Pesan Pribadi di Republik Digital

“With private messaging and calling, you can be yourself, speak freely and feel close to the most important people in your life no matter where they are.”

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Perspektif.today_Di negeri dengan 270 juta jiwa dan keragaman sosial-budaya yang luar biasa, ruang personal menjadi kebutuhan yang tak kalah vital dari ruang publik. Di tengah riuh rendah komentar politik di media sosial dan lalu lintas hoaks yang tak putus, ruang percakapan privat—entah itu WhatsApp, Telegram, atau Signal—menjadi oase.

Bagi orang Indonesia, obrolan dalam grup kecil jauh lebih bermakna ketimbang percakapan terbuka yang kerap gaduh dan politis. “Di grup WA keluarga, saya bisa cerita soal anak tanpa takut dibalas nyinyir,” ujar Erna, ibu dua anak di Depok. Ia menyebut ruang itu sebagai tempat mengaso dari dunia yang makin bising.

Tak heran, fitur enkripsi dan privasi kini jadi alasan utama orang memilih platform. Di ruang tertutup, seseorang bisa menjadi dirinya sendiri. Tanpa pencitraan. Tanpa takut disalahpahami. Dalam negara yang menganut demokrasi Pancasila, hak bicara adalah keniscayaan. Namun, hak untuk merasa aman saat bicara—itu yang makin langka.

Di level mikro, komunikasi personal ini menjadi bentuk keberlanjutan tradisi sosial masyarakat Indonesia. Dalam budaya kolektif seperti Indonesia, komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tapi menjalin rasa. Dari undangan arisan digital, koordinasi hajatan, hingga sekadar mengirim stiker lucu khas daerah—semuanya mempertebal rasa keterikatan.

Dari sisi budaya digital, Indonesia justru memberi warna unik. Sapaan ‘assalamualaikum’, basa-basi penuh hormat, dan ‘wkwkwk’ sebagai tanda tawa kolektif, semua menjadi ciri khas lokal di platform global. Teknologi diadaptasi oleh nilai-nilai budaya, bukan sebaliknya. Di ruang privat, identitas lokal justru lebih hidup.

Namun ruang personal ini juga sarat tantangan. Saat privasi bisa dijual oleh platform, ketika data pengguna jadi komoditas, keamanan jadi barang mahal. Laporan Google-Temasek-Bain 2023 mencatat bahwa ekonomi digital Indonesia telah mencapai US$82 miliar. Tapi di balik itu, kekhawatiran terhadap penyalahgunaan data makin kuat. Apalagi hingga 2022, Indeks Literasi Digital Indonesia versi Kominfo masih berada di angka 3,49 dari skala 5—cukup, tapi belum ideal.

Di sinilah ruang privat menjadi arena perlawanan. Melawan arus algoritma yang mengadu domba. Melawan tekanan opini mayoritas. Melawan kecenderungan untuk selalu tampil sempurna. Di percakapan dua orang sahabat, dalam panggilan malam dengan pasangan yang LDR, atau dalam grup keluarga kecil, manusia Indonesia menemukan kembali jati dirinya.

Menurut Ligwina Hananto, perencana keuangan sekaligus pengamat media digital, ruang komunikasi personal bukan hanya medium, tapi sarana psikologis. “Ada kenyamanan yang tidak bisa digantikan di ruang pribadi,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas, 2023. “Itu juga bentuk perlindungan emosi.”

Namun ruang ini juga bisa jadi ladang gelap. Laporan Kominfo menyebut, sebaran hoaks paling banyak justru terjadi lewat pesan pribadi. Tak sedikit pula kasus doxing dan peretasan yang bermula dari obrolan grup. Bahkan sejumlah kasus hukum menyasar individu karena percakapan di grup terbatas. Artinya, ruang pribadi pun tak sepenuhnya aman jika negara belum siap melindungi warganya.

Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi yang disahkan 2022 memang langkah maju. Tapi implementasinya belum optimal. Kebocoran data masih terjadi, dari layanan kesehatan hingga platform belanja daring. Dalam demokrasi digital, jaminan privasi bukan kemewahan—melainkan syarat utama.

Ruang privat juga punya fungsi sosial yang kian penting dalam era ekonomi tidak pasti. Di tengah tekanan hidup kota besar, inflasi harga bahan pokok, hingga persaingan kerja yang ketat, banyak orang merasa kehilangan kendali. Di sinilah obrolan privat menjadi terapi kolektif. “Kalau nggak curhat sama teman di grup, bisa stres,” kata Dian, pekerja swasta di Jakarta.

Mereka bukan sekadar mengirim pesan. Mereka memulihkan diri, menjaga kewarasan, dan membangun makna baru dari relasi. Di ruang digital yang dipersonalisasi, manusia tetap mencari sesuatu yang sangat analog: rasa dimengerti.

Dalam tatanan sosial yang makin kompleks, komunikasi personal menjelma jadi jaring pengaman sosial. Ia melampaui teknologi. Ia menjadi bagian dari cara manusia Indonesia bertahan, menyusun ulang keintiman, dan tetap merawat jalinan di tengah keterpisahan geografis, sosial, bahkan ideologis.

Pada akhirnya, teknologi bukan soal aplikasi, tapi soal nilai yang kita sematkan padanya. Dan ruang privat, dengan segala keterbatasannya, masih menjadi tempat paling manusiawi dalam dunia yang kian digital.

Karena di sanalah, kita bisa merasa dekat. Merasa aman. Dan merasa hidup.

***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *