Belanja Cerdas di Tengah Harga Tak Menentu

Muhibullah Azfa Manik (Dosen Universitas Bung Hatta)

Perspektif.today_Di ruang tamu rumah sederhana di Bekasi, Ibu Yuli membuka tumpukan struk belanja dengan penuh perhatian. Ia bukan sedang menghitung utang, melainkan menyusun strategi keuangan. “Saya amati harga minyak goreng biasanya naik menjelang Lebaran, jadi saya beli stok dua bulan sebelumnya,” ujarnya sambil tersenyum. Ia mungkin bukan ahli ekonomi, tapi naluri pengaturannya mencerminkan prinsip dasar pengelolaan keuangan yang baik: memahami tren harga dan mengambil keputusan tepat waktu.

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Ligwina Hananto, seorang perencana keuangan senior, yang dalam wawancara bersama Kompas (2023) menyampaikan, “Kemampuan mengelola keuangan keluarga bukan hanya soal seberapa besar penghasilan, tetapi lebih pada bagaimana memahami pola pengeluaran dan mengenali musim kebutuhan. Dengan perencanaan yang matang, kita bisa menghindari pengeluaran impulsif dan memanfaatkan momen harga murah.” Ligwina menegaskan pentingnya menyusun anggaran berdasarkan siklus harga musiman agar rumah tangga bisa mengalokasikan dana dengan lebih efisien.

Selain itu, Annisa Steviani, perencana keuangan bersertifikat dan edukator yang aktif di media sosial, dalam wawancara dengan Katadata (2022) menjelaskan, “Strategi belanja yang terencana, seperti membeli bahan pokok saat harga sedang stabil atau turun, bisa menghemat hingga 20 persen pengeluaran bulanan keluarga. Kunci utamanya adalah tidak menunggu kebutuhan mendesak, tapi berbelanja saat kondisi harga paling menguntungkan.” Annisa juga mengajak masyarakat untuk aktif memanfaatkan data harga pangan dari pemerintah sebagai alat bantu perencanaan keuangan.

Dua kata kunci yang mengikat semua ini adalah perencanaan dan pemahaman tren. Fluktuasi harga bahan pokok seperti cabai, bawang, atau daging yang sering membuat pusing kini bisa dikelola dengan cara yang lebih cerdas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa harga cabai rawit di tingkat konsumen pernah melonjak lebih dari 30 persen saat musim hujan awal tahun. Begitu pula harga daging ayam dan telur yang biasanya naik signifikan menjelang hari raya. Namun, informasi ini seringkali luput dari perhatian konsumen.

“Dengan memahami pola ini, pengeluaran rumah tangga bisa ditekan,” ujar seorang ibu rumah tangga di Depok yang memilih anonim. Ia mencontohkan, membeli sayur segar di pagi hari atau beras saat panen raya akan jauh lebih hemat dibanding membeli di waktu puncak harga.

Di tingkat pemerintah, telah tersedia alat bantu digital yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat. Aplikasi SiHarga yang dikembangkan Kementerian Perdagangan serta situs Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) rutin mengupdate harga pangan di berbagai daerah. Data real time ini bisa menjadi acuan efektif bagi keluarga dalam menyusun jadwal belanja mingguan maupun bulanan.

Fenomena belanja cerdas ini pun tidak hanya berdampak pada skala mikro keluarga, tapi juga membawa implikasi makro ekonomi. Jika semakin banyak rumah tangga menyesuaikan pola konsumsi berdasarkan tren harga, tekanan inflasi terutama dari sisi permintaan bisa lebih terkendali. Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, kebiasaan belanja yang lebih terencana berpotensi menstabilkan ekonomi. Bank Indonesia mencatat, kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) adalah kontributor utama inflasi, khususnya dalam kuartal pertama 2025. Oleh karena itu, kemampuan rumah tangga mengantisipasi fluktuasi harga turut menjaga daya beli masyarakat.

Namun, semua itu kembali kepada kemampuan masyarakat dalam literasi keuangan. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2022 menunjukkan tingkat literasi keuangan di Indonesia baru mencapai 49,68 persen, yang berarti lebih dari setengah penduduk belum cukup memahami pengelolaan keuangan secara optimal.

Menariknya, sejumlah komunitas di berbagai kota mulai tumbuh sebagai wadah belajar dan berbagi strategi belanja hemat. Komunitas seperti “Belanja Bareng Tetangga” di Yogyakarta dan “Komunitas Ibu-Ibu Harga Turun” di Bandung memperlihatkan inisiatif gotong royong baru. Mereka saling berbagi informasi harga murah, promosi, dan jadwal diskon pasar tradisional maupun minimarket. Model kolaborasi ini menjadi bentuk adaptasi sosial menghadapi tantangan ekonomi.

Maka, memahami tren kebutuhan bukan sekadar soal belanja cerdas. Ini adalah bentuk perlawanan cerdas terhadap keterbatasan ekonomi dan volatilitas harga yang tak bisa sepenuhnya dikendalikan. Di tengah dinamika ekonomi yang penuh ketidakpastian, kita mungkin tidak dapat mencegah kenaikan harga, tapi kita bisa mengatur strategi kapan harus mengalah dan kapan harus bertindak cerdas.

Semua ini bisa dimulai dari dapur, dengan langkah kecil yang berdampak besar pada ketahanan ekonomi keluarga.***

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *