Perspektif.today_Dalam jagat peribahasa Nusantara, ungkapan “Tong kosong nyaring bunyinya” menyimpan sindiran tajam bagi mereka yang gemar berbicara besar tanpa isi. Pepatah ini, walau sederhana, terasa makin relevan di tengah atmosfer bangsa yang ramai dengan slogan, pidato, dan narasi pencitraan—tetapi sepi dalam kerja nyata. Kita hidup di zaman ketika nyaringnya suara tidak selalu menandakan kualitas, dan derasnya publikasi tidak selalu menjamin substansi.

Realitas politik dan kebijakan hari ini sarat dengan contoh “tong kosong” yang menggema di ruang publik. Pemimpin yang lihai beretorika tapi tak kunjung menghadirkan solusi. Birokrasi yang sibuk menyusun dokumen rencana strategis, tapi lupa pada hasil di lapangan. Program-program digembar-gemborkan dengan jargon populis, namun rakyat tetap berjuang sendiri menghadapi harga pangan yang melambung, layanan publik yang lamban, dan ketidakpastian hidup yang berkepanjangan.
Ambil contoh pembangunan infrastruktur. Sejak beberapa tahun terakhir, proyek-proyek besar menjadi kebanggaan pemerintah pusat: jalan tol, bandara, kereta cepat, dan pelabuhan digadang-gadang sebagai simbol kemajuan. Namun di balik kemegahan itu, masih banyak desa yang sulit diakses, sekolah yang nyaris roboh, dan puskesmas yang kekurangan tenaga medis. Di kota-kota besar, kemacetan tetap menjadi rutinitas, air bersih belum merata, dan banjir masih menggenangi tiap musim hujan.
Kita tak anti pembangunan. Yang kita persoalkan adalah ketimpangan antara narasi dan kenyataan. Ketika pemerintah sibuk merayakan “prestasi”, publik justru merasakan kesenjangan yang nyata. Di sinilah pepatah “tong kosong nyaring bunyinya” menemukan dagingnya: pembangunan yang hanya terdengar dalam laporan dan konferensi pers, tapi tidak menyentuh kehidupan rakyat banyak.
Hal serupa terjadi dalam dunia politik. Kampanye dipenuhi janji-janji bombastis: pendidikan gratis, lapangan kerja berjuta, subsidi yang melimpah. Namun ketika kekuasaan diraih, suara-suara itu menguap. Yang tersisa hanya debat kusir di parlemen, saling serang di media sosial, dan agenda-agenda yang melayani elite. Kritik dibalas dengan retorika kosong, bukan dengan perbaikan. Alih-alih menghadirkan dialog yang sehat, banyak politisi justru menjadikan panggung demokrasi sebagai ruang panggung ego dan kepalsuan.
Sementara itu, di tengah masyarakat, budaya “nyaring tanpa isi” ini ikut menular. Di media sosial, banyak yang gemar menghakimi tanpa memahami konteks, menyebarkan kabar tanpa memverifikasi fakta. Literasi kritis kalah oleh viralitas. Opini dangkal yang dikemas dengan kata-kata keras kerap lebih dipercaya ketimbang analisis mendalam yang tenang dan berbasis data. Kita terjebak dalam zaman ketika siapa yang paling keras bicara dianggap paling benar.
Namun bahaya dari “tong kosong yang nyaring” bukan hanya pada kebisingannya, tapi pada ilusi yang ia ciptakan. Ketika rakyat terus disuguhi narasi-narasi kosong, lama-lama kepercayaan runtuh. Ketika pejabat hanya pintar bicara tapi miskin karya, rakyat akan merasa ditipu. Dan ketika kebisingan menjadi alat untuk menutupi kegagalan, maka kita sedang merayakan kebohongan dalam skala nasional.
Padahal, bangsa besar dibangun bukan dari suara paling lantang, tetapi dari kerja paling nyata. Dari pemimpin yang lebih banyak bekerja daripada berbicara. Dari birokrasi yang fokus pada hasil, bukan seremonial. Dari masyarakat yang mengedepankan nalar ketimbang sensasi.
Kini, saatnya bangsa ini berhenti menepuk dada sambil menutup telinga. Kita butuh lebih sedikit pidato, dan lebih banyak aksi. Kita butuh pejabat yang tidak hanya sibuk launching program, tapi juga memastikan program itu menjangkau yang paling lemah. Kita butuh parlemen yang tak sekadar gaduh di mikrofon, tapi benar-benar menyuarakan kebutuhan rakyat.
Karena di ujungnya, sejarah hanya akan mencatat siapa yang bekerja, bukan siapa yang bicara. Dan di mata rakyat, hanya kebijakan yang menyentuh dapur dan kehidupan mereka yang layak dirayakan.
“Tong kosong nyaring bunyinya”—pepatah ini seharusnya menjadi pengingat, bukan hanya untuk mereka yang duduk di kekuasaan, tetapi juga untuk kita semua. Bahwa substansi jauh lebih penting dari sorot kamera. Bahwa diam tapi bekerja lebih mulia dari berteriak tanpa hasil. Dan bahwa kebisingan tanpa isi hanya akan membuat bangsa ini lelah mendengar, tapi tak kunjung merasa didengar.
Kini, yang kita butuhkan adalah isi, bukan gema. Karena hanya bangsa yang bernalar dan bekerja dalam diam, yang akan melangkah jauh dalam keheningan yang bermakna.*
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
