Trust the Process, Meski Dunia Terlalu Cepat

Perspektif.today_Ada kalimat populer yang sering tersemat di bio Instagram, status WhatsApp, hingga menjadi caption di TikTok: “Trust the process.” Kalimat pendek itu seperti mantra bagi siapa saja yang sedang menjalani sesuatu yang belum kunjung membuahkan hasil. Sebentuk nasihat untuk percaya bahwa proses itu penting, bahkan lebih penting dari sekadar hasil.

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Tapi di zaman yang serba instan seperti hari ini, kepercayaan pada proses seringkali terasa seperti barang antik. Apa gunanya sabar menjalani proses jika semua orang di media sosial berlomba-lomba pamer hasil? Apa artinya berlelah-lelah dalam perjalanan panjang kalau algoritma hanya menghadiahi kita dengan konten viral berdurasi kurang dari semenit?

“Trust the process” sebenarnya berasal dari dunia olahraga, khususnya bola basket. Kalimat ini populer setelah digunakan oleh manajemen Philadelphia 76ers di NBA pada awal 2010-an. Saat itu, tim ini memilih untuk membangun ulang dengan jalan berat: mereka sengaja menerima kekalahan demi mendapatkan draft pick pemain muda terbaik. Bertahun-tahun mereka kalah, tapi tetap meyakinkan fans dengan kalimat sakti itu: percaya pada proses. Tak heran, Joel Embiid, bintang mereka kini, bahkan menjuluki dirinya sendiri sebagai “The Process“.

Di luar gelanggang olahraga, kalimat ini merambat menjadi filosofi hidup. Bahwa segala sesuatu butuh waktu, perjuangan, dan kadang derita, sebelum hasil manis itu datang. Tapi di era sekarang, “proses” sering terdorong ke pinggir. Dunia bergerak terlalu cepat. Algoritma media sosial menyukai hal yang viral, singkat, dan instan. Startup dihargai bukan karena prosesnya, tapi karena seberapa cepat mereka bisa “scale up“. Sementara itu, orang-orang biasa sering merasa tertinggal hanya karena tak kunjung mencapai sesuatu yang layak dipamerkan.

Kita hidup di zaman “FOMO”fear of missing out. Takut tertinggal. Melihat teman sebaya sukses, posting foto liburan ke Eropa, atau menenteng tas mahal, membuat banyak orang gelisah: prosesku ini kok lambat sekali? Aku percaya proses, tapi kenapa yang lain sudah finish?

Psikolog klinis Ratih Ibrahim pernah mengatakan dalam sebuah wawancara, media sosial sering menciptakan distorsi realitas. Orang hanya melihat hasil, bukan proses di baliknya. Mereka lupa bahwa di balik feed yang rapi, tersimpan perjuangan, luka, bahkan air mata yang tak sempat direkam kamera.

Tapi memang begitulah proses: ia sering tak kasatmata. Proses adalah kerja dalam sunyi, jauh dari tepuk tangan. Di dunia kerja, misalnya, proses adalah ketika seseorang lembur malam-malam tanpa janji kenaikan pangkat. Di dunia pendidikan, proses adalah saat mahasiswa membolak-balik jurnal tanpa tahu kapan skripsinya akan selesai. Dan dalam relasi, proses adalah ketika pasangan bertengkar tapi berusaha tetap bertahan.

Namun dalam keheningan proses itu, muncul keraguan. Jangan-jangan proses ini sia-sia. Jangan-jangan hasilnya tak sebanding dengan sakitnya. Jangan-jangan aku kalah di tengah jalan. Di titik inilah “Trust the process” menjadi penting: bukan karena menjanjikan hasil yang pasti, tapi karena meyakinkan kita bahwa perjalanan itu sendiri membentuk siapa diri kita.

Kata filsuf Friedrich Nietzsche, “He who has a why to live can bear almost any how.” Siapa yang punya alasan untuk hidup, akan sanggup menjalani proses seberat apapun. Proses menjadi lebih mudah dipercaya jika kita tahu untuk apa kita menjalaninya.

Namun, tak semua proses harus dipercaya secara buta. “Trust the process” seringkali jadi pembenaran untuk menormalisasi penderitaan. Kita sering dipaksa percaya bahwa kerja keras tanpa henti adalah satu-satunya jalan, tanpa memikirkan apakah proses itu sehat atau justru merusak diri.

Fenomena ini terlihat dalam budaya hustle—kerja tanpa lelah, produktif setiap waktu. Dalam budaya ini, orang yang berhenti dianggap malas, yang lelah dicap lemah. Padahal tak semua proses layak dipercaya. Ada proses yang toksik, yang membuat kita kehilangan diri, kesehatan, bahkan kewarasan. Maka, percaya pada proses harus disertai kesadaran: proses yang sehat adalah proses yang memperbesar diri, bukan yang mengikisnya.

Apalagi di era sekarang, proses itu sering dibajak oleh kapitalisme. Perusahaan ingin kita percaya proses, tapi tanpa menjamin kesejahteraan. Pendidikan menyuruh kita percaya proses, tapi kadang melahirkan pengangguran. Maka, kritik terhadap proses itu tetap penting, agar kita tak terjebak dalam siklus tanpa ujung.

Di sisi lain, percaya pada proses kadang berarti percaya pada ketidaktahuan. Kita tak selalu tahu ke mana proses ini akan membawa kita. Tapi justru dalam ketidaktahuan itu, kita belajar banyak hal: tentang sabar, tentang adaptasi, tentang bagaimana mengelola ekspektasi.

Proses adalah ruang tumbuh. Hasil memang penting, tapi proses mengajarkan kita siapa diri kita sebenarnya. Orang yang setia pada proses biasanya lebih lentur menghadapi kegagalan. Mereka tak mudah tumbang karena tahu: perjalanan itu lebih luas dari sekadar hasil akhir.

Dalam dunia psikologi, proses ini disebut sebagai delayed gratification—kemampuan menunda kepuasan demi hasil yang lebih besar. Orang yang bisa menunda kepuasan cenderung lebih sukses dalam jangka panjang. Mungkin itulah esensi terdalam dari “Trust the process“: kemampuan untuk tidak tergesa-gesa.

Di tengah dunia yang serba cepat ini, “Trust the process” seperti suara lirih di tengah hingar-bingar. Ia tidak menjanjikan kemewahan instan, tidak pula menjamin hasil. Tapi ia mengajarkan satu hal penting: kesetiaan.

Bahwa tak semua hal harus cepat. Tak semua hal harus segera dipamerkan. Ada proses yang harus dijalani dengan sabar, pelan, dan kadang dalam diam.

Dan mungkin, dalam proses itulah, kita akhirnya menemukan diri kita yang sebenarnya.***

Penulis adalah Dosen Uniuversitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *