidup. Setiap dini hari, perahu motor kembali ke dermaga membawa kakap, tenggiri, dan cumi-cumi.
Menurut Dinas Perikanan Tanah Bumbu, pada 2024 produksi tangkapan laut mencapai 22.400 ton, meningkat 6 persen dari tahun sebelumnya. Sebagian besar ditangkap nelayan kecil yang berangkat dari Tanjung Pemancingan. Ikan-ikan itu kemudian masuk ke rantai pasok pasar-pasar lokal hingga Banjarmasin dan Balikpapan.
“Pasar-pasar di kota besar mulai percaya kualitas ikan dari pelabuhan ini. Kita jaga kesegarannya dengan sistem rantai dingin sederhana,” ujar Yusran, kepala kelompok nelayan Sinar Laut. Pemerintah daerah telah membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan instalasi es balok, meski kapasitasnya masih terbatas.
Keempat pelabuhan ini mewakili spektrum aktivitas ekonomi Batulicin—dari industri berat, logistik, transportasi rakyat, hingga sektor perikanan. Namun mereka menghadapi tantangan yang sama: integrasi sistem dan konektivitas logistik. Dibandingkan Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin atau Malundung di Tarakan, pelabuhan-pelabuhan di Batulicin masih minim koneksi ke kawasan industri hinterland dan belum terkoneksi ke jalur kereta atau tol laut secara penuh.
Dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional 2020–2040, Batulicin telah ditetapkan sebagai pelabuhan pengumpul (collector port) kelas regional, mendampingi Trisakti dan Kotabaru. Artinya, pelabuhan ini akan menjadi simpul penting dalam distribusi logistik antarwilayah di Kalimantan dan menjadi penyangga perdagangan lintas pulau.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan pun mengajukan rencana pengembangan pelabuhan multipurpose terpadu di kawasan Mekarsari, untuk mengintegrasikan ekspor tambang, produk sawit, dan jalur perikanan. “Batulicin punya posisi strategis sebagai poros ekonomi maritim selatan Kalimantan. Saatnya pelabuhan-pelabuhan di sini naik kelas,” kata Syamsir Rahman, Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Selatan, dalam forum logistik provinsi bulan Mei lalu.
Pelabuhan, dalam konteks Batulicin, bukan sekadar titik bongkar muat. Ia adalah simpul sejarah, tempat bertemunya masa lalu dan masa depan. Di dermaga-dermaga itu, ekonomi rakyat dan korporasi besar bersisian; nelayan dan eksportir batu bara sama-sama memandang ke laut lepas. Dan di situlah Batulicin menunjukkan wajahnya: sebuah kota pelabuhan yang bekerja diam-diam, tapi menyambung Indonesia dari pesisir Kalimantan.(*)
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
