
Perspektif.today_Di dunia bisnis modern, jabatan Chief Revenue Officer (CRO) tengah naik daun. Ia bukan sekadar evolusi dari Chief Marketing Officer (CMO), melainkan revolusi dalam cara pandang organisasi terhadap pertumbuhan. Bila CMO berfokus pada strategi komunikasi dan citra merek, CRO melampaui batas itu. Ia duduk di persimpangan antara pemasaran, penjualan, layanan pelanggan, dan teknologi—mengorkestrasi semua sumber daya untuk satu tujuan: pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, berbasis pengalaman pelanggan yang utuh.
Dalam buku CMO to CRO: The Revenue Takeover by the Next Generation Executive karya Mike Geller, Brandi Starr, dan Rolly Keenan, CRO digambarkan sebagai penghapus sekat antar fungsi yang selama ini berjalan dalam silo. Ia tidak hanya merancang kampanye, tapi juga membangun sistem data terpadu, menginisiasi kolaborasi lintas departemen, dan menjadikan semua tim—dari pemasaran hingga layanan purna jual—berorientasi pada satu indikator utama: pertumbuhan pendapatan berbasis nilai pelanggan.
Di luar dunia korporasi, gagasan ini tampak asing. Namun, aroma relevansi mulai tercium di lorong-lorong kampus. Terutama di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang makin terjepit oleh penurunan mahasiswa baru dan ketergantungan pada Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Di sisi lain, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pun tak sepenuhnya kebal. Otonomi keuangan membuat mereka perlu mencari sumber pendapatan mandiri tanpa mengorbankan mutu akademik.
Di sinilah konsep CRO mendapat tempat baru. Tidak harus memakai nama yang sama, tetapi semangat dan fungsinya mulai dibutuhkan: seorang pemimpin lintas fungsi yang mampu menyatukan visi antara promosi, pelayanan akademik, pengembangan program, relasi alumni, hingga unit-unit bisnis kampus.
“Perguruan tinggi terlalu lama terjebak dalam birokrasi fungsional,” ujar seorang pakar manajemen pendidikan dari Yogyakarta. “Promosi mahasiswa baru dikelola Humas, pengalaman mahasiswa ditangani bidang kemahasiswaan, sementara pengembangan dana terpisah di unit bisnis. Tidak ada satu pemimpin yang benar-benar mengintegrasikan semuanya.”
Dalam konteks ini, CRO di kampus bukan sekadar “kepala pemasaran”. Ia bertanggung jawab atas keseluruhan student journey: dari pertama kali calon mahasiswa mengenal institusi, mengikuti proses seleksi, menjalani perkuliahan, hingga menjadi alumni yang aktif. Bila dalam korporasi, pelanggan adalah sumber pertumbuhan, maka di kampus, mahasiswa adalah pusat keberlanjutan. Dan keberlanjutan itu kini tak bisa hanya ditopang oleh jalur akademik konvensional.
Beberapa kampus swasta di Jakarta dan Bandung mulai mengadopsi semangat CRO, meski belum secara formal. Mereka membentuk unit Revenue Growth Office, mengintegrasikan promosi, pengembangan kurikulum vokasional, hingga kerja sama industri. Beberapa bahkan menjadikan alumni sebagai mitra strategis, bukan sekadar penyumbang donasi sesekali. “Kami menyebutnya sistem returning value,” kata seorang rektor PTS di Bandung. “Alumni jadi mitra pengembangan modul, tempat magang, bahkan tenaga pengajar paruh waktu. Itu bagian dari siklus pertumbuhan yang kami rancang.”
Namun, tantangan tidak kecil. Budaya birokrasi yang hierarkis membuat ide lintas fungsi sulit diwujudkan. Di banyak kampus, koordinasi antar bidang masih berjalan lewat surat resmi dan rapat berjenjang. Data mahasiswa pun terpencar: promosi punya basis datanya sendiri, akademik memiliki sistem berbeda, keuangan menyimpan informasi yang tak terhubung dengan layanan mahasiswa. Tanpa integrasi data, CRO akan berjalan dalam kabut.
Risiko lainnya adalah komersialisasi berlebihan. Bila CRO diterjemahkan semata-mata sebagai “pengejar uang”, kampus bisa kehilangan arah. Kualitas akademik dan integritas ilmiah bisa tergerus oleh target pendapatan. Maka, model CRO kampus harus dibingkai dalam etika pendidikan: pertumbuhan finansial harus sejalan dengan mutu layanan dan pencapaian visi tridharma.
“Di dunia akademik, CRO bukan hanya pengelola pendapatan,” ujar seorang konsultan pendidikan dari Surabaya. “Ia harus menjadi penjaga keseimbangan antara keberlanjutan lembaga dan tanggung jawab sosial kampus.”
Momentum perubahan sebenarnya sudah di depan mata. Otonomi kampus, perkembangan edutech, dan tuntutan mahasiswa akan pengalaman belajar yang relevan membuka ruang bagi pendekatan baru dalam manajemen pertumbuhan institusi. Hari Pemasaran Sedunia yang jatuh pada 27 Mei bisa menjadi titik refleksi: sudahkah kampus melihat mahasiswa sebagai pelanggan strategis yang layak mendapatkan pengalaman holistik—bukan sekadar peserta perkuliahan?
Pada akhirnya, transformasi CMO ke CRO bukan sekadar jargon manajemen. Ia adalah panggilan untuk menyatukan yang tercerai, membangun jembatan antar bidang, dan merancang pertumbuhan yang melampaui sekat struktural. Bila dunia korporasi telah lebih dulu membuka jalannya, dunia pendidikan pun tak boleh tertinggal.[****]
