Memahami Logika Kerugian

Perspektif.today_Dalam ekonomi neoklasik, kebahagiaan atau utilitas seseorang diukur dari tingkat konsumsi atau kekayaan mutlak yang ia miliki. Namun, bagi Matthew Rabin—salah satu pemikir paling tajam dalam ekonomi perilaku—gagasan itu terlalu steril. Manusia, kata Rabin, tidak hidup dalam ruang hampa. Mereka menilai untung-rugi bukan berdasarkan nilai absolut, tapi berdasarkan titik acuannya masing-masing: berapa yang mereka harapkan, berapa yang biasa mereka dapat, dan apa yang mereka anggap “normal”.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Konsep ini disebut reference dependence, atau ketergantungan pada titik acuan. Dalam makalahnya yang monumental yang dimuat dalam Handbook of Behavioral Economics, Rabin menjelaskan bahwa pilihan manusia, baik dalam konsumsi, investasi, maupun keputusan sehari-hari, sangat dipengaruhi oleh kerangka berpikir subjektif tentang “apa yang seharusnya terjadi”. Dan dari titik acuan inilah lahir efek psikologis paling ikonik dalam ekonomi perilaku: loss aversion, atau ketakutan terhadap kerugian.

Rabin mengambil pijakan dari karya Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam Prospect Theory, tetapi ia mengembangkan teori tersebut menjadi model ekonomi yang lebih terstruktur. Dalam model Rabin, individu tidak sekadar mengevaluasi hasil akhir, melainkan membandingkannya dengan ekspektasi atau status quo. Keuntungan (gain) memang menyenangkan, tetapi tidak semenyakitkan rasa rugi (loss) yang setara nilainya. Bahkan, banyak studi menunjukkan bahwa kerugian terasa dua kali lebih menyakitkan dibandingkan keuntungan yang sama besar.

Bayangkan seseorang yang berharap mendapat bonus akhir tahun sebesar Rp10 juta. Jika ia mendapat Rp12 juta, ia merasa puas. Tetapi jika ia hanya mendapat Rp8 juta, meskipun secara absolut tetap untung, ia mungkin kecewa karena merasa “dirugikan” dibanding ekspektasinya. Harapan telah berubah menjadi patokan, dan realitas yang di bawahnya terasa seperti kekalahan. Inilah esensi dari reference dependence.

Efek ini sangat nyata di pasar keuangan. Investor, misalnya, sering menetapkan harga beli saham sebagai titik acuan. Jika harga turun di bawah itu, mereka enggan menjual meski logika rasional mengatakan bahwa nilai saham tak mungkin pulih dalam waktu dekat. Mereka enggan mewujudkan kerugian, padahal dengan menjual dan mengalokasikan ke aset lain, mereka mungkin bisa menghindari kerugian yang lebih besar. Inilah yang disebut disposition effect—salah satu konsekuensi paling konkret dari loss aversion.

Rabin juga mengaitkan konsep ini dengan batasan dalam kontrak kerja dan harga, seperti keengganan perusahaan menurunkan gaji meskipun kondisi ekonomi memburuk. Penurunan gaji dianggap sebagai “kerugian” oleh karyawan karena titik acuan mereka adalah gaji sebelumnya. Maka perusahaan lebih memilih membekukan kenaikan atau memberikan bonus satu kali daripada menyentuh gaji pokok. Dalam makroekonomi, hal ini menjelaskan kenapa upah bersifat “kaku ke bawah”—rigid downward—dan pasar tenaga kerja tidak menyesuaikan sefleksibel teori klasik.

Lebih jauh, Rabin menunjukkan bahwa loss aversion juga bisa menjelaskan preferensi orang terhadap status quo, bahkan jika alternatifnya lebih efisien. Banyak orang enggan pindah rumah, mengganti kebijakan, atau mencoba sistem baru karena kerugian dari kehilangan hal lama terasa lebih besar daripada potensi keuntungan dari hal baru. Hal ini menciptakan inertia dalam kebijakan publik maupun perilaku individu, dan menjadi tantangan besar bagi reformasi atau inovasi sosial.

Dalam tulisannya, Rabin tak hanya memaparkan fenomena, tetapi juga mencoba mengintegrasikan loss aversion ke dalam model ekonomi formal. Ia menawarkan kerangka kerja yang bisa digunakan untuk menganalisis berbagai konteks: dari kontrak asuransi, pajak, hingga perilaku konsumen terhadap diskon. Ia menunjukkan bahwa model ini tidak hanya lebih akurat menjelaskan kenyataan, tetapi juga bisa dioperasionalisasikan untuk perancangan kebijakan.

Namun demikian, Rabin juga mengingatkan bahwa reference point itu bersifat luwes—bisa dibentuk oleh framing, pengalaman masa lalu, hingga persepsi sosial. Artinya, kebijakan publik bisa didesain untuk memengaruhi titik acuan ini. Misalnya, dalam kebijakan energi, menyebut pengurangan subsidi sebagai “penyesuaian” harga lebih diterima publik ketimbang menyebutnya “kenaikan harga”. Atau dalam dunia kerja, menjadikan insentif sebagai tambahan lebih diterima ketimbang menyebutnya sebagai pengurangan dari bonus ideal.

Dalam konteks yang lebih luas, Rabin memperlihatkan bahwa perilaku manusia yang tampak “tidak rasional” justru merupakan hasil dari adaptasi psikologis yang masuk akal dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan ekspektasi sosial. Dengan memahami reference dependence dan loss aversion, kita belajar bahwa kebijakan dan intervensi ekonomi tidak bisa lepas dari dimensi emosional dan kognitif manusia.

Ekonomi tidak lagi cukup hanya mengandalkan grafik permintaan-penawaran atau model utilitas linier. Ia harus mengakui bahwa titik awal seseorang—apa yang mereka harapkan, takutkan, atau anggap adil—adalah bagian dari fungsi keputusan. Dalam kerangka Rabin, manusia bukan makhluk serba logis, tapi makhluk yang ingin stabilitas, enggan merasa rugi, dan terikat pada narasi mereka sendiri.

Dengan begitu, teori ini bukan sekadar kritik terhadap model lama, tapi tawaran untuk membaca ulang dunia dengan kacamata yang lebih jujur terhadap kodrat manusia. Kita tidak hanya mengejar untung, kita juga menghindari rasa sakit. Dan itu, lebih dari apa pun, adalah kekuatan yang membentuk ekonomi sehari-hari.***

Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *