Perspektif.today_Di tengah denyut urbanisasi yang kian kencang, kota-kota di Indonesia tak ubahnya arena laga. Kemacetan kronis di Jakarta, hiruk-pikuk polusi di Surabaya, atau keterbatasan infrastruktur dasar di kota-kota menengah, adalah sederet persoalan yang menuntut solusi tak biasa. Di sinilah narasi “kota cerdas” atau smart city hadir, bukan lagi sebagai utopia futuristik, melainkan keniscayaan yang digadang-gadang mampu menjawab tantangan kompleks abad ke-21. Buku “Smart Cities and Smart Governance: Towards the 22nd Century Sustainable City” (2023), suntingan Elsa Estevez dan Tomasz Janowski, adalah peta jalan yang relevan untuk menelusuri bagaimana integrasi layanan perkotaan melalui teknologi pintar dapat menjadi kunci menuju keberlanjutan, termasuk bagi kota-kota kita.

Buku ini sejatinya tak sekadar menyoroti aplikasi teknologi mutakhir, melainkan menukik tajam pada fondasi yang kerap terlupakan: tata kelola yang cerdas (smart governance). Estevez dan Janowski berargumen, kota pintar tak akan bisa berdiri kokoh tanpa pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan responsif. Mereka menekankan modernisasi pemerintahan melalui digitalisasi sebagai tulang punggungnya. Ini termasuk penerapan e-government yang melampaui sekadar layanan daring, menuju sebuah sistem yang terintegrasi, partisipatif, dan berbasis data.
Di Indonesia, semangat ini sebenarnya sudah merambat. Berbagai kota telah beranjak mengimplementasikan layanan e-government, dari perizinan terpadu satu pintu (PTSP) secara online di Bandung, sistem e-budgeting di Surabaya, hingga platform pengaduan masyarakat seperti LAPOR! yang kini sudah banyak diadopsi. Namun, tantangannya tak kecil. Kesenjangan digital yang masih menganga, terutama antara perkotaan dan pelosok, menjadi ganjalan serius. Pun demikian dengan persoalan interoperabilitas data antarlembaga yang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Integrasi layanan pemerintah sejatinya tak hanya merangkul teknologi, tetapi juga mengubah pola pikir birokrasi yang masih terkotak-kotak, sebuah pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar memasang aplikasi baru.
Aspek krusial lain yang dibahas buku ini adalah transportasi cerdas. Para editor menyoroti pentingnya mobilitas listrik (electric mobility) dan sistem lalu lintas cerdas untuk mengatasi kemacetan dan mengurangi emisi. Konsep ini bukan hanya tentang memasang lampu lalu lintas adaptif, tetapi juga bagaimana sistem transportasi terintegrasi secara digital, mampu menganalisis pola perjalanan, dan memberikan informasi real-time kepada warga.
Kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, telah berinvestasi besar pada solusi transportasi massal yang cerdas. TransJakarta dengan sistem bus rapid transit-nya, MRT Jakarta, dan LRT adalah upaya nyata untuk mengurai kemacetan. Aplikasi transportasi daring juga telah mengubah lanskap mobilitas perkotaan. Namun, integrasi antarmoda masih menjadi tantangan. Jaringan yang belum menyeluruh dan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi masih menjadi pekerjaan rumah. Pengadopsian kendaraan listrik (EV) di Indonesia juga masih dalam tahap awal, membutuhkan dukungan infrastruktur pengisian daya yang masif dan insentif yang menarik, sejalan dengan visi mobilitas cerdas yang berkelanjutan.
Meski tidak secara spesifik membahas “energi” sebagai bab terpisah, tema keberlanjutan yang menjadi inti buku tak bisa dilepaskan dari manajemen energi yang cerdas. Konsep kota cerdas secara inheren melibatkan penggunaan energi yang efisien, pengembangan energi terbarukan, dan implementasi smart grid. Ini mencakup penggunaan sensor untuk optimasi konsumsi listrik di gedung-gedung, lampu jalan pintar yang menyesuaikan intensitas cahaya berdasarkan kebutuhan, hingga pengelolaan sampah menjadi energi.
Bagi kota-kota di Indonesia, tantangan energi sangat besar. Ketergantungan pada energi fosil, kebutuhan pasokan listrik yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan industri, serta isu keberlanjutan lingkungan, mendorong kota-kota untuk mencari solusi cerdas. Beberapa kota telah mulai menginisiasi program lampu jalan bertenaga surya atau bahkan pilot proyek smart building untuk efisiensi energi. Namun, skala dan keberlanjutan proyek-proyek ini masih membutuhkan dorongan kuat, terutama dalam hal pendanaan dan dukungan kebijakan yang konsisten.
Lebih dari sekadar membahas layanan spesifik, Estevez dan Janowski menekankan perlunya pendekatan holistik. Buku ini mengulas pentingnya infrastruktur dasar yang kuat, konektivitas yang merata, pengelolaan data besar (big data), dan data terbuka (open data). Sebuah kota cerdas, dalam pandangan mereka, membutuhkan perencanaan bertahap (phasing), model pendanaan yang inovatif, perubahan pola pikir masyarakat dan birokrasi, peningkatan keterampilan sumber daya manusia (reskilling), dan standarisasi sistem.
Kondisi kota-kota di Indonesia menggambarkan tantangan kompleks dalam mewujudkan visi holistik ini. Meskipun kota-kota metropolitan seperti Jakarta atau Bandung memiliki tingkat konektivitas yang tinggi, masih banyak kota menengah dan kecil yang tertinggal dalam hal infrastruktur digital. Pemanfaatan big data untuk pengambilan kebijakan publik juga masih dalam tahap awal. Tantangan terbesar, mungkin, adalah mengubah pola pikir dari sekadar mengadopsi teknologi menjadi membangun ekosistem cerdas yang benar-benar transformatif, melibatkan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan, dari pemerintah, swasta, akademisi, hingga warga biasa.
Buku ini juga tidak abai terhadap kritik dan tantangan dari konsep kota cerdas. Para editor menyoroti kekhawatiran tentang obsesi terhadap teknologi yang kadang mengabaikan dampak sosial, potensi eksklusi bagi kelompok miskin yang tidak melek digital, hingga masalah privasi dan pengawasan berlebihan. Di Indonesia, isu-isu ini sangat relevan. Apakah proyek kota cerdas hanya akan memperlebar jurang kesenjangan digital? Bagaimana memastikan bahwa data pribadi warga terlindungi di tengah ekosistem yang serbaterhubung? Dan yang terpenting, apakah teknologi ini benar-benar menyelesaikan masalah akar rumput masyarakat, atau hanya menciptakan lapisan solusi baru yang menguntungkan segelintir pihak?
Pada akhirnya, “Smart Cities and Smart Governance” adalah bacaan penting bagi para pengambil kebijakan, perencana kota, dan akademisi di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa kota cerdas bukan hanya tentang teknologi canggih atau aplikasi yang mutakhir, melainkan tentang tata kelola yang cerdas, keberanian berinovasi, dan keselarasan antara kemajuan teknologi dengan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Kota-kota di Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi, namun jalan menuju kota cerdas yang berkelanjutan masih panjang, menuntut kolaborasi lintas sektor dan komitmen tak tergoyahkan untuk merangkul semua elemen masyarakat dalam perjalanannya.
Penulis adalah Dosen Universitas Bung Hatta
