Perspektif.today_Pagi itu, Pak Roni, 56 tahun, duduk terpaku di ruang tamu rumahnya di Depok. Di tangannya, segelas kopi hitam nyaris tak tersentuh. Bukan karena pahitnya, tapi karena pikirannya tengah berputar pada satu hal: “Apakah aku akan digantikan mesin?” Sudah tiga dekade ia bekerja di perusahaan logistik. Tapi dalam enam bulan terakhir, ia menyaksikan satu per satu koleganya dipensiunkan dini. Beberapa posisi bahkan digantikan oleh algoritma dan aplikasi yang bisa bekerja tanpa lelah.

Ia bukan satu-satunya. Di banyak kota di Indonesia, pria-pria setengah abad ke atas tengah gelisah. Bukan soal keriput atau kolesterol, tapi karena kata-kata yang dulu hanya didengar di film fiksi ilmiah kini jadi kenyataan: AI, otomatisasi, digitalisasi. Dunia kerja berubah terlalu cepat, dan tak semua siap berlari mengikutinya.
Namun pagi itu juga, Pak Roni menemukan sesuatu yang mengubah harinya. Sebuah iklan di ponsel menantangnya dengan kalimat yang tak biasa: “To the men over 50 who are afraid of getting fired…” Ia membaca ulang. Bukan iklan produk kesehatan atau seminar pensiun, tapi kursus AI—ya, kecerdasan buatan—yang dirancang khusus untuk pemula berusia di atas 50 tahun.
Ajakan itu tak menuntut gelar tinggi atau kemampuan coding. Hanya 15 menit belajar per hari. Sederhana. Nyata. Bahkan terdengar bersahabat. Bagi generasi yang tumbuh bersama mesin tik dan pager, kalimat seperti itu adalah pintu masuk yang bersahabat ke dunia yang sebelumnya asing.
Fenomena ini bukan sekadar strategi pemasaran. Ia mencerminkan perubahan budaya yang lebih luas: gelombang kedua digitalisasi, di mana teknologi bukan hanya milik anak muda, tapi juga para pekerja senior yang ingin bertahan dan berkembang di tengah revolusi industri keempat.
Beberapa tahun terakhir, dominasi narasi teknologi memang cenderung eksklusif: start-up, anak muda usia 20-an yang menciptakan unicorn, coder remaja, dan istilah-istilah yang sulit diterjemahkan ke dalam keseharian orang tua kita. Tapi gelombang digital tidak pilih usia. Ia menyapu semua. Yang tidak adaptif, hanyut.
Namun, dari kekhawatiran itu lahir peluang. Lembaga kursus daring, komunitas teknologi, bahkan perusahaan multinasional mulai menyadari bahwa salah satu potensi terbesar justru ada pada generasi yang lebih tua. Mereka punya pengalaman, kedewasaan emosional, dan etos kerja yang stabil. Yang mereka butuhkan hanya satu: kesempatan untuk belajar kembali.
Di sinilah kita menemukan ironi sekaligus harapan. Selama bertahun-tahun, pendidikan di Indonesia seakan berhenti di usia tertentu. Setelah lulus kuliah atau pelatihan kerja, seseorang dianggap sudah “jadi”. Padahal di dunia yang terus berubah ini, pembelajaran seharusnya menjadi proses seumur hidup—lifelong learning bukan jargon, tapi kebutuhan.
“Orang tua itu bukan gagap teknologi, mereka hanya belum sempat belajar,” ujar Yuniarti Wulandari, pengajar program literasi digital untuk lansia di Bandung. Ia menyebut banyak pesertanya justru lebih tekun dan tidak mudah menyerah dibanding generasi muda. “Mereka tahu bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya pekerjaan, tapi juga harga diri.”
Di sinilah pentingnya pendekatan yang humanis. Bukan sekadar mengajarkan teknologi, tapi merancang pengalaman belajar yang tidak menggurui, tidak memalukan, dan tidak merendahkan. Kalimat seperti “dalam 4 minggu, Anda akan bertanya kenapa tidak mulai dari dulu” bukan hanya copywriting cerdas, tapi juga cerminan empati terhadap kegelisahan mereka.
Masalahnya, negara belum sepenuhnya hadir. Program pelatihan kerja pemerintah masih didominasi oleh pelatihan keterampilan teknis manual: menjahit, servis AC, atau pelatihan dasar komputer. Sementara pelatihan di bidang AI, data, atau otomasi, masih dianggap milik mereka yang muda dan terdidik tinggi. Padahal, masa depan kerja tidak lagi sekadar tentang tenaga otot, tapi justru tentang bagaimana memanfaatkan dan memahami sistem otomatis yang kini merambah berbagai sektor.
Tantangan bagi Indonesia kini adalah menyediakan ekosistem pembelajaran ulang (reskilling) yang inklusif, lintas usia, dan responsif terhadap perubahan zaman. Tak semua pekerja senior ingin menjadi programmer. Tapi mereka perlu memahami cara kerja sistem yang kini mengatur distribusi barang, sistem keuangan, hingga logistik. Mereka butuh menjadi “melek digital” bukan agar jadi insinyur, tapi agar tetap relevan.
Pak Roni kini punya rutinitas baru. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, ia menyisihkan 20 menit untuk mengikuti kursus daring. Ia belum bisa menjelaskan dengan mulus apa itu machine learning, tapi ia sudah paham bagaimana chatbot bisa membantu layanan pelanggan. Ia juga mulai mengajarkan rekan-rekannya membuka akun Gmail, menyimpan file di cloud, dan membuat presentasi berbasis AI. Kantornya belum memberinya promosi. Tapi ia merasa menang: terhadap rasa takut, terhadap keraguan, dan terhadap narasi bahwa teknologi hanya milik yang muda.
Di tengah dunia yang terus berubah, keberanian untuk belajar kembali mungkin adalah bentuk revolusi paling pribadi dan bermakna.
Dan untuk generasi yang tumbuh di era analog, itu bukan hal yang kecil.*
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
