
Perspektif.today_Idul Adha 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ritual tahunan ini bukan hanya momen ibadah, tapi juga peristiwa ekonomi berskala besar. Dari penjualan hewan ternak, distribusi logistik, hingga pengelolaan daging kurban, semuanya menciptakan denyut ekonomi tersendiri di tengah masyarakat.
Menurut catatan Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), pada Idul Adha 2024 lalu, potensi ekonomi kurban Indonesia mencapai Rp28,2 triliun, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka Rp24,5 triliun. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertumbuh pada 2025 seiring meningkatnya daya beli masyarakat kelas menengah pascapandemi dan menjamurnya layanan kurban digital.
Tren pengeluaran masyarakat menjelang Hari Raya Kurban juga berdampak pada sektor lain. Dalam satu kesempatan, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pernah menyebut bahwa perputaran ekonomi terkait Idul Adha dapat mencapai Rp200 triliun, bila dihitung secara agregat termasuk sektor perdagangan, logistik, wisata religi, hingga penyelenggaraan kegiatan sosial keagamaan.
Surplus Ternak, Tapi Tidak untuk Semua
Pada 2024 lalu, Kementerian Pertanian melaporkan bahwa kebutuhan hewan kurban secara nasional sekitar 1,97 juta ekor, sementara pasokan mencapai 2,06 juta ekor, menghasilkan surplus sekitar 88 ribu ekor. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat tetap menjadi lumbung ternak utama yang menopang kebutuhan nasional. Pada tahun 2025 ini jumlah itu diprediksi akan meningkat seiring meningkatnya permintaan hewan kurban.
Namun, fakta surplus itu belum menjamin pemerataan distribusi. Praktik distribusi daging kurban kerap kali bertumpuk di kawasan perkotaan padat, bahkan sampai ada rumah tangga yang menerima daging dari tiga hingga lima sumber sekaligus. Di sisi lain, warga miskin di wilayah tertinggal dan pelosok masih banyak yang tak tersentuh daging kurban.
“Esensi kurban adalah menghadirkan keadilan sosial,” kata Dr. Euis Sunarti, Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Keluarga di IPB University. Menurutnya, kurban jangan hanya dimaknai sebagai ibadah simbolik, tetapi harus dimaknai sebagai bentuk nyata solidaritas. “Kita sering terjebak pada kemewahan penyelenggaraan, padahal esensi sosialnya terpinggirkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena “kurban gengsi” yang marak di kalangan masyarakat urban: hewan kurban difoto, diunggah, dan dipamerkan ke media sosial. “Harusnya ini soal keikhlasan, bukan ajang pencitraan,” tambah Euis.
Kurban Digital: Inovatif Tapi Mengurangi Keterlibatan Sosial
Layanan kurban daring (online) semakin menjamur. Mulai dari e-commerce hingga platform zakat nasional menawarkan layanan kurban praktis hanya dengan beberapa klik. Tren ini dipercepat oleh pandemi dan kini menjadi kebiasaan baru, terutama di kota besar.
Namun, digitalisasi juga membawa jarak. Di satu sisi, pelaku kurban tak lagi menyentuh langsung hewan kurban atau menyaksikan proses penyembelihan. “Keterlibatan sosialnya jadi menurun,” kata Arifin Purwakananta, Direktur Utama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Meski demikian, ia mengakui bahwa pendekatan digital memungkinkan distribusi yang lebih terarah, terutama ke daerah rawan pangan.
Melalui program Balai Ternak BAZNAS, pada 2024 lembaga ini menyalurkan lebih dari 4.000 ekor hewan kurban ke wilayah tertinggal seperti NTT, Papua, dan sebagian wilayah Sulawesi. Tahun 2025 ini, BAZNAS menargetkan peningkatan distribusi dengan memprioritaskan daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem.
Kepemimpinan Kurban di Tengah Krisis Sosial
Beberapa instansi pemerintah mulai menunjukkan kepedulian atas distribusi kurban yang adil. Tahun lalu, Kementerian Perdagangan menyembelih 70 ekor sapi dan 104 kambing untuk dibagikan kepada masyarakat prasejahtera di Jabodetabek. Kebijakan serupa diharapkan dapat diperluas, terutama ke wilayah timur Indonesia yang selama ini lebih sering menjadi penonton ketimbang penerima manfaat.
Di tingkat akar rumput, sejumlah organisasi filantropi seperti Dompet Dhuafa dan LAZISNU mulai mengembangkan metode pemetaan digital untuk menghindari tumpang tindih distribusi. Dengan menggunakan data geospasial dan kerja sama dengan relawan lokal, mereka menyalurkan daging kurban ke titik-titik kelurahan yang sebelumnya tidak pernah tersentuh.
Namun, tantangan tetap ada. Banyak panitia kurban lokal yang masih terpaku pada pola lama: membagikan daging ke lingkungan sekitar masjid tanpa memperhitungkan siapa yang sebenarnya paling membutuhkan. Padahal, prinsip dasar kurban adalah memberi kepada yang jarang menerima, bukan menambah simpanan bagi yang sudah berlebih.
Refleksi Idul Adha 2025
Kurban bukan sekadar ritual penyembelihan, tetapi peristiwa solidaritas tahunan. Di tengah naiknya biaya hidup dan ketimpangan distribusi sumber daya, pelaksanaan kurban bisa menjadi penanda arah keadilan sosial sebuah masyarakat.
Tugas kita hari ini bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga memangkas kesenjangan sosial yang menganga. Jika dijalankan dengan niat yang bersih dan tata kelola yang cermat, kurban bisa menjadi salah satu praktik Islam yang paling progresif: mendistribusikan kekayaan dari yang punya kepada yang benar-benar tidak punya.
***
Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta
