Sunyi Waisak, Jerit Reformasi

Muhibbullah Azfa Manik

Perspektiftoday_Tanggal 12 Mei 2025 adalah lorong waktu yang menghadirkan dua wajah berbeda dalam sejarah Indonesia: kekhusyukan Hari Raya Waisak dan kepedihan peringatan Tragedi Trisakti. Satu mengajarkan damai dalam keheningan, yang lain mengguratkan jeritan darah mahasiswa dalam perjuangan reformasi. Tahun ini, dua peristiwa itu kembali bersua, mengajak kita merenung tentang bangsa yang terus mencari keseimbangan antara spiritualitas dan keberanian bersuara.

Hari Raya Waisak, atau Vesak, adalah momen penting bagi umat Buddha di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dirayakan untuk memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Siddharta Gautama—kelahiran, pencerahan, dan wafat—Waisak identik dengan lilin-lilin doa, meditasi massal, dan pelepasan burung atau lampion sebagai simbol pembebasan. Di Candi Borobudur, perayaan Waisak tahun ini dipusatkan dengan prosesi jalan kaki membawa api suci dari Mrapen dan air suci dari Umbul Jumprit, dua elemen simbolis dari alam yang disucikan.

Namun di tengah damainya Waisak, tanggal yang sama menyimpan luka: Tragedi Trisakti. Dua puluh tujuh tahun silam, tepat pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak mati oleh aparat keamanan saat berdemonstrasi menuntut reformasi. Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie gugur dalam aksi damai, menjadi martir bagi gerakan mahasiswa yang mengguncang rezim Orde Baru.

Tidak ada keterkaitan langsung antara ajaran Buddha dengan gerakan mahasiswa 1998, namun keduanya berbagi semangat pembebasan. Siddharta membebaskan manusia dari penderitaan batin, para mahasiswa berjuang membebaskan bangsa dari penderitaan struktural. Waisak adalah renungan; Trisakti adalah perlawanan. Namun pada titik terdalamnya, keduanya lahir dari kesadaran bahwa dunia tidak bisa dibiarkan tetap dalam penderitaan.

Refleksi ini penting, karena sering kali kita memisahkan dimensi spiritual dan sosial, seolah keduanya tak bisa berjalan beriringan. Namun sejarah membuktikan bahwa banyak gerakan sosial besar lahir dari dorongan batin yang dalam. Gandhi, misalnya, memadukan meditasi dan perlawanan sipil. Di Indonesia sendiri, para tokoh agama juga ambil bagian dalam gelombang reformasi, baik sebagai penengah maupun penggerak.

Waisak dan Tragedi Trisakti memperlihatkan dua jalan berbeda menuju perubahan. Satu sunyi dan batiniah, satu nyaring dan berdarah. Namun keduanya mengingatkan bahwa perubahan sejati lahir dari keberanian menghadapi penderitaan—baik dalam diri maupun dalam masyarakat.

Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika suara-suara kritis mulai dibungkam lagi dengan stigma dan kekuasaan, peringatan Tragedi Trisakti bukan sekadar ritual tahunan, tetapi panggilan untuk menjaga warisan reformasi. Sementara Waisak mengajak kita merefleksikan apakah pembangunan bangsa sudah sejalan dengan kebijaksanaan batin dan welas asih.

Pemerintah, sayangnya, lebih sering memperingati Waisak dalam bentuk seremoni, dan Trisakti dalam bentuk slogan. Padahal, keduanya menuntut kita tidak hanya mengingat, tapi melanjutkan semangatnya. Peringatan Waisak tanpa refleksi atas penderitaan sosial hanya menjadi ritual kosong. Peringatan Trisakti tanpa keberanian membongkar kekuasaan hanya menjadi agenda tahunan yang jinak.

Sebagai bangsa, kita punya kecenderungan melupakan. Tetapi sejarah tidak pernah lupa. Setiap 12 Mei, sejarah seolah mengetuk lagi hati nurani kita. Apakah kita masih memelihara semangat para bhikkhu yang berjalan berhari-hari demi menyalakan lilin damai? Apakah kita masih memelihara semangat mahasiswa yang berjalan ke kampus dengan poster dan keberanian di dada?

Bagi generasi muda yang mungkin tak mengalami langsung tahun 1998, 12 Mei adalah kesempatan untuk memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya produk proklamasi, tapi hasil dari keberanian menolak ketidakadilan. Bagi umat beragama, Waisak mengingatkan bahwa spiritualitas sejati tidak anti-politik, tapi justru menjadi dasar moral untuk bersikap dalam dunia yang penuh ketimpangan.

Sebagai catatan tambahan, Hari Raya Waisak tidak selalu jatuh pada tanggal 12 Mei. Penetapan Waisak menggunakan sistem kalender lunar Buddhis, yakni pada bulan purnama (Purnama Sidhi) di bulan Waisakha. Karena perbedaan sistem penanggalan, tanggal Waisak dalam kalender Masehi selalu berubah-ubah tiap tahun. Tahun 2025 adalah kebetulan langka: Waisak jatuh tepat pada tanggal 12 Mei, bertepatan dengan peringatan Tragedi Trisakti 1998. Dua dunia—rohani dan politik—bertemu dalam satu tanggal. Dua renungan, satu pelajaran.

Dalam sunyi doa dan jerit perjuangan, bangsa ini sedang diuji: masihkah kita setia pada nilai-nilai yang pernah kita perjuangkan? Masihkah kita berani melampaui diri sendiri demi yang lebih besar?

Tanggal 12 Mei bukan hanya kalender. Ia adalah cermin: siapa kita kemarin, dan siapa kita ingin menjadi esok hari.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *