“Tidak ada yang memperhatikan kesedihan atau rasa sakitmu, tetapi semua orang memperhatikan kesalahanmu.”

Perspektif.today_Kalimat itu barangkali terasa seperti tamparan pelan yang datang dari seorang bijak yang hidup lebih dari delapan abad silam. Jalaluddin Rumi, sufi kelahiran Balkh yang menulis dalam denyut cinta dan luka spiritual, seolah hadir kembali ke tengah keramaian dunia modern yang gemar menuding, namun enggan mendengar. Di era ketika empati lebih sering dikalahkan oleh sensasi, kutipan itu menemukan relevansi yang mencemaskan.
Dalam ruang digital yang didominasi logika algoritma, kesedihan menjadi sesuatu yang kurang laku dijual. Tangis seseorang, beban batin, pergulatan mental, atau bahkan rasa kehilangan, tidak selalu menarik perhatian seperti halnya sebuah kesalahan yang terekam kamera atau ucapan yang tergelincir di depan mikrofon. Dunia maya—yang kini telah melebur ke dalam dunia nyata—lebih cepat merespons kegagalan, lebih gemar memperbesar kekeliruan, dan lebih mudah menyalakan api penghakiman kolektif.
Ini bukan perkara baru. Sejak lama, masyarakat memiliki kecenderungan untuk memperlakukan penderitaan secara diam-diam, seolah itu bukan urusan publik, sementara kesalahan sekecil apapun bisa menjadi tontonan massal. Perkara salah ucap, salah unggah, atau salah memilih kata, bisa dengan cepat menyebar dan dikomentari seolah kita semua adalah hakim moral. Padahal, di balik setiap kesalahan, selalu ada kisah manusia—yang rapuh, berjuang, dan barangkali sedang terluka.
Kita hidup di tengah budaya aib yang bersembunyi di balik kepedulian semu. Seorang publik figur yang tergelincir dalam kasus kecil bisa habis-habisan disorot. Komentarnya dibedah, perilakunya dijadikan bahan konten, bahkan keluarganya tak luput dari cibiran. Sementara, bila ia bicara soal kehilangan atau depresi, narasi itu hanya lewat sejenak sebelum tergeser oleh kabar sensasional berikutnya.
Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai bentuk invalidasi emosional: ketidakpedulian sistemik terhadap perasaan dan pengalaman pribadi seseorang. Ketika seseorang merasa bahwa kesedihannya tidak diakui, sementara kesalahannya dibesar-besarkan, luka yang terbentuk bisa jauh lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan. Di sinilah trauma sosial menemukan ladangnya—ditanam oleh pengabaian, dipanen oleh penghukuman.
Rumi, tentu saja, bicara dari ruang batin yang sunyi dan dalam. Ia tidak sedang mempromosikan keputusasaan, melainkan mengajak untuk melihat wajah kemanusiaan secara utuh—lengkap dengan luka, kekeliruan, dan kerinduan untuk dipahami. Dalam puisinya, kesalahan bukanlah aib untuk dikutuk, melainkan bagian dari perjalanan spiritual menuju kebaikan. Justru dari kesalahan, seseorang belajar rendah hati dan mengenali batas dirinya. Tapi masyarakat hari ini, yang dicekoki budaya menang-menang atau benar-salah, tak punya banyak ruang untuk nuansa seperti itu.
Kita bisa melihat kecenderungan ini dalam kehidupan sehari-hari. Seorang siswa yang gagal dalam ujian lebih mudah dicap malas ketimbang diselami masalah keluarganya. Seorang perempuan yang kehilangan pekerjaan lebih sering diberi saran instan, alih-alih didengarkan. Kesalahan lebih sering dikecam daripada dipahami. Maka benarlah Rumi: kesedihanmu bisa tidak dipedulikan, tapi kesalahanmu akan diabadikan.
Dalam pandangan filsafat moral, ini adalah kegagalan etik yang serius. Emmanuel Levinas, filsuf asal Lituania, mengatakan bahwa tanggung jawab etis seseorang lahir dari perjumpaan dengan wajah orang lain. Artinya, tugas kita bukan sekadar menilai, melainkan hadir dan bertanggung jawab atas penderitaan yang kita saksikan. Tapi kini, wajah manusia kerap disamarkan oleh layar, dan rasa tanggung jawab dikalahkan oleh hasrat untuk mengomentari.
Sementara itu, algoritma media sosial hanya memperkuat naluri ini. Konten yang paling banyak menarik perhatian adalah yang memicu reaksi: marah, tertawa, kesal, gemas. Kesedihan yang senyap dan jujur seringkali tidak cukup “klik-able”. Di sinilah tragedi digital kita berlangsung: algoritma membuat penghakiman menjadi lebih menarik ketimbang pengertian.
Lalu, apa yang bisa kita harapkan di tengah arus ini? Rumi barangkali tidak menawarkan solusi teknis. Tapi ia memberi isyarat penting tentang nilai belas kasih. Ia percaya bahwa manusia adalah makhluk spiritual, yang memerlukan cinta dan pengertian lebih dari penilaian. Ia tidak menyuruh kita menutup mata terhadap kesalahan, tapi mengingatkan agar kita tidak kehilangan hati dalam memperlakukannya.
Barangkali, sudah waktunya kita kembali belajar diam sejenak sebelum menghakimi. Bertanya dalam hati, mengapa orang bisa melakukan kesalahan itu? Apa yang sedang ia hadapi? Apakah saya akan tetap memusuhi seseorang bila saya tahu bahwa ia tengah menanggung kesedihan yang berat? Dan lebih dari itu: apakah saya sendiri tidak pernah melakukan kesalahan?
Rumi berbicara dalam bahasa cinta, bukan karena ia ingin mengabaikan realitas, tapi karena ia tahu bahwa cinta adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan manusia pada kemanusiaannya. Di tengah dunia yang penuh suara, ia memilih menjadi gema dari sesuatu yang lebih dalam—yang tidak viral, tapi abadi.
Dalam kutipan itu, Rumi tidak sedang mengeluh. Ia sedang menunjukkan wajah dunia yang keras, agar kita tidak ikut menajamkan pedangnya. Sebab jika setiap kesalahan kita tanggapi dengan amarah, dan setiap kesedihan kita abaikan begitu saja, maka barangkali kita sedang membangun masyarakat yang tahu cara menghukum, tapi tak tahu cara memeluk.
Dan barangkali, satu-satunya cara untuk melawan itu semua adalah dengan menjadi manusia yang benar-benar hadir: bukan untuk menilai, tapi untuk mengerti. Tepat seperti yang diajarkan Rumi—dengan kata, dengan kasih, dan dengan hati.(*)
Penulis adalah Dosen Uniuversitas Bung Hatta
