Perspektif.today_Dalam situasi ketika krisis ekonomi melilit sektor teknik dan infrastruktur, intuisi saja tak lagi memadai untuk membuat keputusan investasi. Yang dibutuhkan adalah pendekatan sistematis, perhitungan cermat, serta pemahaman yang kuat terhadap biaya dan peluang yang terlibat. Di sinilah letak pentingnya buku Contemporary Engineering Economics edisi ketujuh karya Chan S. Park. Buku ini hadir bukan hanya sebagai referensi akademis bagi mahasiswa teknik, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk para pengambil keputusan di ranah teknik dan ekonomi, dari ruang kuliah hingga ruang rapat eksekutif.

Dirilis pada tahun 2023, buku ini muncul di tengah keguncangan ekonomi global: gangguan rantai pasokan, lonjakan harga energi, serta ketidakpastian dalam proyek investasi skala besar. Dalam konteks Indonesia, buku ini patut dijadikan rujukan bagi para insinyur yang tengah bergulat dengan tuntutan efisiensi proyek, keterbatasan anggaran, serta keharusan menyelaraskan investasi dengan arah pembangunan nasional.
Park menawarkan pendekatan yang segar dan aplikatif. Ia tak sekadar membahas konsep-konsep seperti nilai waktu dari uang atau analisis kelayakan investasi, tetapi menempatkan pembaca di posisi pengambil keputusan nyata. Setiap bab menyajikan pertanyaan-pertanyaan strategis yang akrab di dunia nyata: bagaimana dampaknya jika tingkat bunga naik? Apa yang terjadi bila harga material melonjak? Atau bagaimana kalkulasi berubah jika proyek tertunda berbulan-bulan? Semua skenario ini dipecahkan melalui teknik kuantitatif berbasis pemodelan Excel yang diajarkan secara terstruktur—sesuatu yang jarang disentuh dalam referensi sejenis.
Di Indonesia, buku ini sepatutnya tak hanya dikonsumsi di lingkungan teknik industri atau sipil. Lembaga seperti Kementerian PUPR, Bappenas, maupun pelaksana proyek-proyek skema KPBU akan sangat terbantu bila memahami logika pengambilan keputusan berbasis risiko dan nilai jangka panjang seperti yang dikembangkan Park.
Hal ini makin relevan dengan kondisi fiskal Indonesia pasca-pandemi, di tengah tekanan utang negara dan perubahan kepemimpinan nasional. Banyak proyek besar butuh dikaji ulang: apakah nilai IRR-nya berada di atas tingkat diskonto sosial? Apakah manfaat yang dijanjikan lebih besar daripada potensi pengorbanan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak bisa dijawab dengan retorika, melainkan melalui perangkat analisis ekonomi teknik yang matang.
Yang membuat edisi terbaru ini menarik adalah keberanian Park dalam memasukkan isu-isu kekinian seperti energi baru terbarukan, smart manufacturing, dan transformasi digital sebagai bagian dari studi kasus. Sebagai contoh, dalam mengevaluasi dua pilihan investasi panel surya, Park tak hanya membandingkan biaya per watt, tetapi juga mempertimbangkan nilai tambah berupa carbon offset—faktor penting dalam perdagangan karbon yang kini berkembang.
Ini sangat berkaitan dengan konteks Indonesia yang telah menetapkan kerangka regulasi nilai ekonomi karbon melalui Perpres No. 98 Tahun 2021. Dunia industri kini menghadapi pilihan untuk berinvestasi pada teknologi hijau, namun sering kali tak memiliki alat analisis ekonomi yang sesuai. Buku Park dapat mengisi kekosongan tersebut, menjembatani antara idealisme keberlanjutan dan realitas pengambilan keputusan berbasis angka.
Lebih lanjut, Park mengajak pembacanya memahami perbedaan mendasar antara proyek yang digerakkan oleh efisiensi biaya (cost-driven) dan proyek yang berorientasi pada penciptaan nilai sosial (value-driven). Di tengah kebutuhan untuk efisiensi anggaran negara dan tekanan belanja sosial, pendekatan ini penting untuk mengevaluasi proyek-proyek daerah yang tidak selalu menguntungkan secara finansial, namun punya dampak sosial luas jika dianalisis dengan rasio manfaat-biaya yang diperluas.
Sayangnya, pemanfaatan buku ini di Indonesia masih sangat terbatas. Di banyak perguruan tinggi teknik, ekonomi teknik masih diajarkan dalam bingkai konservatif dan jarang dikaitkan dengan realitas kebijakan publik. Di sisi lain, lembaga pemerintah masih cenderung menjadikan evaluasi proyek sebagai arena politik, bukan analisis objektif berbasis data dan manfaat jangka panjang.
Apa yang ditawarkan Park bukan hanya pendekatan terkini, tetapi juga posisi baru bagi insinyur sebagai pengambil keputusan strategis. Dalam sistem birokrasi dan bisnis Indonesia, peran insinyur masih sering dikesampingkan sebagai pelaksana teknis belaka. Padahal, menghadapi tantangan besar seperti perubahan iklim, transisi energi, dan industrialisasi nasional, kita justru butuh insinyur yang melek pada dinamika ekonomi, dan ekonom yang memahami realitas teknis di lapangan.
Jika Indonesia benar-benar ingin mendorong investasi yang rasional, berkelanjutan, dan berdampak luas, maka pendekatan seperti yang ditawarkan dalam buku ini patut diadopsi dalam pelatihan lintas sektor. Buku ini dapat menjadi alat bantu untuk menyaring proyek yang tidak layak dari sisi ekonomi, sekaligus memperkuat argumentasi atas proyek yang penting secara sosial meski belum menguntungkan secara komersial.
Dalam dunia yang semakin tidak pasti, di mana kesalahan kalkulasi dapat berujung pada kerugian miliaran rupiah, Contemporary Engineering Economics bukan hanya buku teks. Ia adalah panduan berpikir, alat navigasi, dan jembatan antara dunia teknik dan ekonomi yang sering berjalan sendiri-sendiri.
Indonesia memerlukan lebih banyak pengambil kebijakan yang berpikir layaknya insinyur, dan insinyur yang mampu berbicara dalam bahasa ekonomi. Di titik temu itulah buku ini menemukan maknanya yang paling strategis.
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
