Oleh: Muhibbullah Azfa Manik, dosen Universitas Bung Hatta
Perspektif.today_Dalam dunia bisnis yang bergerak secepat algoritma TikTok, keunggulan kompetitif tak lagi bersandar pada iklan heboh atau sekadar branding estetik. Di balik layar perusahaan-perusahaan terdepan dunia, sesungguhnya ada satu mesin sunyi yang bekerja tanpa banyak sorotan: manajemen operasi.
Manajemen operasi adalah seni yang terlalu sering dianggap teknis, bahkan diabaikan oleh pengambil kebijakan dan pelaku usaha di Indonesia. Padahal, seperti dijelaskan Richard B. Chase dan koleganya dalam buku klasik Operations Management for Competitive Advantage, justru di sinilah fondasi kemenangan bisnis modern dibangun. Bukan pada poster promosi atau gimmick pemasaran.
Kita bisa berkaca pada bagaimana Toyota merancang sistem produksi “just in time” (JIT) yang bukan hanya memangkas limbah, tapi sekaligus menyelamatkan perusahaannya dari kekacauan logistik. Atau bagaimana Amazon, raksasa e-commerce yang menjual hampir segalanya, justru membangun kekuatan dari pusat distribusi dan algoritma pengiriman yang dirancang dengan presisi nyaris militer.
Apa yang membedakan mereka dari pelaku industri di Indonesia? Satu hal: kesadaran bahwa operasi adalah strategi, bukan urusan teknisi gudang atau pekerja lini produksi belaka.
Sayangnya, di negeri ini, urusan operasi masih dianggap urusan “belakang”—tempat sisa anggaran dialihkan, tempat manajer magang belajar sebelum naik ke divisi marketing. Buku Chase, Jacobs, dan Aquilano justru mengingatkan bahwa bila manajemen operasi tak duduk di kursi strategis, maka perusahaan hanya akan jadi pedagang biasa, bukan produsen bernilai tambah.
Buku ini bukan sekadar manual teknis. Ia menyusun narasi kuat tentang bagaimana sebuah perusahaan bisa menciptakan keunggulan bersaing dari cara mereka merancang produk, memperkirakan permintaan, mengelola kapasitas, menjaga mutu, hingga menyelaraskan rantai pasok lintas benua.
Dalam satu bab, misalnya, dijelaskan bagaimana keputusan soal desain produk berkait langsung dengan efisiensi biaya produksi dan kepuasan konsumen. Di era produk massal yang makin dipersonalisasi, operasi bukan cuma soal jumlah, tapi fleksibilitas. Tak heran bila perusahaan seperti Dell sempat menguasai pasar global karena mampu merakit komputer pesanan konsumen hanya dalam hitungan hari.
Dalam konteks Indonesia, konsep ini harusnya menggugah. UMKM kita sering terjebak dalam produksi generik, tak punya kapasitas membaca kebutuhan pelanggan, apalagi merespons cepat. Yang lebih ironis: banyak yang punya produk bagus tapi terjebak dalam rantai pasok yang lamban dan tidak efisien.
Contoh konkret: petani hortikultura di dataran tinggi mampu menghasilkan komoditas berkualitas, tapi produk itu busuk di jalan sebelum sampai ke pasar. Bukan karena mutunya jelek, tapi karena sistem logistiknya bobrok. Maka kita kembali pada kesimpulan yang sama: manajemen operasi yang lemah adalah sumber kekalahan struktural dalam persaingan pasar.
Tak hanya itu, buku ini juga membahas pentingnya perencanaan permintaan (forecasting), pengendalian mutu, dan penggunaan teknologi digital dalam proses operasi. Bahkan dalam edisi terbarunya, Chase menekankan peran Artificial Intelligence, Internet of Things, dan otomatisasi dalam revolusi industri 4.0.
Di sinilah jurang kita makin lebar. Banyak perusahaan di Indonesia masih berkutat di spreadsheet Excel dan absensi manual, saat pesaing global sudah memakai algoritma untuk menentukan kebutuhan stok secara real time. Ketika perusahaan lain memakai machine learning untuk optimalkan logistik, kita masih mengandalkan tebakan dan “feeling” manajer gudang.
Namun semua ini bukan soal teknologi semata. Ini soal pola pikir: apakah kita menganggap urusan produksi dan operasi sebagai kunci keunggulan, atau sekadar tugas rutin yang bisa di-outsource?
Kelebihan buku Operations Management for Competitive Advantage adalah kemampuannya menjelaskan hubungan sebab-akibat antara keputusan operasional dan hasil strategis. Misalnya, keputusan soal lokasi pabrik tak hanya soal harga tanah, tapi soal akses pasar, logistik, bahkan stabilitas sosial-politik. Keputusan soal kapasitas produksi tak hanya soal mesin, tapi tentang skenario pertumbuhan pasar.
Inilah yang membedakan perusahaan besar dari perusahaan besar sebentar. Yang satu membangun sistem, yang lain mengandalkan keberuntungan.
Di tengah arus besar digitalisasi, perusahaan yang gagal menyusun strategi operasi yang adaptif akan tenggelam, secepat perusahaan cetak koran harian yang tak sempat migrasi ke digital. Dan bangsa yang gagal memandang operasi sebagai bagian dari strategi nasional, akan selamanya jadi pasar, bukan produsen.
Maka, bagi pengambil kebijakan, pengajar manajemen, pelaku usaha, dan pemilik industri kecil-menengah di Indonesia, membaca buku ini bukan hanya anjuran akademis, melainkan kewajiban strategis. Karena operasi bukan sekadar lini produksi. Ia adalah jantung strategi bisnis. Dan dalam dunia yang bergerak cepat, hanya mereka yang mampu beroperasi secara unggul yang akan bertahan—dan menang. *
