Indonesia Kini Siap Comot Teknologi Rudal Balistik M20 China Usai C 705 Sukses

Perspektiftoday | Jakarta_Baru beberapa waktu lalu Indonesia disebut tengah mengembangkan rudal anti kapal C 705 hasil transfer teknologi dari China.

C 705 bisa jadi awal bagi Indonesia memproduksi rudal untuk kemandirian alutsista dalam negeri.

Niatnya, Indonesia akan menjadikan rudal C 705 sebagai platform dasar pengembangan misil lainnya.

Seperti diketahui bila Indonesia sangat tertinggal dalam industri pertahanan sektor rudal.

Indonesia baru sebatas mampu membuat roket.

Jika Indonesia mulai research dari nol pembuatan rudal, itu terlalu lama dan memakan biaya banyak.

Maka langkah tepat bila Indonesia mempersingkat waktu dengan mengadakan kerja sama pembuatan rudal.

Dikutip dari news.qq.com, 25 Februari 2014, saat itu Indonesia berharap dapat mengimpor 40 rudal C 705 dari China disertai alih teknologi.

“Sebanyak 2 uji peluncuran dilakukan, semuanya tepat sasaran.

Kami berharap dapat mengimpor 40 C705 untuk kemudian dirakit dan diproduksi di Indonesia.

Saat ini negosiasi transfer teknologi masih berlangsung,” ujar news.qq.com pada 2014 lalu.

Kemudian baru-baru ini tepatnya pada 6 Maret 2022, China Times melaporkan bahwa Indonesia tengah mengorganisir tim peneliti untuk membuat rudal.

“Kementerian Pertahanan Indonesia mengorganisir kelompok penelitian dan pengembangan untuk merekayasa balik senjata peluru kendali untuk membangun industri pertahanan presisinya sendiri.

Target rekayasa balik pertama yang mereka temukan tampaknya adalah rudal anti-kapal C 705.

Kami ingin memperoleh teknologi canggih untuk mendapatkan kemampuan untuk membangun industri rudal anti-kapal lokal dan memproduksi senjata di dalam negeri, yang sangat penting untuk tujuan menjaga kedaulatan negara,” kata kementerian pertahanan Indonesia,” lapor China Times pada 6 Maret 2022.

Benar saja hal itu dimana pada 1 April 2022, @dittekindhan mempublish bahwa Indonesia tengah mengupayakan pembuatan rudal dalam negeri.

“Dalam rangka meningkatkan kemampuan pertahanan negara, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan melaksanakan pengembangan Industri dan teknologi pertahanan guna mendorong dan memajukan pertumbuhan Industri Pertahanan.

Kementerian Pertahanan melalui Ditjen Pothan Kemhan melaksanakan Program Pembinaan Potensi Teknologi Industri Pertahanan (Binpottekindhan).

Program Reverse Engineering System Rudal TA. 2022 merupakan Program Binpottekindhan yang diinisiasi oleh konsorsium Industri Pertahanan yaitu PT. Dirgantara Indonesia (Persero), PT. Pindad (Persero), PT. Dahana (Persero), PT. Len Industri (Persero), PT Aero Terra Indonesia dan PT. Mulatama,” tulis @dittekindhan.

Di samping program di atas, Indonesia baru-baru ini juga dikabarkan berminat mengakuisisi rudal balistik Khan dari Roketsan Turki.

Hal ini mengejutkan karena sebelumnya tak ada tanda-tanda Indonesia menginginkan rudal balistik jarak menengah dalam rencana penguatan militernya.

Tapi kejutan ini harus diwujudkan lantaran Indonesia mesti punya rudal jarak jauh sekelas Khan.

Khan dengan munisi rudal Bora buatan Turki mampu menembak sasaran sejauh 280 km.

Bukan tak mungkin Indonesia akan meminta transfer teknologi Khan sehingga bisa dimodifikasi untuk mendongkrak daya tembak rudal tersebut.

Bila Indonesia hendak mengakuisisi Khan maka secara tak langsung Jakarta mencomot teknologi rudal balistik milik China yakni M20.

Dikutip dari military-today.com, Khan memakai teknologi rudal balistik M20 China.

“Kendaraan peluncur Khan membawa 2 kontainer dengan rudal balistik jarak pendek.

Beberapa sumber menyebut rudal ini bernama Bora.

Ini adalah rudal BP-12A China, yang diproduksi dengan lisensi di Turki oleh Roketsan,” papar Military Today.

M20 sengaja dibuat China untuk memenuhi permintaan pasar ekspor.

Tapi China harus mematuhi aturan dari Rezim Kontrol Teknologi Rudal (MTCR) dimana M20 harus mempunyai jangkauan tembak maksimal 300 km.

Hulu ledaknya mencapai berat 480 kg, cocok digunakan untuk membabat konsentrasi pasukan musuh baik infanteri, artileri, satuan lapis baja hingga pos komando.

“M20 adalah rudal balistik jarak pendek China. Ini dikembangkan khusus untuk ekspor.

Kendaraan peluncur membawa 2 rudal kemas.

Beberapa sasis truk yang berbeda digunakannya, termasuk sasis beroda khusus truk Wanshan WS2400 .

Rudal M20 dirancang khusus untuk memenuhi pembatasan Rezim Kontrol Teknologi Rudal (MTCR).

Ini memiliki jangkauan maksimum 280 km dan membawa hulu ledak 480 kg.
M20 dirancang khusus agar tidak terlalu jauh dari jangkauan 300 km dan muatan 500 kg untuk mengatasi pembatasan ekspor yang ditetapkan oleh MTCR.

Ia membawa berbagai macam hulu ledak seperti konvensional, cluster, bahan bakar-udara, penghancur bunker, dan mungkin beberapa jenis hulu ledak lainnya,” jelas Military Today.

Untuk hulu ledak nuklir dan kimia sebetulnya bisa dimuati M20.

Tapi itu tak ditujukan ke pasar ekspor dimana cuma China saja yang punya.

“Hulu ledak nuklir dan kimia tidak tersedia untuk pelanggan ekspor, namun rudal ini berpotensi membawa hulu ledak semacam itu,” ungkapnya.

M20 termasuk rudal balistik yang sangat presisi mengenai target.

Margin errornya alias meleset dari target cuma 5-10 meter saja.

Sehingga dipastikan target akan kena walapun jatuhnya rudal disekitaran 5-10 meter terhadap sasaran.

“Rudal balistik ini dilengkapi dengan sistem pemandu inersia dan satelit.

Setiap rudal dapat ditargetkan secara independen.

Rudal dapat ditargetkan ulang dalam penerbangan.

Hal ini memungkinkan untuk melibatkan target bergerak. Rudal balistik ini memiliki akurasi hingga 30-45 meter.

Padahal tidak tertutup kemungkinan rudal ini memiliki akurasi yang tepat dan akurat hingga sekitar 5-10 meter,” bebernya.

M20 juga punya kelebihan yang sangat ideal bila teknologinya dimiliki Indonesia.

Yakni ia mampu menghindari sistem pertahanan udara lawan karena rudal bisa melakukan manuver di udara sehingga lawan sulit menjatuhkannya.

“Rudal balistik ini dilaporkan memiliki tindakan pencegahan otomatis dan mampu menghindari sistem pertahanan rudal musuh.

Kemungkinan besar bahwa pada fase terminal penerbangan, ia melakukan manuver dan melepaskan umpan (flares) secara berkala ketika hendak ditembak jatuh,” ujar Military Today.

Kemampuan M20 yang paling membuat sebal musuh ialah beraneka ragamnya munisi rudal.

Jangan salah sangka, M20 bukan cuma bisa meluncurkan rudal balistik.

Namun ia adalah platform multiguna yang mampu meluncurkan rudal anti kapal, pertahanan udara hingga rudal jelajah serang darat.

Bahkan roket artileri layaknya MLRS Vampire Indonesia juga bisa diluncurkan dari M20, sangat praktis.

“Fitur unik dari kendaraan peluncur M20 adalah ia juga dapat membawa rudal lain.

Ini kompatibel dengan rudal jelajah CX-1, rudal balistik SY-400 , pod dengan roket artileri A-100 dan A-200,” jelas Military Today.

Waktu penggelaran M20 ke fase peluncuran juga cukup ringkas.

Yakni cuma butuh 15 menit dan rudal siap ditembakkan dengan semua sistemnya otomatis.

“Kendaraan peluncur M20 dioperasikan oleh 4 awak. Awak duduk di kabin ganda.
Dibutuhkan sekitar 15 menit untuk meluncurkan kedua rudal atau sekitar 5 menit ketika sistem dalam kesiapan tertinggi.

Rudal kedua dapat diluncurkan dalam waktu sekitar satu menit setelah yang pertama.

Unit tempur M20 mencakup 6 peluncur dengan rudal, 6 kendaraan reload dengan rudal cadangan dan kendaraan pos komando, berdasarkan sasis roda khusus 6×6,” jelasnya.

China saat ini sudah berhasil mengekspor M20 ke Qatar dan ke Turki dalam versi Khan tadi.

“M20 telah diekspor ke Qatar.
Versi sistem rudal balistik ini digunakan oleh Turki.

Juga ada rencana untuk memproduksi rudal M20 di Belarus,” jelas Military Today.

Indonesia sangat terbuka kemungkinan memiliki teknologi M20 melalu Khan dimana rudal balistik ini lebih berbahaya dari C 705.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *