Statistika di Sekitar Kita: Data Jadi Cerita

Perspektif.today_Di ruang-ruang rapat kementerian, dalam hitungan deret pada papan tulis akademisi, bahkan dalam percakapan warung kopi yang membahas hasil survei pilpres atau harga beras, statistika menyelusup diam-diam, membentuk nalar, memantik tafsir, dan mempengaruhi keputusan. Statistika bukan lagi milik eksklusif Biro Pusat Statistik atau para ekonom; ia menjadi bahasa yang merambah ke ranah media, kebijakan publik, pemasaran digital, bahkan gerakan sosial.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Kita hidup dalam zaman yang dijuluki sebagai data-driven era. Tiap klik, tiap gesekan kartu, tiap unggahan media sosial meninggalkan jejak digital yang, bila dikumpulkan, bisa membentuk peta perilaku, preferensi, dan potensi. Tapi data mentah hanyalah kumpulan angka. Statistika yang menghidupkannya. Seperti juru kisah, ia menyaring, merangkum, menyusun, lalu menuturkan narasi yang bisa dipahami.

Di tangan yang tepat, statistika bisa membuka tabir realitas. Tapi di tangan yang salah, ia bisa menjadi ilusi yang meyakinkan. Itulah mengapa literasi statistika menjadi kebutuhan zaman. Bukan hanya agar kita bisa memproduksi data yang bermakna, tapi agar tak tertipu oleh angka-angka yang dirancang untuk menyihir nalar.

Mari mulai dari hal yang paling sederhana: angka kemiskinan. Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,41 juta orang, atau 9,36 persen dari total populasi. Tapi angka ini memantik perdebatan, terutama ketika Bank Dunia merilis versi berbeda berdasarkan garis kemiskinan global sebesar USD 2,15 per hari. Perbedaan metodologi menghasilkan disparitas yang tak kecil.

Pertanyaan awam muncul: mana yang benar? Di sinilah statistika menjadi bukan sekadar ilmu hitung, melainkan seni memahami asumsi. Garis kemiskinan BPS dihitung berdasarkan kebutuhan minimum kalori dan non-makanan. Sementara Bank Dunia menggunakan pendekatan pengeluaran riil yang disesuaikan secara internasional. Dua pendekatan berbeda, dua realitas berbeda.

Narasi publik yang hanya berpijak pada satu angka tanpa memahami metode di baliknya bisa menyesatkan. Maka, tugas jurnalis, akademisi, dan pengambil kebijakan adalah menjembatani data dan masyarakat awam, bukan memperumitnya dengan jargon teknis, tapi menjernihkannya dengan konteks dan logika.

Statistika juga semakin menonjol dalam dunia media. Di era di mana clickbait dan viralitas sering mengalahkan akurasi, jurnalisme data menjadi oasis. Situs-situs seperti Katadata, Lokadata, atau Indonesia Data Hub tumbuh karena menawarkan pendekatan jurnalistik yang berbasis data. Grafik, infografis, peta interaktif—semuanya menjadi alat bercerita yang baru.

Tapi bukan tanpa jebakan. Di tangan yang terburu-buru, visualisasi data bisa menggiring persepsi keliru. Sumbu Y yang dipotong, skala logaritmik yang tak dijelaskan, atau korelasi yang diklaim sebagai kausalitas. Kita diingatkan bahwa data, betapapun objektifnya, bisa dimanipulasi oleh narasi.

Masalahnya bukan pada datanya, tapi pada bagaimana data dipilih, ditampilkan, dan diceritakan. Dalam bukunya How to Lie with Statistics, Darrell Huff telah memperingatkan sejak 1954 bahwa angka bisa diputarbalikkan dengan elegan. Dan pada 2025 ini, peringatan itu tetap relevan.

Lihat saja dalam dunia politik. Hasil survei menjadi bahan bakar wacana. Elektabilitas kandidat berubah-ubah bak harga saham. Tapi publik kadang tak memperhatikan siapa yang melakukan survei, bagaimana metode penarikan sampel, margin of error, atau tingkat kepercayaannya. Ketika survei menjadi alat kampanye, bukan instrumen ilmiah, maka yang disodorkan bukan lagi realitas, melainkan proyeksi hasrat.

Padahal, statistika memiliki kekuatan yang lebih mulia: membaca tren, memahami ketimpangan, dan merancang intervensi kebijakan. Dalam pandemi COVID-19 misalnya, tanpa data statistik tentang lonjakan kasus, tingkat keterisian rumah sakit, atau efektivitas vaksin, negara bisa berjalan seperti orang buta. Justru berkat statistika-lah kita bisa mengatur mobilitas, memetakan zona risiko, hingga merancang distribusi bantuan sosial.

Statistika juga menyelinap ke ranah bisnis dan pemasaran. Algoritma rekomendasi Netflix, penargetan iklan Facebook, bahkan promo cashback di e-commerce tak lepas dari analisis data. Perusahaan besar kini merekrut data scientist sebagaimana mereka merekrut manajer pemasaran. Di sini, statistika menjadi jantung dari decision making.

Namun ironisnya, di bangku pendidikan, statistika masih dianggap sebagai mata kuliah yang menakutkan. Dosen membawa rumus regresi dan distribusi normal tanpa menjelaskan konteks aplikasinya. Padahal, cara terbaik belajar statistika adalah dengan melihat kehidupan nyata.

Ambil contoh sederhana: dari 50 pelanggan warung kopi Pak Sastro, 35 orang membeli es kopi susu dan 15 orang membeli kopi hitam. Pak Sastro ingin tahu apakah promosi minuman manis benar-benar berdampak. Di sinilah statistika bermain. Bukan untuk menghafal rumus, tapi untuk membantu Pak Sastro mengambil keputusan yang lebih tepat.

Akhirnya, kita sampai pada simpulan yang barangkali paradoks: statistika bukan tentang angka, melainkan tentang cerita. Bukan hanya tentang seberapa banyak, tapi tentang mengapa dan bagaimana. Bukan tentang membanjiri pembaca dengan grafik, tapi tentang membangun pemahaman yang jernih.

Statistika, dengan segala kompleksitasnya, bisa menjadi cahaya penuntun atau kabut yang menyesatkan. Semuanya bergantung pada niat pembuatnya dan kecakapan pembacanya.

Di tengah ledakan informasi hari ini, kita dituntut bukan hanya melek huruf, tapi juga melek data. Karena di balik angka yang kita baca hari ini, ada cerita yang mempengaruhi hidup kita esok hari. Dan di era ketika opini berseliweran tanpa dasar, data adalah jangkar kebenaran. Tapi hanya jika ia dibaca dengan hati-hati, dikisahkan dengan jujur, dan dipahami secara kritis.

Data tidak pernah bohong. Tapi orang bisa berbohong dengan data. Maka, belajarlah statistika, bukan untuk menghitung, tapi untuk mengerti.(***)

Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *