Oleh: Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta
Perspektif.today_Dunia usaha kecil dan menengah selalu berdiri di antara dua dunia: yang penuh harapan dan yang penuh risiko. Di satu sisi, mereka adalah urat nadi perekonomian—menyerap tenaga kerja, menggerakkan pasar lokal, dan memberi ruang tumbuh bagi inovasi mikro. Tapi di sisi lain, mereka juga rapuh: modal cekak, teknologi seadanya, dan sistem manajemen yang kadang mengandalkan intuisi lebih dari data.
Ketika pandemi COVID-19 menerpa tanpa aba-aba, jutaan UMKM ambruk seperti kepingan domino yang disusun tanpa pondasi kokoh. Ada yang jatuh dan tak bangun kembali. Ada pula yang terseok-seok, bertahan dengan napas yang tersisa. Tapi di antara puing-puing itu, sebagian justru bangkit, lebih lincah, lebih siap menghadapi gelombang krisis berikutnya. Buku Small and Medium-Sized Enterprise (SME) Resilience: Strategies for Risk and Crisis Management (2024), yang diterbitkan Springer, mencoba membedah rahasia mereka.
Dieditori oleh Susanne Durst dan Thomas Henschel, buku ini bukan sekadar kumpulan teori manajemen krisis. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah-wajah usaha kecil dalam rupa-rupa badai. Dari perusahaan leasing di Jerman, konsultan IT di Swedia, hingga mikroperusahaan di Estonia yang beralih ke produk ramah lingkungan—semuanya menyimpan satu kata kunci: ketahanan.
Ketahanan, dalam narasi buku ini, bukan sekadar bertahan hidup. Ia adalah kemampuan untuk belajar dari guncangan, beradaptasi, dan bahkan tumbuh dari situasi krisis. Ini bukan narasi super heroik yang mengandalkan “semangat pantang menyerah” semata, tapi tentang sistem, strategi, dan kecerdasan organisasi. UMKM yang tangguh adalah mereka yang mengenal risikonya, mengantisipasinya, dan menanamkan pembelajaran ke dalam DNA perusahaan.
Salah satu bab yang menarik menyentil kita semua: “What do philosophy and ethics have to do with SME resilience?” Sebuah pertanyaan yang terdengar akademik, tapi sesungguhnya sangat praktis. Karena pada akhirnya, keputusan-keputusan strategis di masa krisis tidak hanya dipandu oleh angka, tapi juga nilai-nilai. Apakah pemilik usaha memilih merumahkan pegawai atau memotong keuntungan pribadinya lebih dulu? Apakah ia memburu keuntungan jangka pendek, atau menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan? Buku ini menyoroti bahwa ketahanan sejati lahir bukan hanya dari sistem, tapi juga dari integritas.
Bagian lain dari buku ini berbicara tentang pentingnya sistem pengendalian manajemen—hal yang sering diabaikan oleh UMKM karena dianggap “terlalu besar”. Tapi justru di situ kelemahannya. Banyak UMKM runtuh bukan karena pasar tidak ada, tapi karena mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka hadapi. Mereka tidak mencatat dengan rapi, tidak mengukur risiko, dan tidak punya simulasi bila hal buruk terjadi. Dalam satu studi kasus, perusahaan kecil yang punya sistem manajemen risiko sederhana justru bisa lebih cepat pulih dibanding perusahaan yang lebih besar tapi berantakan secara organisasi.
Dalam konteks Indonesia, buku ini seakan menjitak kepala kita. UMKM kita tumbuh bak cendawan di musim hujan, tapi juga gugur dengan cepat begitu musim kemarau datang. Pandemi COVID-19 adalah bukti telanjang. Jutaan UMKM kolaps, bukan karena tidak punya pasar, tapi karena tidak punya pelindung. Asuransi? Jauh panggang dari api. Dana darurat? Hanya mitos. Literasi keuangan? Terbatas. Lalu ketika pemerintah datang dengan skema bantuan, tak sedikit yang tak terjangkau karena tak punya legalitas formal.
Maka, buku ini memberi satu tawaran besar: ubah cara pandang kita terhadap UMKM. Jangan hanya lihat mereka sebagai “pelaku ekonomi rakyat” yang butuh dibantu, tapi juga sebagai entitas strategis yang perlu disiapkan. Resiliensi bukan hasil instan, tapi akumulasi dari kebijakan, pembelajaran, dan keberanian untuk berubah.
Ada bagian menarik dalam buku ini yang menyebut bahwa UMKM juga perlu pelatihan ketahanan berbasis gamifikasi. Gagasan ini sederhana tapi revolusioner. Pelatihan yang menyenangkan, berbasis permainan, membuat pelaku UMKM lebih tertarik belajar soal risiko dan pengambilan keputusan. Di saat yang sama, keterampilan berpikir strategis dibangun dengan cara yang tidak menggurui.
Namun, di balik semua strategi dan saran teknis, buku ini membawa kita pada kesimpulan yang lebih dalam: bahwa ketahanan tidak bisa dibangun sendiri. Ia adalah ekosistem. Pemerintah, akademisi, komunitas bisnis, dan UMKM itu sendiri harus bergerak bersama. Tanpa itu, kita hanya melahirkan pejuang-pejuang kecil yang siap gugur di medan perang pasar yang brutal.
Dan jangan lupakan satu hal yang sering diabaikan: ketahanan juga soal manusia. Buku ini membahas tentang bagaimana ketahanan tenaga kerja menjadi pilar penting bagi UMKM. Pegawai yang sehat mental dan terlibat secara emosional adalah aset yang tak tergantikan. Di banyak kasus, loyalitas pegawai justru menjadi jangkar terakhir ketika usaha nyaris tenggelam.
Akhirnya, buku ini tidak sekadar menawarkan teori, tapi mengajak kita membayangkan masa depan UMKM yang lebih siap, lebih cerdas, dan lebih manusiawi. Ia menolak narasi bahwa UMKM hanya kuat karena terbiasa susah. Ketahanan bukan hasil penderitaan, tapi buah dari kesadaran, perencanaan, dan solidaritas.
Karena dalam dunia yang makin tak pasti, bertahan hidup bukan lagi soal siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling siap belajar.*
