
Perspektif.today_Kelas menengah yang selama ini memainkan peran sentral dalam kegiatan kurban—baik sebagai individu maupun bagian dari kolektif—mulai mengalami kelelahan finansial. Ketika biaya pendidikan anak, cicilan rumah, dan kebutuhan sehari-hari menuntut prioritas, kurban menjadi pos anggaran yang harus dinegosiasikan ulang. Di sinilah spiritualitas harus berhadapan dengan kalkulasi ekonomi rumah tangga.
Antara Ibadah dan Realitas Ekonomi
Iduladha 2025 datang dalam suasana yang tidak biasa. Takbir masih menggema dari menara-menara masjid, hewan kurban tetap ditambatkan di halaman masjid dan lapangan kampung, namun denyut semangat itu beradu keras dengan kenyataan ekonomi yang menggoyahkan kelas menengah. Fenomena ini tercermin jelas dari data Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) yang menunjukkan penurunan nilai ekonomi kurban menjadi Rp27,1 triliun—angka yang menyusut dari Rp28,3 triliun tahun sebelumnya.
Sekilas, penurunan ini terlihat tipis. Namun dalam konteks krisis biaya hidup, pengetatan anggaran rumah tangga, dan melemahnya daya beli, angka tersebut menjadi isyarat serius bahwa ada sesuatu yang retak dalam struktur pengorbanan kolektif masyarakat. Dan yang paling terpukul adalah kelas menengah, segmen sosial yang selama ini menjadi tulang punggung partisipasi dalam ibadah kurban.
Kelas Menengah yang Tercekik
Kelas menengah Indonesia kini berada dalam pusaran tekanan ekonomi yang datang bertubi-tubi. Setelah pandemi COVID-19 menggerus tabungan dan kestabilan pendapatan, mereka kini dihadapkan pada inflasi pangan, kenaikan suku bunga, serta harga rumah yang terus meroket. Biaya hidup meningkat, tetapi pendapatan stagnan.
IDEAS mencatat jumlah pekurban tahun ini hanya mencapai 1,92 juta orang—turun dari 2,11 juta pada tahun 2021 dan 2,17 juta pada 2022, yang notabene terjadi saat pandemi masih menyisakan luka. Fakta bahwa angka pasca-pandemi justru lebih rendah dari masa krisis menunjukkan ada kemunduran daya beli struktural, bukan sekadar situasi temporer.
Kelas menengah yang selama ini memainkan peran sentral dalam kegiatan kurban—baik sebagai individu maupun bagian dari kolektif—mulai mengalami kelelahan finansial. Ketika biaya pendidikan anak, cicilan rumah, dan kebutuhan sehari-hari menuntut prioritas, kurban menjadi pos anggaran yang harus dinegosiasikan ulang. Di sinilah spiritualitas harus berhadapan dengan kalkulasi ekonomi rumah tangga.
Peternak Lokal Menanggung Beban
Dampak langsung dari penurunan partisipasi ini paling terasa di sektor peternakan rakyat. Di Jakarta, misalnya, jumlah hewan kurban yang tersedia tahun ini hanya 35.133 ekor, turun 57 persen dibanding tahun lalu. Ini bukan sekadar angka; ini adalah cermin dari kesulitan peternak lokal yang menggantungkan hidup pada musim Iduladha.
Rantai pasok ternak, yang sebagian besar masih digerakkan oleh peternakan kecil dan menengah, kini goyah. Peternak kehilangan pelanggan, pedagang mengeluh atas penurunan omzet, dan para pengepul kesulitan memutar modal. Padahal, di luar musim kurban, sektor ini tak pernah benar-benar mendapat dukungan penuh dari kebijakan pangan nasional.
Hewan kurban bukan sekadar komoditas keagamaan; ia adalah tumpuan hidup jutaan orang. Ketika ekonomi kurban melemah, maka bukan hanya nilai religius yang berkurang, tetapi juga daya hidup ekosistem ekonomi lokal yang ikut tergerus.
Distribusi: Dari Ritual ke Strategi Ketahanan Pangan
Meski kurban tahun ini menyusut secara nominal dan kuantitas, perannya dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat miskin tak bisa dikesampingkan. Menurut data dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), kurban memberikan tambahan pasokan daging siap konsumsi kepada kelompok rentan yang sepanjang tahun nyaris tak pernah mengakses protein hewani.
Iduladha menjadi momen langka di mana daging bukan barang mewah. Bagi banyak keluarga dhuafa, ini adalah satu-satunya waktu dalam setahun mereka bisa mencicipi gizi yang layak. Inilah kekuatan kurban yang tidak kasat mata: memperkuat solidaritas dan memberikan celah kecil bagi perbaikan kualitas gizi.
Namun distribusi kurban tidak lepas dari tantangan. Tanpa perencanaan logistik yang baik, distribusi sering kali timpang: ada wilayah yang kelebihan, ada yang kekurangan. Di sisi lain, transparansi juga menjadi isu, karena sebagian besar transaksi dan distribusi kurban masih terjadi di luar sistem formal.
Transparansi dan Akuntabilitas: Jalan Menuju Kurban Modern
Laporan IDEAS menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen transaksi kurban masih dilakukan secara off-balance sheet, alias di luar sistem pencatatan resmi lembaga. Artinya, ada potensi besar dalam hal efisiensi dan akuntabilitas yang belum tergarap. Kurban belum menjadi bagian dari sistem ekonomi formal yang sehat dan transparan.
Padahal, jika dikelola dengan baik—melalui lembaga amil, koperasi peternak, atau platform digital terpercaya—ekonomi kurban bisa menjadi instrumen sosial yang sangat kuat. Ia bisa dikaitkan dengan program pengentasan kemiskinan, pemberdayaan peternak lokal, dan peningkatan gizi masyarakat.
Teknologi sudah memungkinkan semua itu. Platform kurban digital berbasis blockchain, misalnya, bisa mencatat setiap transaksi dengan transparan, mulai dari pengumpulan dana, pembelian hewan, hingga distribusi akhir. Namun masih minim edukasi dan kebijakan yang mendorong masyarakat untuk berpindah dari sistem informal ke sistem akuntabel.
Kurban Kolektif: Solusi Kreatif di Tengah Tekanan
Di tengah menurunnya kemampuan individu untuk berkurban sendiri, muncul tren kurban kolektif—baik yang difasilitasi masjid, komunitas, maupun platform daring. Model ini tidak hanya meringankan beban finansial per orang, tetapi juga memperkuat kebersamaan. Dari segi ekonomi, ia membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk tetap berpartisipasi meskipun dana terbatas.
Tren ini perlu diperluas dan dilembagakan. Pemerintah bisa berperan aktif dengan memberikan insentif pajak, mengintegrasikan sistem kurban dengan program ketahanan pangan nasional, atau bahkan mengadopsi skema subsidi silang. Misalnya, kurban dari wilayah perkotaan yang kelebihan dana bisa disalurkan ke daerah tertinggal yang membutuhkan distribusi protein.
Kembali ke Esensi: Spirit Berbagi di Tengah Krisis
Di luar semua tantangan, kurban tetap menyisakan harapan. Ia adalah pengingat tahunan bahwa berbagi adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat yang beradab. Spirit pengorbanan Nabi Ibrahim tak lekang oleh waktu, dan maknanya terus relevan di tengah krisis multidimensi yang dihadapi bangsa.
Iduladha adalah panggilan moral untuk melampaui kepentingan pribadi. Kurban bukan sekadar tradisi, melainkan komitmen sosial yang konkret. Saat banyak orang memilih menarik diri karena tekanan ekonomi, tetap berkurban adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap ketimpangan dan keegoisan struktural.
Penutup: Momentum Koreksi Sistemik
Kurban 2025 telah membuka mata kita bahwa sistem ekonomi umat masih belum siap menghadapi krisis berkelanjutan. Namun di balik angka-angka yang turun, ada peluang besar untuk berbenah. Dari keterbatasan bisa lahir efisiensi; dari penurunan bisa tumbuh inovasi.
Saat jumlah pekurban menurun, mari perbaiki distribusinya. Saat peternak kehilangan pasar, mari bangun sistem pasok berkeadilan. Dan ketika kepercayaan publik mulai goyah, mari hadirkan transparansi. Sebab sejatinya, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan—tetapi tentang menyembelih ego dan membangkitkan solidaritas.
Iduladha tahun ini bukanlah tanda kemunduran, melainkan kesempatan untuk meredefinisi ulang makna kurban. Bukan hanya dalam bingkai ibadah, tetapi juga sebagai strategi ekonomi, intervensi sosial, dan ekspresi keadilan. Agar kurban tak berhenti pada sembelih, tapi juga menyentuh substansi kesejahteraan umat.
***
Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta
