Tetap Konsisten Meski Sendirian

Perspektif.today-Seorang lelaki paruh baya meluncur pelan di atas motornya, membelah jalanan sebuah kota kecil yang baru beberapa minggu ini menjadi tempat tinggalnya. Kota itu belum sepenuhnya akrab baginya. Ia masih meraba-raba ritmenya—bahasa tubuh orang-orangnya, tempo kehidupannya, isyarat tak tertulis di jalan-jalan sempit dan lebar yang tak selalu sejalan dengan rambu.

Pagi itu, ia mendekati persimpangan jalan utama. Lampu lalu lintas menyala merah. Ia menarik rem dan berhenti, sebagaimana yang telah jadi kebiasaannya selama puluhan tahun hidup di kotanya yang lama: kota yang kerap macet, tapi patuh pada sinyal lalu lintas. Namun, pemandangan yang ia dapati justru ganjil. Motor-motor lain melaju tanpa ragu. Tak ada yang berhenti. Tidak satu pun. Ia berdiri sendiri di garis batas, menyaksikan bagaimana warna merah tidak lagi dipahami sebagai larangan, melainkan semacam saran yang bisa diabaikan.

Beberapa hari kemudian, ia kembali pada persimpangan yang sama. Pagi itu berbeda. Ia terburu-buru ke kantor. Detik berlomba dengan rasa panik. Dan saat lampu kembali menyala merah, godaan pun datang: apakah kali ini ia ikut arus demi waktu? Atau tetap memilih untuk diam? Lagi-lagi ia sendirian. Ia menimbang sejenak. Lalu akhirnya ia memilih berhenti. Lagi. Dan meski ia tahu itu berarti datang terlambat dan dimarahi atasan, ia merasa tenang. Sebab kali ini, keterlambatan itu bukan akibat kemalasan, tapi karena ia menolak jadi bagian dari kekacauan kecil yang terus dibiarkan.


Apa yang dialami lelaki itu sesungguhnya bukan hanya potret lalu lintas di kota kecil, melainkan juga metafora dari dunia pendidikan kita hari ini. Banyak guru muda memasuki ruang kelas dengan semangat tinggi, idealisme yang hangat, dan tekad untuk menjadi agen perubahan. Tapi begitu bertemu kenyataan—aturan yang kaku, birokrasi yang berlapis, sistem penilaian yang sering menyesatkan—semangat itu mulai goyah.

Guru-guru seperti ini kerap merasa terasing di lingkungan yang tak memberi ruang bagi integritas. Mereka seperti pengendara tunggal yang berhenti di lampu merah, sementara yang lain melaju tanpa beban. Di depan kelas, mereka berusaha mendidik, bukan sekadar mengajar. Tapi di ruang guru, mereka mendengar cibiran karena dianggap terlalu repot, terlalu idealis, atau terlalu naif.

Ada beberapa pilihan yang biasanya muncul. Pertama, menyerah dan ikut arus—mengajar seadanya, memalsukan laporan, dan mengejar angka demi rapor bagus. Kedua, bertahan dengan prinsip, walau itu berarti berjalan sendirian. Ketiga, mencoba membuat perubahan, meski tahu risikonya besar. Dan terakhir, meninggalkan semuanya: pindah sekolah, bahkan keluar dari profesi.


Ambil satu contoh sederhana: supervisi kelas. Ketika pengawas sekolah datang dengan jadwal yang sudah diketahui jauh-jauh hari, banyak guru mendadak rajin. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun sebaik mungkin, media belajar ditata menarik, bahkan murid-murid dilatih agar bersikap manis selama penilaian berlangsung. Semua tampak ideal. Semua tampak hebat.

Tapi begitu pengawas pulang, semuanya kembali seperti semula. RPP ditinggalkan, metode interaktif dilupakan, dan guru kembali mengajar seperti robot. Padahal mereka tahu: mengajar tanpa rencana itu seperti berkendara tanpa peta. Mereka juga tahu: murid bukanlah gelas kosong yang diisi, melainkan individu yang perlu diajak mengalami.

Di titik ini, profesi guru diuji bukan pada saat diawasi, tetapi justru saat tidak ada yang melihat. Sebab mendidik adalah soal konsistensi, bukan pertunjukan. Seorang guru yang baik tidak mengajar demi nilai supervisi, tetapi demi perubahan nyata dalam diri murid-muridnya.


Memang mudah untuk tergoda ikut arus. Ada rasa aman saat melanggar bersama-sama. Tapi dampaknya lebih dalam dari sekadar nilai. Ini tentang teladan. Tentang moral yang tak bisa diajarkan lewat ceramah, tapi harus ditunjukkan lewat tindakan. Seorang guru yang tetap menyusun RPP meski tidak diperiksa, yang tetap menyiapkan bahan ajar meski tidak dinilai, adalah seperti pengendara yang berhenti di lampu merah meski tak ada polisi. Ia tidak sedang tunduk pada aturan, tapi sedang merawat harga dirinya.

Dan murid-murid, sadar atau tidak, melihat itu. Mereka belajar bukan dari papan tulis, tapi dari sikap diam sang guru ketika tak ada yang mengawasi.


Maka, pertanyaan yang seharusnya terus menggaung di benak para pendidik bukanlah: “Bagaimana agar nilainya bagus di mata pengawas?” Tapi: “Untuk siapa saya mengajar?”

Karena pada akhirnya, tujuan guru bukanlah akreditasi, bukan juga lembar evaluasi yang dipajang di papan. Tujuan guru adalah murid. Adalah tumbuhnya rasa ingin tahu. Adalah munculnya kesadaran. Adalah lahirnya generasi baru yang tahu bahwa kebenaran tetap layak diperjuangkan, bahkan saat hanya ada satu orang yang berhenti di lampu merah.

Dan mungkin, justru di saat ia merasa paling sendiri, seorang guru sedang menjalankan tugas terbesarnya.*

Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *