Oleh: Muhibbullah Azfa Manik
Perspektif.today-Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, ungkapan golek morotuo—secara harfiah berarti “mencari mertua”—sering kali muncul dengan nada canda, sindiran, atau bahkan ejekan halus. Meski terdengar ringan, frasa ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar pencarian pasangan hidup. Ia mencerminkan lapisan-lapisan nilai sosial, harapan kultural, dan dinamika hubungan antargenerasi dalam masyarakat Jawa yang masih sangat menjunjung tinggi relasi kekeluargaan.
Di satu sisi, golek morotuo bisa dianggap sebagai kelakar yang menggambarkan pragmatisme dalam memilih pasangan. “Jare golek bojo, ning sing ditimbang-timbang, sing penting mertuane sugih,” yang secara harfiah berarti: “Katanya mencari pasangan, tapi yang dipertimbangkan justru yang penting mertuanya kaya.” Demikian lelucon yang sering beredar. Namun, di sisi lain, ungkapan ini juga menyiratkan kenyataan bahwa dalam budaya Jawa—seperti halnya di banyak komunitas Asia—pernikahan adalah urusan kolektif. Ia bukan hanya soal cinta dua insan, melainkan juga tentang penyatuan dua keluarga besar yang membawa serta nilai, harapan, dan terkadang ego masing-masing.
Bukan Hanya Menantu, Tapi Anak Kedua
Dalam tradisi Jawa, relasi antara menantu dan mertua sering kali dianggap perpanjangan dari relasi antara orang tua dan anak. Menantu perempuan, misalnya, kerap diharapkan bisa ngemong, berperilaku lemah lembut, menghormati, dan mampu menjaga hubungan baik dengan keluarga suami, seakan ia adalah anak perempuan dari keluarga tersebut. Sebaliknya, menantu laki-laki diharapkan mampu menjadi payung bagi istri sekaligus menunjukkan hormat dan tanggung jawab kepada orang tua mertuanya.
Ungkapan seperti sayangono mertuamu koyo wong tuwamu dewe (sayangilah mertuamu seperti orang tuamu sendiri) bukan hanya nasihat, melainkan semacam norma sosial yang menjadi standar tak tertulis dalam membangun rumah tangga. Namun, dalam praktiknya, tidak semua orang mampu atau bahkan mau memenuhi ekspektasi kultural semacam ini. Di sinilah kerap muncul friksi, terutama ketika nilai-nilai yang dianut dua keluarga berbeda secara signifikan.
Persinggungan Dua Generasi
Di era modern, relasi antara menantu dan mertua semakin kompleks. Bukan hanya karena perbedaan kelas sosial atau adat istiadat, tetapi juga karena perubahan peran gender, peningkatan mobilitas sosial, serta gap antargenerasi. Menantu perempuan kini bukan hanya diharapkan menjadi pengurus rumah tangga, tapi juga aktif dalam dunia kerja. Harapan mertua yang masih menganut pola lama bisa berbenturan dengan visi hidup anak dan menantunya yang lebih egaliter.
Sementara itu, menantu laki-laki di masa kini sering berada di antara tuntutan menjadi suami modern yang mendukung kesetaraan, dan tekanan tradisional untuk menjadi kepala keluarga yang dominan, termasuk dalam urusan finansial terhadap mertua.
Di balik layar, media sosial memperbesar jarak persepsi itu. Kisah-kisah tentang mertua posesif atau menantu tidak tahu diri dengan cepat menyebar dan membentuk stereotip baru. Banyak yang dengan mudahnya melabeli mertua sebagai toxic atau menantu sebagai tak tahu adat, padahal hubungan antarmanusia selalu lebih rumit dari sekadar kutipan unggahan atau komentar viral.
Realitas yang Perlu Dikelola, Bukan Dihindari
Menghindari mertua atau memperburuk hubungan karena ketakutan akan konflik jelas bukan solusi. Justru, seperti halnya relasi lainnya, kunci dari harmoni adalah komunikasi terbuka dan pengelolaan ekspektasi. Pasangan muda idealnya membicarakan sejak awal bagaimana mereka ingin membangun rumah tangga, termasuk bagaimana relasi dengan orang tua masing-masing akan dijalankan: apakah tinggal bersama? Seberapa sering berkumpul? Apa saja batasan yang perlu dihormati?
Sebaliknya, mertua juga perlu menyadari bahwa anaknya kini telah membentuk keluarga baru yang mandiri. Intervensi yang berlebihan, meski sering dibungkus dengan dalih kasih sayang, justru bisa merusak kepercayaan dan hubungan jangka panjang.
Perlu Pendidikan Keluarga yang Relevan
Di sinilah pentingnya pendidikan pranikah yang mencakup dimensi hubungan antar keluarga besar. Banyak program pranikah hanya membahas aspek ibadah, kesehatan reproduksi, atau ekonomi rumah tangga. Padahal, konflik yang sering terjadi justru datang dari persoalan relasi sosial—termasuk relasi menantu dan mertua.
Lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, dan bahkan tokoh adat seharusnya bisa mengambil peran untuk menyediakan ruang diskusi yang sehat dan reflektif bagi para pasangan muda. Bekal tentang keterampilan komunikasi, resolusi konflik, serta pemahaman kultural bisa membantu mencegah konflik yang lebih besar di masa depan.
Menjembatani Dua Dunia
Pernikahan dalam tradisi Jawa bukan hanya penyatuan dua hati, tetapi penyambung dua dunia. Di sinilah frasa golek morotuo menemukan kedalaman maknanya. Ia bukan sekadar mencari “bonus” dari pasangan hidup, melainkan proses menemukan tempat yang bisa menerima dan merawat hubungan secara menyeluruh.
Mencari mertua yang baik sama pentingnya dengan menjadi menantu yang bijak. Seperti kata pepatah Jawa: anak polah bapa kepradah—tingkah laku anak mencerminkan dan bisa memengaruhi nama baik orang tuanya. Maka, membangun keluarga bukan hanya perkara rumah tangga, melainkan tentang menjaga jalinan sosial yang lebih besar.
Penutup: Dari Lelucon Menjadi Refleksi
Golek morotuo memang bisa menjadi lelucon di tongkrongan, tapi ia juga refleksi sosial tentang bagaimana masyarakat memaknai pernikahan sebagai institusi sosial. Di balik canda tawa, tersimpan realitas bahwa hubungan antar keluarga besar adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika rumah tangga.
Dengan saling pengertian, keterbukaan, dan kesiapan mental untuk hidup dalam perbedaan, relasi menantu dan mertua bisa menjadi sumber kekuatan, bukan sumber tekanan. Pada akhirnya, golek morotuo adalah seni menyambut kehidupan baru dengan bijaksana—karena pernikahan bukan hanya mempersatukan dua individu, tapi juga mengikat dua dunia dengan harapan yang sama: keluarga yang rukun, sejahtera, dan bahagia.
Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta
