Oleh: Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta
Perspektif.today_Dari sekian nama nabi yang disebut dalam Al-Qur’an, Musa adalah yang paling sering muncul. Ia disebut lebih dari seratus kali, dalam berbagai konteks, dari masa kanak-kanaknya hingga akhir hidupnya. Tak heran, karena kisah Musa bukan sekadar narasi sejarah, tapi juga panggung dramatik tempat Tuhan meletakkan berbagai hikmah sosial, spiritual, dan politik yang relevan sepanjang zaman.
Musa bukan nabi yang lembut seperti Isa, atau yang sangat diplomatis seperti Yusuf. Ia pemimpin keras kepala, temperamental, dan kadang frustrasi menghadapi umatnya sendiri. Tapi justru karena itulah Musa terasa manusiawi, dekat, dan penuh pelajaran yang menggugah.
Dari sisi ketauhidan, kisah Musa adalah medan pertempuran ideologis antara kebenaran ilahi dan kekuasaan duniawi. Musa tidak hanya menantang Firaun sebagai individu, tapi juga sebagai simbol tirani yang menuhankan diri. Dalam QS Thaha: 43, Allah memerintahkannya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” Perintah itu datang tanpa syarat: lawan kekuasaan zalim, meski kau hanya bersenjatakan tongkat dan doa.
Tapi Musa tidak lantas maju tanpa gentar. Ia gemetar, lidahnya berat, dan penuh kekhawatiran. Ia berdoa agar dadanya dilapangkan dan lisannya difasihkan. Doanya terekam dalam QS Thaha: 25–27, dan menjadi salah satu permohonan paling populer di dunia Islam. Di sini, kita belajar bahwa bahkan nabi pun butuh kesiapan mental. Bahwa keberanian bukan tak adanya takut, tapi keberanian adalah tetap melangkah meski takut.
Namun Musa tak hanya berhadapan dengan musuh di luar. Ia juga diuji oleh umatnya sendiri—Bani Israil—yang tak henti membangkang, bahkan setelah menyaksikan mukjizat demi mukjizat. Mereka menyembah anak sapi saat Musa sedang menerima wahyu di bukit Sinai. Mereka menolak perintah berjihad, meminta makanan lezat, dan terus-menerus meragukan Nabi mereka. Musa marah, putus asa, bahkan memohon agar Allah memusnahkan sebagian mereka.
Ini pelajaran pahit tapi nyata: pemimpin tidak selalu dicintai, bahkan oleh kaumnya sendiri. Kesabaran dalam menghadapi pengikut yang bebal, itulah ujian sejati kepemimpinan. Dalam konteks modern, kita melihatnya dalam frustrasi guru, aktivis, hingga pejabat jujur yang dihadapkan pada birokrasi keras kepala.
Kisah Musa juga mengandung hikmah ekonomi dan sosial. Ia diutus untuk membebaskan kaumnya dari perbudakan sistematis di Mesir. Ia bukan hanya seorang nabi, tapi juga pembebas. Dalam hal ini, Islam tidak hanya mengurus moral pribadi, tapi juga struktur masyarakat. Musa menuntut keadilan, bukan sekadar kesalehan.
Namun, puncak kontemplatif dari kisah Musa justru hadir bukan saat ia menghadapi Firaun, tapi saat ia berguru kepada seorang hamba Allah yang misterius: Khidhir. Dalam QS Al-Kahfi, Musa diajak berjalan, menyaksikan tindakan aneh: kapal dirusak, anak kecil dibunuh, dan tembok diperbaiki untuk orang yang pelit. Musa protes—semua tampak tidak masuk akal. Tapi di akhir kisah, semua tindakan itu memiliki makna tersembunyi. Bahwa tidak semua yang tampak buruk benar-benar buruk.
Hikmahnya dalam: manusia, bahkan seorang nabi, tidak tahu segalanya. Pengetahuan tidak hanya soal akal, tapi juga kesabaran dan kedewasaan spiritual. Ini tamparan lembut bagi kaum cendekia dan para intelektual modern yang kadang terlalu percaya pada nalar mereka sendiri.
Ada pula satu momen sunyi dalam kehidupan Musa: ketika ia membunuh seorang Mesir secara tak sengaja dalam pembelaan. Ia segera berdoa dan bertobat. “Ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” (QS Al-Qashash: 16). Nabi pun bisa salah. Tapi yang membedakan adalah kemauan untuk mengakui, bertobat, dan bangkit. Di sini, kita belajar bahwa moralitas bukan tentang citra bersih, tapi tentang keberanian untuk memperbaiki.
Di ujung kisah, Musa berdiri di depan laut yang terbentang. Di belakangnya, pasukan Firaun mengejar. Secara logika, tak ada jalan keluar. Tapi Allah memerintahkannya memukul laut dengan tongkat. Dan laut pun terbelah. Ini adalah pelajaran mendalam tentang iman: bahwa dalam kondisi paling buntu, keajaiban bisa datang bagi mereka yang percaya dan taat.
Kisah Musa dalam Al-Qur’an adalah kisah tentang kegelisahan, keberanian, dan pencarian akan kebenaran. Ia tidak datang dari istana, tapi dari pengalaman pengasingan dan keterasingan. Ia tidak sempurna, tapi jujur pada kegelisahannya. Ia pemimpin yang marah, tapi juga penuh cinta. Dan yang terpenting: ia tidak menyerah.
Di dunia hari ini, di mana kejujuran kerap kalah oleh citra, dan keberanian ditutupi oleh kompromi, kita butuh lebih banyak jiwa seperti Musa. Yang marah karena cinta. Yang keras karena ingin melindungi. Yang tetap percaya, meski berkali-kali dikhianati.*
