Perspektif.today_Suatu pagi di halaman belakang rumahnya di Salatiga, Saminah, 71 tahun, menyeduh kopi sambil menyimak suara radio. Dari dapur, suaminya, Pak Rauf, 75 tahun, sedang merapikan loyang onde-onde yang masih hangat. Mereka sudah hampir lima puluh tahun menikah, dan jika ditanya bagaimana bisa bertahan selama itu, mereka hanya tertawa kecil.

“Kadang bukan cinta yang bikin bertahan,” kata Saminah, “tapi sudah capek kalau harus mulai lagi dari awal dengan orang lain.”
Namun di balik tawa mereka, tersimpan sejarah rumah tangga yang lebih padat dari silabus kuliah: kisah jatuh bangun membangun toko kelontong, membesarkan tiga anak dalam krisis moneter, menghadapi sakit ginjal Pak Rauf yang sempat membuat mereka nyaris menjual rumah, sampai menghadapi kesepian saat anak-anak mereka semua merantau ke Jakarta dan Australia.
Ketika tahun ke-25 pernikahan mereka tiba, mereka tak sempat merayakan apa-apa. Saat itu tahun 1998, harga minyak goreng melonjak, dan toko kelontong mereka sepi. Saminah masih ingat, satu-satunya hadiah yang diterima hari itu adalah sebungkus gula merah dari tetangga. Tapi ia tak pernah lupa kalimat suaminya malam itu.
“Waktu susah begini, kalau kita masih bisa berpelukan tanpa saling menyalahkan, itu sudah lebih mahal dari cincin perak.”
Perayaan ulang tahun perak, bagi sebagian pasangan, memang bukan pesta dengan dekorasi putih-perak dan jamuan keluarga besar. Ia lebih seperti titik napas panjang di tengah maraton hidup. Sebuah momen untuk menengok ke belakang, bukan sekadar mengenang bulan madu, tapi juga mengingat malam-malam saat anak sakit, warung rugi, atau saat hanya ada cukup uang untuk membeli satu porsi nasi padang, yang dibagi berdua.
Tahun ke-25, dalam tradisi Barat, disebut ulang tahun perak—simbol ketahanan dan keanggunan setelah seperempat abad bersama. Tapi dalam hidup nyata, perak itu bukan logam yang berkilau di jari, melainkan keteguhan yang dibentuk dari pilihan-pilihan sehari-hari: memilih diam saat marah, memilih pulang saat tergoda pergi, dan memilih memeluk meski sudah kehabisan kata.
Kini, Saminah dan Rauf tengah bersiap menyambut ulang tahun pernikahan mereka yang ke-50. Ulang tahun emas. Anak-anak mereka berencana mengadakan perayaan kecil di rumah, mengundang tetangga lama, saudara jauh, dan cucu-cucu yang hanya sesekali pulang kampung. Di usianya sekarang, Rauf tak lagi kuat mengangkat karung beras seperti dulu, dan Saminah lebih banyak duduk di bangku kayu sambil menjahit taplak meja. Tapi mereka masih berjalan beriringan ke masjid, masih saling menyuapi di meja makan, dan masih saling menutup mulut satu sama lain saat salah satu menguap saat nonton sinetron.
“Cinta itu kalau dipupuk tiap hari, lama-lama bisa jadi pohon yang rindang,” kata Pak Rauf, sambil menepuk pelan tangan istrinya yang mulai keriput.
Ulang tahun emas, dalam tradisi banyak bangsa, adalah penanda kejayaan sebuah hubungan. Emas dipilih bukan hanya karena nilainya tinggi, tetapi karena ia tahan waktu, tidak berkarat, dan semakin tua semakin bersinar. Lima puluh tahun menikah bukanlah pencapaian romantis semata, tetapi hasil dari ketekunan, pengampunan, dan daya tahan yang luar biasa. Cinta yang bertahan bukan karena tidak pernah goyah, melainkan karena selalu dipilih kembali meski badai berkali-kali datang.
Banyak pasangan yang merayakan momen emas dengan pembaharuan janji nikah. Tapi Saminah dan Rauf tak perlu upacara mewah. “Janji itu sudah kami perbarui tiap hari, setiap kami saling maafkan tanpa syarat,” ujar Saminah.
Di dunia yang serba instan, ketika pernikahan kadang dibayangi ketidakpastian, pasangan seperti mereka menjadi cermin langka tentang arti keteguhan. Mereka membuktikan bahwa pernikahan bukan dongeng indah yang selalu berbunga, tapi perjalanan panjang yang penuh batu, tanah becek, dan kadang kabut pekat. Tapi jika dilalui bersama, bahkan kabut pun bisa jadi romantis.
Dan ketika malam tiba, dan rumah mulai sunyi, Pak Rauf kadang menyetel kaset lawas dari radio tua di kamar. Lagu Bing Slamet atau Titiek Puspa mengalun pelan, dan mereka hanya duduk berdua, diam, saling memegang tangan.
Di usia yang renta, mereka tahu bahwa cinta bukan hanya soal degup jantung atau pelukan hangat. Cinta adalah kesediaan untuk tetap duduk bersama, meski tak lagi kuat berdansa.
Di hari ulang tahun pernikahan emas mereka nanti, tak akan ada lilin yang ditiup atau kue besar yang dipotong. Tapi ada pelukan hangat di tengah dinginnya Salatiga, secangkir teh manis, dan dua pasang mata yang saling menatap. Bukan dengan gairah masa muda, tapi dengan ketenangan mereka yang sudah menempuh jalan jauh, dan memilih tetap tinggal.
Karena dalam hidup, cinta yang sejati bukan yang meledak-ledak di awal. Melainkan yang bertahan, melembut, dan tetap pulang—di tahun ke-25, dan di tahun ke-50. Dan bahkan setelah itu.*
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
