Perspektif.today_Pagi itu, di sebuah butik semi-lux di kawasan Jakarta Selatan, Bu Laras—manajer SDM di perusahaan konsultan ternama—sedang menimbang pilihan blazer. Di antara tumpukan baju dengan potongan rapi, matanya terpaku pada satu label kecil bertuliskan: One size fits all. Ia mengernyit. Di ruang rapat tempatnya bekerja, frasa itu juga sering dilempar, meski dalam konteks yang berbeda—solusi bisnis, model pelatihan karyawan, bahkan kebijakan insentif.

Sama seperti blazer yang katanya muat untuk semua, solusi yang seragam itu terdengar praktis: murah, cepat, dan gampang dikemas dalam presentasi PowerPoint. Tapi sebagaimana tubuh manusia yang tak semuanya memiliki lekuk dan panjang tangan yang sama, dunia kerja—dan hidup secara umum—pun tidak bisa diatur dengan cetakan serupa.
Asal-usul frasa itu memang dari industri busana. Ia lahir dari keinginan menciptakan pakaian yang fleksibel, bisa dikenakan siapa saja. Tapi dalam perjalanannya, “satu ukuran untuk semua” berubah dari solusi praktis menjadi retorika pemalas, yang menggoda karena tampilannya efisien tapi lalai terhadap kompleksitas.
Di ruang kelas, jebakan ini sudah berlangsung terlalu lama. Kurikulum nasional mengandaikan bahwa setiap anak—entah ia suka menggambar, menulis puisi, atau merakit motor—harus lulus dengan angka sempurna dalam Matematika dan IPA. Semua siswa dicekoki bahan ajar seragam, diuji dengan standar sama, dan digiring ke arah cita-cita yang dibakukan. Anak-anak seperti Dino, si pembelajar visual yang hanya hidup ketika menyentuh tanah dan eksperimen, jadi tampak bodoh di hadapan sistem yang lebih percaya pada hafalan. Adiknya, Tari, jago membaca dan mendengar, justru tenggelam dalam ketakutan tiap kali disuruh mengerjakan soal logika.
Yang kemudian hilang bukan hanya semangat, tapi juga kemungkinan.
Di sektor kesehatan, dampaknya bisa lebih berbahaya. Rekomendasi diet populer, program olahraga daring, atau aplikasi kesehatan yang mengklaim mujarab bagi siapa saja sering melupakan bahwa manusia bukan robot dengan spesifikasi sama. Tubuh kita punya cerita sendiri. Ada yang genetiknya mengizinkan pola makan tinggi karbo, ada yang tak kuat mengolah protein. Seorang penderita hipertensi jelas tak bisa sembarangan meniru menu diet influencer di Instagram. Maka kini, personalisasi bukan sekadar tren, melainkan keniscayaan. Bahkan pengobatan pun bergerak menuju pendekatan berbasis genom dan gaya hidup. Karena di tubuh manusia, generalisasi bisa menjadi pengabaian yang mematikan.
Dalam kebijakan publik, kerusakan akibat pendekatan seragam bahkan bisa membentuk lingkaran setan ketimpangan. Program bantuan sosial yang dirancang di pusat dengan asumsi urban, lalu diterapkan di desa terpencil tanpa penyesuaian, bisa gagal total. Pendataan yang tak menyentuh realitas lokal membuat distribusi bantuan meleset sasaran. Regulasi ketenagakerjaan yang menyamakan industri manufaktur padat karya dengan startup teknologi berbasis remote justru menciptakan kebingungan dan ketegangan antara pelaku usaha dan regulator.
Ketika pemerintah percaya pada satu acuan tunggal, maka yang dikorbankan adalah konteks—dan ironisnya, itulah yang paling menentukan keberhasilan.
Di dunia bisnis dan teknologi, jebakan serupa menghantui dari balik algoritma dan model produk. Sebuah platform manajemen yang katanya cocok untuk semua ukuran organisasi—dari koperasi pasar hingga perusahaan multinasional—sering kali justru tak optimal untuk keduanya. Terlalu canggih untuk yang kecil, terlalu dangkal untuk yang besar. Strategi pemasaran generik yang menargetkan “semua segmen” juga makin kehilangan daya di hadapan konsumen modern yang menuntut relevansi, bukan keseragaman.
Maka kita pun berhadapan dengan pertanyaan yang tidak nyaman: mengapa kita terus-menerus mengulang pola pikir “satu ukuran untuk semua”?
Jawabannya barangkali terletak pada obsesi kita terhadap efisiensi. Kita menyukai hal-hal yang rapi, bisa diduplikasi, dan mudah dikontrol. Kebijakan tunggal lebih gampang dievaluasi. Sistem yang seragam lebih hemat biaya. Tetapi semua itu dibayar mahal—dengan frustrasi di level implementasi, dengan kerusakan psikologis, bahkan dengan kehilangan potensi manusia yang tak sempat mekar karena tanah tempat ia tumbuh tak pernah diperhatikan.
Bu Laras, pada akhirnya, tak jadi membeli blazer “universal” itu. Ia memilih model lain, yang sedikit lebih mahal, tapi pas di badan. Karena ia tahu, tidak ada yang lebih melelahkan daripada memaksakan diri masuk ke ukuran yang bukan milik kita.
Di dunia ini, keberagaman bukan gangguan—ia adalah fondasi. Dari ruang kelas hingga ruang rapat, dari kebijakan negara hingga aplikasi kesehatan, dari sistem kerja hingga pola konsumsi—semuanya menuntut satu hal yang sama: kesadaran akan perbedaan.
Di situlah letak kebijaksanaan, yang barangkali kini makin langka: menyadari bahwa keadilan bukan soal memberi sama rata, tapi soal memberi sesuai kebutuhan. Karena yang universal belum tentu pas. Dan yang pas, selalu butuh usaha lebih.*
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
